Rabu, 22 April 2009

Doa Pembebasan I

DOA PEMBEBASAN I: 

Siapa yang Dapat Berdoa untuk Pembebasan  



 
  Dalam sejarah mula-mula pada Gereja Awali setiap orang beriman, yaitu setiap orang kristen yang dipenuhi Roh Kudus dapat melakukan doa untuk mengusir setan. Seperti yang dapat dijumpai pada penutup Injil Markus yang menyatakan : “Tanda-tanda ini akan menyertai orang yang percaya, mereka akan mengusir setan-setan demi NamaKu, mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit dan orang itu akan sembuh”. Jadi sudah menjadi kesadaran dalam Gereja bahwa orang beriman diberi kuasa untuk melakukan doa pembebasan. Demikian juga kalau dilihat dalam Kisah Para Rasul dapat dijumpai bahwa bagaimana orang-orang Kristen yang pertama juga melakukan doa-doa pembebasan itu. Seperti yang dilakukan Filipus di Samaria, dia mengusir banyak setan-setan. Filipus ini merupakan salah satu dari beberapa diakon yang telah dipilih.  

  Hal-hal yang demikian dapat juga dilakukan oleh murid-murid yang lain, sehingga dapat disimpulkan pada awalnya semua orang Kristen yang percaya diberi kuasa oleh Tuhan dan doa pembebasan waktu itu tidak dibatasi.

  Tetapi dalam perkembangan selanjutnya dalam sejarah Gereja, dalam waktu yang relatif singkat, ada kelompok-kelompok tertentu yang ditugaskan melakukan doa ini, khususnya ketika Gereja mulai diakui dan tidak berada dalam situasi penganiayaan, ada kelompok-kelompok yang disebut para eksorsis, yaitu orang-orang yang ditahbiskan secara khusus, yang boleh secara khusus melakukan pengusiran setan. 

  Orang-orang tertentu yang dipilih khusus, karena kemungkinan pada waktu itu, di mana jarak waktu yang terpisah cukup jauh dari para rasul, sehingga terjadi penyelewengan-penyelewengan dari pengajaran para rasul atau ajaran para rasul ditangkap secara keliru. Lebih-lebih karena dengan menjadi Kristen, kalau sebelumnya mempunyai banyak resiko dan dianggap sebagai suatu kejahatan, sehingga bisa ditangkap dan dihukum mati, tetapi kemudian pada saat itu setelah agama Kristen diterima, bahkan dijadikan agama negara, yaitu pada masa pemerintahan kaisar Konstantinus, maka ada orang-orang yang mencari keuntungan-keuntungan sosial dengan menjadi Kristen, sehingga karena motivasi yang tidak murni, maka kualitas orang-orang Kristen juga menurun. 

  Tetapi pada waktu itu juga dalam perjalanan waktu banyak terjadi penyalahgunaan dan penyelewengan-penyelewengan, karena mungkin orang kurang mengerti atau kurang siap, dsb; sehingga dibentuk suatu kelompok yang dididik secara khusus dan untuk membedakan mereka dengan yang lain-lain, mereka diberi tahbisan sebagai eksorsis dan mereka itu umumnya bukan imam. Sehingga pada waktu itu ada kelompok tertentu yang dididik dan diberi wewenang secara khusus untuk berdoa pembebasan.

  Dalam perjalanan waktu prakteknya berubah, di mana tahbisan eksorsis ini hanya diberikan kepada seorang imam. Dahulu sebelum menerima tahbisan imam, seorang calon imam umumnya menerima tahbisan-tahbisan yang bermacam-macam, yang disebut tahbisan kecil, misalnya tahbisan alkolit, sekarang alkolit ini sama dengan misdinar, tetapi dahulu harus melalui tahbisan alkolit terlebih dahulu. Kemudian di antara tahbisan-tahbisan kecil itu, tahbisan eksorsis termasuk di dalamnya. Akhir-akhir ini tahbisan eksorsis dihapuskan. 

  Dewasa ini prakteknya memang berbeda, walaupun dari Tahta Suci ada instruksi, supaya di tiap-tiap keuskupan ditunjuk seorang eksorsis resmi, tetapi di Indonesia tidak ada eksorsis resmi. Kalau dahulu para eksorsis umumnya bukan imam, tetapi sekarang yang dapat melakukan eksorsisme resmi hanya seorang imam, tetapi tidak setiap imam, hanya imam yang telah ditunjuk uskup dan berpengalaman dalam bidang ini. 

  Di kota Roma sendiri, ada seorang eksorsis resmi yang terkenal yaitu Don Amorf, yang juga menulis buku berjudul “Journal of An Exorcist”, buku ini melukiskan bagaimana pengalaman dia harus bergumul dalam mendoakan dan membebaskan orang, yang kadang-kadang memakan waktu yang cukup lama.

  Demikian perkembangannya, tetapi dewasa ini prakteknya memang berubah, karena selama beberapa dekade terakhir, dalam Gereja kurang disadari bahkan diragukan akan eksistensi setan.

  Istilah setan ini sama dengan istilah roh jahat. Sedangkan seperti di Jawa ada pelbagai istilah, misalnya tuyul, seperti anak kecil yang suka mencuri uang, maka orang memelihara tuyul supaya kaya. Kemudain ada genderuwo, kuntilanak, wewe gombel, sundel bolong, peri, hantu, jin. Jenis-jenis roh jahat itu diberi nama macam-macam, karena setiap daerah mempunyai tradisinya sendiri. Pelbagai macam nama seperti itu, untuk mengungkapkan realitas setan, yang kita sebut semuanya sama, yaitu roh jahat. 

  Roh jahat itu bukan lain daripada malaikat-malaikat yang jatuh, mereka memberontak kepada Allah, dan karena kodrat malaikat mereka yang mulia, maka pemberontakan itu merupakan penyangkalan terhadap kodrat mereka sendiri, sehingga tidak ada pertobatan bagi malaikat-malaikat yang telah berbuat dosa (2 Ptr 2:4). Seperti pada dunia malaikat, dalam dunia roh jahat juga mempunyai hierarki, rajanya yang disebut iblis atau Lucifer, kemudian di bawahnya malaikat-malaikat lain yang telah jatuh, sehingga ada hierarkinya, yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan jahat yang berbeda-beda. Ada bermacam-macam, tetapi tidak perlu terlalu diperhatikan, cukup bila disadari bahwa ada realitas dunia roh yang berbeda-beda, dengan nama yang berbeda-beda, tetapi bagi kita cukup menyebutnya dengan istilah roh jahat. Dan menurut iman Katolik, mereka ini adalah malaikat-malaikat yang jatuh.

  Di samping itu juga ada realitas roh-roh manusia yang mengganggu, yaitu roh-roh yang minta tolong didoakan, hal ini dapat kita ketahui dalam retret pohon keluarga, dimana melalui retret itu kita mau mendoakan arwah leluhur kita dan memohon kepada Tuhan untuk mematahkan ikatan-ikatan dan pengaruh-pengaruh negatif yang ada dalam pohon keluarga kita. Dari iman Gereja dapat diketahui bahwa ada tiga kemungkinan kalau orang meninggal dunia : kalau dia suci sekali, tidak ada noda dosa lagi, dia akan langsung masuk Surga, tetapi mungkin kebanyakan harus lebih dulu dimurnikan lewat api penyucian, atau tempat pemurnian / purgatorium. Sedangkan kalau dia itu jahat sekali, dia menolak Tuhan, maka dia akan masuk neraka, dan roh-roh yang di neraka juga bisa ikut mengganggu, sehingga dapat juga disebut roh jahat. 

Jenis-jenis doa pembebasan:

1. Eksorsisme resmi 
Untuk kasus-kasus berat dan hanya dapat dilakukan oleh seorang imam dengan izin uskup, dengan syarat:
• seorang yang suci
• bijaksana dan berpengalaman dalam eksorsisme
• memiliki karisma untuk eksorsisme
• dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus, karena lawan yang dihadapi berat.

  Dalam situasi / disiplin Gereja sekarang ini, eksorsisme resmi ini hanya dapat dilakukan oleh seorang imam yang ditunjuk oleh uskup. Seorang eksorsisme resmi akan melakukan pengusiran setan sebagai petugas Gereja dan resmi atas nama Gereja, dan di situlah kekuatannya. Jadi biasanya menangani kasus-kasus yang berat. Mengenai eksorsisme resmi ini tidak pelu diperhatikan, karena di antara kita tidak akan ada yang diangkat sebagai seorang eksorsis resmi.
 
2. Eksorsisme privat, atau biasanya disebut “doa pembebasan”

  Eksorsisme privat ini bukanlah sesuatu yang baru di dalam Gereja, bahkan sebelum konsili Vatikan II, hal ini sudah dikenal dalam buku-buku pegangan para imam, misalnya: buku-buku tentang moral, di situ dibahas tentang eksorsisme resmi dan eksorsisme privat, bahkan dalam buku-buku moral ada nasihat-nasihat kepada para imam, khususnya kepada para imam yang mendengarkan pengakuan dosa, seandainya kalau dalam menerimakan pengakuan, imam tersebut merasa ada gangguan roh jahat dalam diri orang yang mengaku, supaya dalam pengakuan itu imam tersebut mendoakan pembebasan. 

  Bisa dilakukan dalam sakramen pengakuan, setelah memberikan absolusi, dia dapat mendoakan pembebasan. Dan memang dengan kedudukannya sebagai imam, yang mempunyai tahbisan, hal ini tentunya lebih menguntungkan. Tetapi doa pembebasan juga dapat dilakukan oleh setiap orang yang percaya, melalui sakramen pembaptisan, setiap orang Kristen menerima imamat umum, sehingga dengan imamat umum itu juga dapat melayani.

  Bahkan dahulu pada para konselor yang umumnya ialah para imam, misalnya dalam sebuah buku yang dahulu terkenal sekali, khususnya sebelum Konsili Vatikan II, ada seorang pengarang rohani yang bernama “Tanguery”, dia menulis tentang spiritualitas. Buku ini dahulu menjadi buku pegangan setiap imam, buku pegangan yang sangat mendetail dan rinci mengenai hidup rohani, bimbingan rohani, dll. (Dalam terjemahan Inggrisnya ada 1400 halaman). Dahulu para imam dan calon imam semua harus mempunyai buku itu dan dipelajari sungguh-sungguh, kalau sekarang mungkin tidak kenal lagi buku itu. 

  Dalam buku itu juga disebutkan kepada para pembimbing rohani bahwa kalau perlu juga mendoakan eksorsisme privat untuk anak bimbingannya, kalau diperlukan. Jadi eksorsisme privat ini bukan penemuan dewasa ini, tetapi sejak dahulu sudah ada, tetapi untuk beberapa waktu lamanya dilupakan. Dan dengan munculnya pembaharuan kharismatik, setan yang kelihatannya sembunyi-sembunyi, sehingga bahkan dianggap tidak ada, tetapi sekarang oleh kuasa Roh Kudus seolah-olah dipaksa untuk muncul, untuk menyatakna diri, sehingga di sini ada konfrontasi dengan kuasa Roh Kudus. 

  Roh Kudus yang dicurahkan secara istimewa pada zaman ini, seolah-olah memaksa setan untuk unjuk diri, tampil ke depan, sehingga lebih mudah untuk diperangi. Jadi siapa yang dapat melakukan eksorsisme privat atau doa pembebasan ini? 
kebanyakan orang kristen dapat melayani dalam pembebasan untuk kasus-kasus ringan, kadang-kadang untuk mendoakan diperlukan waktu yang lama dan berkali-kali, hal ini tergantung disposisi orangnya atau kasusnya, kadang-kadang kasus roh yang kuat sekali, misalnya di dalam Injil dalam kasus Maria Magdalena dikatakan daripadanya telah diusir tujuh roh jahat, jadi bukan kasus yang ringan.
orang-orang tertentu akan sering dimintai bantuannya untuk doa pembebasan bagi kasus-kasus yang bukan posesi atau pengaruh roh yang berat. Sehingga orang yang mendoakan pembebasan, lalu mulai dari mulut ke mulut, orang tahu, jika menjumpai kasus-kasus ini untuk minta tolong si ini atau si itu. Kadang-kadang orang juga bisa memiliki intuisi untuk minta tolong seseorang yang belum sama sekali mendoakan pembebasan.
  Misalnya: kasus yang dialami seorang suster dari Konggergasi Sang Timur, setelah dia mengalami pembaharuan hidup dalam Roh, suatu ketika dia diminta mendoakan seorang pemuda yang kerasukan setan. Sudah banyak dukun-dukun dan kyai-kyai yang mencoba membebaskan pemuda itu, tetapi tidak bisa. Lalu keluarga dari si pemuda itu minta suster itu mendoakan. Suster itu akhirnya menyanggupi, ia mengajak salah satu suster yang juga telah mengalami pembaharuan hidup dalam Roh. 

  Mereka datang ke rumah pemuda itu, dan mereka ditertawakan oleh tetangga-tetangga keluarga itu, “Memangnya suster itu siapa, sudah banyak duklun-dukun dan kyai-kyai terkenal yang mencoba membebaskan pemuda itu, tetapi tidak berhasil, apalagi suster?”. Tetapi suster tersebut terus melangkah dalam iman, ia masuk ke kamar pemuda itu. Pemuda itu dalam keadaan telanjang, memandang mereka dengan mata buas, tetapi suster-suster itu tidak gentar, yang mereka tahu hanya doa dalam bahasa Roh. Maka sambil memandang mata pemuda itu, mereka terus berdoa dalam bahasa Roh. Dan akhirnya pemuda itu lemas dan sadar, kemudian minta dikenakan baju. Beberapa hari kemudian pemuda itu bersama keluarganya datang ke susteran dan minta supaya dapat menjadi Katolik. Ketika ditanya mengapa mau menjadi Katolik, mereka menjawab: “Karena Allah yang suster ikuti sungguh-sungguh Allah yang hidup”.

  Kebanyakan dari orang-orang yang telah dipersiapkan untuk hal itu akan dapat melayani doa-doa pembebasan. Namun ada juga sekelompok orang yang sebaiknya tidak melayani doa pembebasan, karena seperti dikatakan rasul Paulus “ada pelbagai macam pelayanan, tetapi satu tubuh”, sehingga dalam satu tubuh ada yang dipakai untuk mendoakan penyembuhan, ada yang dipakai mendoakan pembebasan, ada yang dipakai untuk pelayanan dalam bidang sosial,dsb; maka di bawah ini diberi catatan siapa-siapa yang tidak cocok untuk pelayanan ini, yaitu:

1) Orang yang terlalu sensitif dan juga terbuka untuk serangan si jahat
  Kalau orang melayani, kadang-kadang dapat terjadi yang biasa disebut dengan istilah “transfer”, jadi roh yang diusir masuk ke anggota tim yang melayani. Kalau ada orang seperti ini, terlalu sensitif dan terbuka terhadap serangan si jahat, maka sebaiknya tidak melayani. Karena itu dalam doa pembebasan diperlukan tim yang terdiri dari orang-orang yang sudah cukup matang dan solid, bukan orang yang baru mulai. Orang yang baru mulai sebaiknya tidak ikut, biar lebih mengendap dulu, dan menjadi lebih matang. 

2) Orang yang tidak tahu membedakan antara kebutuhan untuk doa pembebasan dan penyembuhan batin
  Jadi kalau orang tidak tahu membedakan bisa payah, bahkan fatal. Diagnosa itu sangat penting, apa yang menjadi penyebab seseorang terganggu atau mengalami manifestasi tidak terkendali, apa karena gangguan roh jahat atau karena luka batin ?

3) Orang yang senang memakai kuasa dan yang semangatnya untuk memerangi setan diungkapkan dalam kemarahan terhadap si kurban
  Suatu ketika di Ngadireso, Romo Yohanes bersama beberapa orang suster sedang menangani seseorang untuk doa pembebasan, tiba-tiba datang seorang pemuda yang tidak diundang, pasien itu dipukuli sambil dia mengusir setan, akhirnya pemuda itu yang disuruh pergi. Sebab kalau dipukuli, yang sakit bukan setannya tetapi orangnya. Harus diingat kita tidak boleh menyakiti pasien yang kita layani.

4) Orang yang kurang pengalaman dan pengetahuan
  Sebaiknya orang-orang semacam ini belajar dan ikut bersama dengan orang yang sudah lebih berpengalaman dan punya nama baik. Sebaiknya orang yang baru bertobat jangan dulu melayani, mereka harus lebih dulu bertumbuh dalam iman, supaya jangan sampai transfer, dsb. Setelah bertumbuh, cukup matang dan merasa terpanggil untuk pelayanan ini, bisa ikut pelayanan dengan orang-orang yang lebih berpengalaman. Jadi perlu belajar lebih dahulu pada orang-orang yang berpengalaman dan punya nama baik, serta pelayanannya sehat. Jangan ikut melayani pada kelompok-kelompok tertentu yang cenderung melihat setan di mana-mana dan pelayanannya dilakukan dengan cara yang aneh-aneh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar