Orang Yahudi Amerika Utara dan Selatan
______________________________ e-JEMMi _____________________________
(Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI
EDITORIAL
PROFIL BANGSA: Orang Yahudi Amerika Utara dan Selatan
SUMBER MISI: Bajio Christian Mission
TOKOH MISI: A.W. Tozer (1897 -- 1963)
DOA BAGI MISI DUNIA: Kolombia, Cina
DOA BAGI INDONESIA : Banjir Melanda Banyak Wilayah di Indonesia
______________________________________________________________________
ALL WHO ARE BORN OF GOD SHOULD DEVELOP A LIKENESS TO THE FATHER
______________________________________________________________________
EDITORIAL
Shalom,
Mengenal lebih dekat sekelompok orang atau bangsa tertentu merupakan
sebuah pengalaman unik. Karena selain menambah wawasan dan
pengetahuan, mengenal mereka juga merupakan sarana bagi kita untuk
menjalankan Amanat Agung, yaitu memenangkan semua bangsa, di mana
pun mereka berada, bagi Kristus. Orang Yahudi, khususnya yang
tinggal di Amerika Utara dan Selatan, adalah salah satu dari sekian
banyak etnik di dunia yang memiliki keunikan tersendiri. Selain
dikenal sebagai kaum cendekiawan, dalam sejarah Alkitab pun bangsa
ini disebut sebagai nenek moyang bangsa Israel. Sebenarnya, apa yang
menjadi kelebihan dari bangsa ini? Seperti apakah kehidupan mereka?
Apa yang menjadi kepercayaan mereka? Apa yang menjadi kebutuhan
mereka dan apa yang perlu kita doakan untuk mereka? Untuk mengetahui
jawabannya, silakan Anda membaca sajian e-JEMMi minggu ini.
Selamat membaca.
Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
PROFIL BANGSA
ORANG YAHUDI AMERIKA UTARA DAN SELATAN
Orang Yahudi mewakili agama monoteis tertua era modern. Karena
keunikan-keunikan sejarah dan budaya mereka, orang Yahudi memiliki
identitas yang kuat. Penganiayaan dan diskriminasi terhadap mereka
mengakibatkan orang Yahudi bermigrasi dan menetap di seluruh penjuru
dunia.
Meskipun mereka menganut budaya dan agama yang sama, orang Yahudi di
Amerika Utara dan Amerika Selatan memiliki gaya hidup yang berbeda.
Komunitas Yahudi di Amerika Selatan mulai terbentuk dari Konversos
(orang-orang Yahudi yang dipaksa mengikuti ajaran Katolik) yang
menemani para penjelajah Spanyol dan Portugis. Akan tetapi, sebagian
besar imigran Yahudi di Amerika datang dari Eropa Tengah, Eropa
Timur, serta Timur Tengah pada akhir tahun 1800-an. Meskipun
sebagian besar berbahasa Inggris atau Spanyol, dialek khas orang
Yahudi yang lain masih tetap digunakan. Yiddish, dialek Jerman
dengan unsur Ibrani, menjadi bahasa pergaulan keturunan orang Eropa,
sementara Ladino, campuran bahasa Spanyol dan bahasa Ibrani, sering
digunakan oleh para keturunan Spanyol. Bahasa Ibrani adalah bahasa
yang digunakan dalam doa bagi kebanyakan orang-orang Yahudi
Ortodoks.
SEPERTI APAKAH KEHIDUPAN MEREKA?
Di Amerika Utara, sebagian besar orang Yahudi tinggal di daerah kota
di pesisir timur atau barat. New York mengayomi populasi orang
Yahudi terbanyak di Amerika Utara, dengan lebih dari setengah juta
orang Yahudi Hassidic saja. Di Amerika Selatan, mereka juga tinggal
di kota, namun tetap memelihara status mereka sebagai etnik
minoritas dengan agama yang berbeda.
Sementara mempertahankan identitas Yahudinya, mayoritas orang Yahudi
Amerika Utara menyesuaikan diri dengan budaya Amerika. "Keyahudian"
sering ditunjukkan terutama dalam situasi-situasi sekuler, seperti
penggunaan bahasa Yiddish dan tradisi keluarga, ketimbang di bidang
keagamaan, seperti mengikuti hukum orang Yahudi perihal pembatasan
menu makan.
Tidak semua orang Yahudi religius. Beberapa orang menganggap
keyahudian mereka hanya sebagai identitas sosial dan budaya. Sejak
kecil, mereka sudah tahu apa artinya menjadi orang Yahudi. Pemahaman
itu didapat di rumah melalui penyampaian cerita dan dengan terlibat
dalam ritual-ritual dan upacara-upacara Yahudi, seperti Rosh
Hashanah (Tahun Baru), Yom Kippur (Hari Pengampunan Dosa), dan
Paskah. Proses sosialisasi juga terjadi melalui keterlibatan dalam
sekolah Ibrani atau sinagoge pemuda.
Pada usia 13 tahun, upacara Bar Mitzvah untuk anak laki-laki (atau
Bar Mitzvah untuk anak perempuan) merupakan tata cara upacara
penting, yang menandai masuknya anak itu menjadi anggota dewasa
dalam masyarakat. Walaupun pada masa lampau upacara tersebut lebih
spiritual sifatnya, upacara tersebut kini menjadi sama pentingnya
dengan kegiatan sosial.
Perkawinan dan hubungan keluarga di antara orang Yahudi hampir sama
dengan orang Amerika. Meski orang Yahudi memiliki sedikit anak,
mereka sangat memerhatikan anak, baik hati, dan memberi banyak
kebebasan. Walaupun para istri biasanya menggunakan nama keluarga
suami mereka, identitas orang Yahudi diurutkan dari pihak ibu.
Artinya, jika seorang anak memiliki ibu seorang Yahudi, maka menurut
hukum Yahudi, dia adalah orang Yahudi. Dia memiliki segala hak dan
hak istimewa yang dibawa statusnya, termasuk hak untuk bermigrasi ke
Israel dan menetap menjadi penduduk di sana.
Orang Yahudi Amerika Utara dan Selatan sebagian besar berdagang dan
bekerja dalam bidang profesi. Mereka sangat baik dalam usaha kecil
dan menengah, industri komunikasi dan hiburan, obat-obatan, hukum,
dan akuntansi. Di Amerika Selatan, para eksekutif Yahudi betul-betul
berhasil. Meskipun demikian, semakin berhasil para eksekutif Yahudi
di Amerika Selatan, semakin besar pula kecenderungan mereka untuk
berasimilasi dalam masyarakat Eropa Kristen.
APA KEPERCAYAAN MEREKA?
Bagi orang Yahudi yang religius, Tuhan adalah Yang Mahatinggi,
Pencipta alam semesta, dan Hakim tertinggi bagi manusia. Selain itu,
keyakinan beragama masyarakat Yahudi sangat beragam. Orang Yahudi
Ortodoks pada umumnya mengikuti kepercayaan agama tradisional dan
praktik-praktik yang ditemukan dalam kesusastraan Yahudi, yang
menafsirkan Injil mengenai masalah etika, agama, pemerintahan, dan
kejahatan. Orang Yahudi konservatif kurang tradisional dibandingkan
dengan Ortodoks, dan mereka menggabungkan etika, filosofi, dan
gagasan tentang sekolah rohani yang berbeda. Kaum Yahudi Reform
adalah yang paling liberal dan menafsirkan kepercayaan dan ritual
Yahudi dalam terang hidup dan pikiran kontemporer. Mereka tidak
yakin kalau Hukum Yahudi dinyatakan secara ilahi. Mereka tidak
dibatasi oleh makanan halal (disetujui secara tradisi). Mereka juga
tidak harus memakai peci (yarmulke) ketika berdoa atau menggunakan
bahasa Ibrani dalam doanya. Semua orang Yahudi yang religius percaya
akan datangnya Era Mesianik (Messianic Age), tapi hanya Yahudi
Ortodoks yang mencari pribadi Mesias.
APA YANG MENJADI KEBUTUHAN MEREKA?
Orang Yahudi memiliki pemahaman yang luar biasa tentang keterkaitan
mereka dengan perjanjian Abraham. Namun demikian, mereka juga
memiliki sejarah menolak Yesus Kristus sebagai Mesias, Pribadi yang
menggenapi perjanjian tersebut. Berdoalah supaya ketika Injil
diberitakan, hal itu tidak akan dianggap sebagai antisemitik, tapi
lebih kepada penggenapan janji Allah atas manusia melalui Abraham
berabad-abad yang lalu.
POKOK DOA
1. Mintalah Tuhan yang Empunya tuaian untuk mengirimkan orang-orang
Kristen yang penuh kasih untuk bekerja di tengah-tengah
masyarakat Yahudi.
2. Mintalah agar Roh Kudus memberikan hikmat dan pertolongan kepada
misi yang sasarannya adalah orang Yahudi Amerika Utara dan
Selatan.
3. Berdoalah supaya saat orang Yahudi menonton film tentang Yesus,
mereka bisa memahami bahwa Yesus itulah Mesias yang sudah lama
dinantikan.
4. Mintalah kepada Tuhan untuk melembutkan hati orang Yahudi
terhadap orang Kristen sehingga mereka bisa mendengar dan
menerima berita keselamatan.
5. Berdoalah agar Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya kepada orang
Yahudi melalui mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan.
6. Berdoalah agar Tuhan memberi pertolongan kepada orang-orang
Kristen Yahudi saat mereka menyaksikan iman mereka kepada
bangsanya.
7. Doakan agar Roh Kuduslah yang mengambil alih kekuasaan
pemimpin-pemimpin rohani dan penguasa yang mengikat orang Yahudi.
8. Berdoalah agar gereja-gereja lokal dibangkitkan untuk menarik
masyarakat Yahudi. (t/Setyo)
Bahan diterjemahkan dari sumber:
Nama situs: Joshua Project
Judul asli artikel: Jew of El Salvador
Penulis: Tidak dicantumkan
Alamat URL: http://www.joshuaproject.net/peopctry.php?rop3=109538&rog3=ES
Selasa, 24 November 2009
CHINA – DIMETERAIKAN OLEH ROH ALLAH!
(CHINA – SEALED BY GOD’S SPIRIT! )
Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Purwanto
Khotbah ini dikhotbahkan di Kebaktian Minggu Malam, 17 Agustus 2008
di Baptist Tabernacle of Los Angeles
“Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!” (Wahyu 7:3).
Semua mata telah tertuju ke China. Olympiade di Beijing telah ditonton oleh jutaan tak terhitung jumlahnya orang di seluruh dunia melalui televisi. Ekonomi China sedang meledak, bertumbuh paling cepat dari semua negara di bumi ini. Namun hal yang mengejutkan tentang China adalah pertumbuhan Kekristenan di dua puluh lima tahun terakhir ini.
David Aikman, mantan Pimpinan Kantor majalah Time di Beijing, dalam bukunya, Jesus in Beijing (Regnery Publishing, Inc., 2003) berkata,
China sedang dalam proses menjadi Kristen. Itu tidak berarti bahwa semua orang China akan menjadi orang-orang Kristen, atau bahkan mayoritas akan menjadi Kristen. Namun pada hari ini tingkat pertumbuhan jumlah orang Kristen di seluruh negeri ini, di kota-kota, dan khususnya di antara lembaga sosial dan budaya yang dibangun di China, kemungkinan ini orang-orang Kristen lah yang akan membuatnya… 30 persen dari jumlah penduduk China pada tiga decade [sekarang 25 tahun, sejak buku ini ditulis tahun 2003]… Dengan tingkat pertumbuhan 7 persen per tahun, jumlah orang Kristen di China telah menyebabkan jumlah orang-orang Kristen di kebanyakan negara di dunia menjadi nampak tidak ada apa-apanya. Sebagaimana orang-orang Kristen yang sedang berkembang di seluruh [belahan dunia lainnya], orang-orang Kristen di China merepresentasikan suatu barisan [di garis terdepan] dari gereja pada abad dua puluh satu ini… penyebaran orang-orang China ke Asia dan ke belahan bumi sebelah selatan pada dua decade terakhir ini mungkin akan berefek kepada Kekristenan pada skala global. Hal ini dengan baik telah digambarkan oleh Philip Jenkins dalam bukunya The Next Christendom… Yang layak dipertimbangkan bukan hanya kemungkinan bahwa bukan hanya jumlah kwantitasnya, namun menjadi pusat gravitasi intelektual yang mungkin dengan jelas akan menarik Kekristenan pindah keluar dari Eropa dan Amerika ketika China menjadi Kristen dan China menjadi kekuatan superpower secara global… Akankah abad dua puluh satu ini menjadi abad bagi China di dunia ini?... Itulah yang telah diperdebatkan dalam buku ini bahwa Kekristenan akan mengubah natur China dalam banyak cara selama beberapa decade ke depan, dan dalam pelaksanaannya akan mengubah dunia di mana kita tinggal (David Aikman, Jesus in Beijing: How Christianity is Transforming China and Changing the Global Balance of Power, Regnery Publishing, Inc., 2003, pp. 285, 291, 292).
Namun kita perlu diingatkan bahwa kebangunan rohani yang sedang melanda China sekarang ini tidak datang dengan mudah. Menggunakan kata-kata Churchill, itu hanya datang dengan “darah, kerja keras, keringat dan air mata.” Itu hanya datang melalui pertempuran berdarah dengan Setan yang bertahan lebih dari 100 tahun. Saya dapat menjelaskan kepada Anda tentang Pemberontakan Petinju (Boxer Rebellion) pada tahun 1900. Riley K. Smith berkata,
Para Petinju ini memiliki kebencian yang mendalam terhadap orang-orang Kristen… Mereka yakin [Kaisar wanita, Tzu His] bahwa para misionaris sedang mencuri roh-roh orang China dan mencungkil mata anak-anak China untuk dijadikan obat oleh mereka. Kaisar wanita itu mengambil tindakan melawan “para iblis kulit putih,” dan pada 21 Juni 1900 mengeluarkan perintah rahasia untuk membunuh semua orang asing. Pembunuhan mulai… para Petinju mulai membinasakan kota-kota… mereka membawa daftar nama-nama gereja dan mendatangi dari pintu satu ke pintu lain untuk melumpuhkan dan memancung banyak misionaris dan orang-orang Kristen China… Salah satu tempat pembantaian yang paling berdarah ada di ibu kota Shanxi, Taiyuan. Dengan perintah menutup pintu gerbang kota itu, semua orang asing terjebak di dalamnya.
Pada akhir Juni 1900, banyak gerombolan membakar orang-orang Baptis Inggris dan misi campuran Shao Yang. Para misionaris dan kelompok orang-orang Kristen China mencari perlindungan di sekolah Baptis setengah mil perjalanan. Setelah mereka tiba, salah satu dari para misionaris, Edith Coombs, sadar bahwa ia telah meninggalkan dua anak gadis China di belakang. Ia berlari kembali ke antara bangungan yang sedang terbakar itu, ia menyelamatkan gadis-gadis itu namun ia ditangkap oleh gerombolan orang itu dan disudutkan ke nyala api itu. Tindakan akhir Edith adalah berlutut [berdoa] dalam api ketika api itu mulai membakarnya….
Para misionaris dan orang-orang Kristen China yang bersama dengan mereka diburu, dilempari baru, dan dipenggal lehernya. Kepala mereka digantung di kota-kota sebagai peringatan bagi semua orang… Misalnya seorang misionaris yang bernama Carl Lundberg, yang mencoba melarikan diri bersama para misionaris yang menjadi pengikutnya dan anak-anak mereka ke Mongolia… Ia menulis, “Jika kami tidak dapat melarikan diri, ceritakanlah kepada teman-teman kami bahwa kami hidup dan mati bagi Tuhan. Saya tidak menyesal datang ke China. Tuhan memanggil kami dan anugerah-Nya cukup bagiku… Maklumilah tulisan tanganku ini, aku menulis sambil gemetaran.” Ia bersama yang lainnya [segera] dipancung.
Orang-orang Kristen China tidak terhindar dari pembantaian itu. Banyak dari mereka ditawarkan kebebasan hanya bila mereka mau meninggalkan Kristus. Beberapa orang mengaku salah; banyak yang tidak mau. Salah satu yang menolak adalah seorang laki-laki yang dikenal sebagai Yen “Yang Setia”, yang bersama dengan istrinya diikat disebuah tiang di kuil penyembahan berhala.. Para Petinju dengan brutal memukuli mereka dengan tongkat pemukul dan kemudian menyalakan api di bawah mereka, membakar kaki mereka. Namun keluarga ini masih menolak untuk menyangkal Kristus. [Akhirnya] orang-orang gila itu [para Petinju] membebaskan Ny. Yen, namun suaminya tidak begitu beruntung. Para Petinju itu melemparkan tubuhnya ke [tumpukan kayu] untuk dibakar dan menyulut kayu itu [dengan api]. Ketika tubuhnya terbakar dalam nyala api itu [seorang tentara mencoba untuk menyelamatkannya]. Tentara itu dicincang berkeping-keping. Karena marah terhadap kebrutalan tersebut, kemudian para tentara memburu para Petinju itu keluar kuil dan mengambil Tuan Yen, yang telah terbakar namun masih setengah hidup, kepada hakim, orang yang melemparkan [Tuan Yen] ke dalam penjara di mana… ia mati.
Ketika pembantaian itu akhirnya surut, lebih dari 30,000 orang Kristen China yang telah menjadi martir. Dalam buku The China Martyrs of 1900, Robert Coventry Forsythe menulis, “Pembantaian yang dilakukan oleh para Petinju ini menyebabkan banyak orang Protestan yang menjadi martir lebih banyak dari semua dekade-dekade sebelumnya dalam sejarah gereja-gereja Protestan di China… banyak orang menderita penyiksaan yang tak terkatakan, dan banyak orang lebih baik mati dari pada sesat” (Riley K. Smith, China: The Blood-Stained Trail, Living Sacrifice Book Company, 2008, hal. 46, 47, 49, 50, 51).
Atau saya dapat menjelaskan kepada Anda tentang penganiayaan oleh orang-orang Jepang yang fanatik yang membunuh banyak orang Kristen ketika mereka menaklukkan China pada Perang Dunia II. Mantan Pendeta saya, Dr. Timothy Lin, yang pernah menjadi pimpinan panti asuhan, istri dan anak perempuannya masuk kapal untuk melarikan diri. Pesawat-pesawat Jepang terbang dan menembaki kebanyakan orang yang ada dalam kapal itu, membunuh istri dan anak perempuan Dr. Lin. Dr. Lin jatuh sebelum mencapai kapal itu dan lehernya retak, dan kemudian ia melarikan diri dari tembakan-tembakan itu. Ia hampir mati karena lehernya yang retak itu, namun ia hidup dan segera datang ke Amerika, di mana ia menjadi gembala saya dan mengajar beberapa tahun. Seperti Pastor Wurmbrand, Dr. Lin adalah martir yang masih hidup, orang yang hidup setelah hampir mati menjadi martir, namun melarikan diri untuk dapat berbicara tentang Kristus sebagai ganti bagi mereka yang telah mati.
Atau saya dapat menceritakan kepada Anda tentang orang-orang di China yang telah menderita dan mati di bawah penganiayaan diktator Komunis Mao Tse Tung, pada masa “Revolusi Budaya” tahun 1966-1969. Namun saya akan membiarkan Pastor Richard Wurmbrand yang melakukan itu. Saya kenal baik Pastor Wurmbrand. Ia pernah berbicara beberapa kali di gereja kita. Ia adalah pendiri dari “The Voice of the Martyrs” [di Indonesia “Kasih Dalam Perbuatan”]. Ia, juga, adalah seorang martir yang masih hidup, yang telah menghabiskan 14 tahun dalam kamp konsentrasi Komunis Rumania. Tiga tahun dari antara tahun-tahun ini ia disiksa tanpa batas di tempat terpencil, tidak pernah mendengar suara manusia atau melihat sinar matahari. Saya akan membiarkan Pastor Wurmbrand menceritakan kepada Anda tentang penderitaan orang-orang Kristen China di bawah Mao Tse Tung, pada masa “Revolusi Budaya.”
Penderitaan Gereja Tionghoa melebih semua imajinasi… Dr. D. Rees, mantan misionaris ke China, menulis untuk kita, “Semua teman-teman Tionghoa saya telah dibunuh atau dipenjarakan. Satu dibuat menjadi buta, satu dilemparkan ke dalam sebuah sumur, dua orang mati karena tebese, dan yang lainnya, ketika dicuci otaknya, kehilangan ingatannya dan menandatangi surat pengakuan bersalah. Ketika pikirannya kembali pulih, ia merobek-robek surat pengakuan bersalah yang pernah ia tandatangani itu. Namun Gereja Tionghoa sedang bertumbuh menjadi beribu-ribu….
Seorang dokter India, Kamun Chandah, kakinya dipotong dan matanya dicungkil di salah satu penjara China Merah.
Dalam suatu peristiwa, Vladimir Tatishtshev, seorang Rusia, ditangkap di Shanghai [China]. [Komunis] China menyiksa dengan mengikatkan tabung besi ke kakinya dengan skrup dan memukul kakinya sampai tulangnya remuk, agar dia mengakui kejahatan yang tidak pernah ia lakukan. Ketika ia menolak, polisi Komunis itu pergi ke rumahnya. Petugas itu mengambil bayinya dan mengatakan kepada istrinya, “Jika kamu tidak menandatangani surat pengakuan bersalah menentang suamimu, kami akan meremukkan kepala bayi kamu.” Ibu itu… menolak. Kemudian petugas kepolisian itu, membenturkan kepala bayi itu ke tembok… dan Komunis yang lain menembak ibu itu.
Radio Moscow mengatakan pada 7 April 1970, “Selama sepuluh tahun, lebih dari 25 juta [orang Kristen] di China telah dibinasakan. Jutaan [lainnya] dibuang ke camp-camp konsentrasi.”
Surat kabar Moscow, Krasnaia Zvezda [pada 7 Mei, 1969] menulis, “Partai Komunis China… telah membakar mata banyak orang dengan air panas dan asam sulfur, memotong [kaki] mereka dengan pisau dan memcehkan tengkorak kepala mereka dengan batu… dan masih banyak yang lainnya.”
Banyak saudara Tionghoa kami yang sedang meraba-raba sekarang dalam kebutaan mereka, [lengan dan tangan] mereka yang telah dipotong. [Namun] gereja bawah tanah sedang menjamur [dan bertumbuh] (Pastor Richard Wurmbrand, Where Christ is Still Tortured, Marshalls Paperbacks, London, 1982, hal. 130, 131).
Ketika mendengar tentang penderitaan dan penyiksaan orang-orang Kristen di China Minggu malam yang lalu yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, seseorang yang datang ke gereja kami yang telah mendengarkan khotbah itu berkata, “Mengapa begitu banyak orang menjadi Kristen di China bahkan walaupun mereka dipenjarakan dan disiksa?” Jawabannya ada dalam ayat kita ini. Pada saat datang Kesusahan Besar malaikat Tuhan akan berkata,
“Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka” (Revelation 7:3).
Ayat ini berbicara tentang 144,000 orang Yahudi yang akan berbalik kepada Kristus dan dimeteraikan oleh Roh Kudus pada dahi mereka (pikiran mereka). Kita diberitahu apa maksud dari “meterai” ini dalam Efesus 1:12-13,
“supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. 13Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” (Efesus 1:12-13).
Ketika seseorang percaya di dalam Kristus, ia dimeteraikan oleh Roh Kudus. Seperti 144,000 saksi Yahudi pada masa Kesusahan/Tribulasi, mereka dimeteraikan oleh “Allah kita pada dahi mereka” (Wahyu 7:3). Ketika Nuh masuk ke dalam bahtera sebelum Air Bah, Alkitab mengatakan, “TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh” (Kejadian 7:16). Pemeteraian Nuh ke dalam Bahtera adalah tipe tentang petobat sejati yang “dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu” (Efesus 1:13). Orang-orang Yahudi yang bertobat pada masa Tribulasi akan dimeteraikan pada dahi mereka, seperti Nuh dimeteraikan dalam Bahtera oleh Roh Allah. Sekali Allah “menutup dari dalam” dan “memeteraikan” pikiran Anda oleh Roh Allah sehingga tidak ada apapun di dunia ini yang dapat menyebabkan Anda kehilangan keselamatan Anda. Anda memiliki jaminan kekal, “dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu” (Efesus 1:13). Tidak ada penganiayaan, atau bahkan siksaan, yang dapat memisahkan Anda dari Kristus ketika Anda telah “dimeteraikan” pada “dahi” Anda.
Ini bukanlah sesuatu yang hanya akan terjadi pada para petobat Yahudi pada masa Tribulasi. Ini sedang terjadi sekarang pada ratusan ribu orang di China Komunis. Dan itu dapat terjadi pada Anda juga.
Datanglah kepada Kristus. Percayalah kepada Dia. Percayalah kepada Dia dengan segenap hati Anda. Ketika Anda melakukannya, Anda akan dilahirkan kembali. Allah akan memeteraikan pikiran Anda sehingga tidak ada masalah, atau penganiayaan, atau kesulitan yang akan dapat membuat Anda kehilangan keselamatan Anda – dan Anda akan memiliki jaminan kekal di dalam Kristus Yesus tidak peduli apa yang terjadi pada Anda! Itu adalah rahasia dari banyak martir Yahudi pada masa Tribulasi. Itu adalah rahasia para martir orang Tionghoa di China pada hari ini. Mereka percaya kepada Yesus, dan mereka diselamatkan untuk selama-lamanya. Tidak peduli apapun kesulitan dan penganiayaan yang menghampiri mereka, mereka tidak akan pernah menyerah kepada Setan atau kembali ke dunia ini.
Kristus mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman atas dosa-dosa kita. Ia mencurahkan Darah-Nya untuk menyucikan dosa-dosa kita. Datanglah kepada Dia! Percayalah kepada Dia! Ia akan menyelamatkan Anda untuk selama-lamanya, dan Anda tidak akan pernah terhilang lagi. Tidak peduli apapun pencobaan yang menghampiri Anda dalam hidup ini, Anda tidak akan meningalkan gereja Anda atau meninggalkan Kristus!
(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.”
Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto @ www.sttip.com
Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Efesus 1:5-14.
Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“From Every Stormy Wind That Blows” (by Hugh Stowell, 1799-1865).
(CHINA – SEALED BY GOD’S SPIRIT! )
Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Purwanto
Khotbah ini dikhotbahkan di Kebaktian Minggu Malam, 17 Agustus 2008
di Baptist Tabernacle of Los Angeles
“Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!” (Wahyu 7:3).
Semua mata telah tertuju ke China. Olympiade di Beijing telah ditonton oleh jutaan tak terhitung jumlahnya orang di seluruh dunia melalui televisi. Ekonomi China sedang meledak, bertumbuh paling cepat dari semua negara di bumi ini. Namun hal yang mengejutkan tentang China adalah pertumbuhan Kekristenan di dua puluh lima tahun terakhir ini.
David Aikman, mantan Pimpinan Kantor majalah Time di Beijing, dalam bukunya, Jesus in Beijing (Regnery Publishing, Inc., 2003) berkata,
China sedang dalam proses menjadi Kristen. Itu tidak berarti bahwa semua orang China akan menjadi orang-orang Kristen, atau bahkan mayoritas akan menjadi Kristen. Namun pada hari ini tingkat pertumbuhan jumlah orang Kristen di seluruh negeri ini, di kota-kota, dan khususnya di antara lembaga sosial dan budaya yang dibangun di China, kemungkinan ini orang-orang Kristen lah yang akan membuatnya… 30 persen dari jumlah penduduk China pada tiga decade [sekarang 25 tahun, sejak buku ini ditulis tahun 2003]… Dengan tingkat pertumbuhan 7 persen per tahun, jumlah orang Kristen di China telah menyebabkan jumlah orang-orang Kristen di kebanyakan negara di dunia menjadi nampak tidak ada apa-apanya. Sebagaimana orang-orang Kristen yang sedang berkembang di seluruh [belahan dunia lainnya], orang-orang Kristen di China merepresentasikan suatu barisan [di garis terdepan] dari gereja pada abad dua puluh satu ini… penyebaran orang-orang China ke Asia dan ke belahan bumi sebelah selatan pada dua decade terakhir ini mungkin akan berefek kepada Kekristenan pada skala global. Hal ini dengan baik telah digambarkan oleh Philip Jenkins dalam bukunya The Next Christendom… Yang layak dipertimbangkan bukan hanya kemungkinan bahwa bukan hanya jumlah kwantitasnya, namun menjadi pusat gravitasi intelektual yang mungkin dengan jelas akan menarik Kekristenan pindah keluar dari Eropa dan Amerika ketika China menjadi Kristen dan China menjadi kekuatan superpower secara global… Akankah abad dua puluh satu ini menjadi abad bagi China di dunia ini?... Itulah yang telah diperdebatkan dalam buku ini bahwa Kekristenan akan mengubah natur China dalam banyak cara selama beberapa decade ke depan, dan dalam pelaksanaannya akan mengubah dunia di mana kita tinggal (David Aikman, Jesus in Beijing: How Christianity is Transforming China and Changing the Global Balance of Power, Regnery Publishing, Inc., 2003, pp. 285, 291, 292).
Namun kita perlu diingatkan bahwa kebangunan rohani yang sedang melanda China sekarang ini tidak datang dengan mudah. Menggunakan kata-kata Churchill, itu hanya datang dengan “darah, kerja keras, keringat dan air mata.” Itu hanya datang melalui pertempuran berdarah dengan Setan yang bertahan lebih dari 100 tahun. Saya dapat menjelaskan kepada Anda tentang Pemberontakan Petinju (Boxer Rebellion) pada tahun 1900. Riley K. Smith berkata,
Para Petinju ini memiliki kebencian yang mendalam terhadap orang-orang Kristen… Mereka yakin [Kaisar wanita, Tzu His] bahwa para misionaris sedang mencuri roh-roh orang China dan mencungkil mata anak-anak China untuk dijadikan obat oleh mereka. Kaisar wanita itu mengambil tindakan melawan “para iblis kulit putih,” dan pada 21 Juni 1900 mengeluarkan perintah rahasia untuk membunuh semua orang asing. Pembunuhan mulai… para Petinju mulai membinasakan kota-kota… mereka membawa daftar nama-nama gereja dan mendatangi dari pintu satu ke pintu lain untuk melumpuhkan dan memancung banyak misionaris dan orang-orang Kristen China… Salah satu tempat pembantaian yang paling berdarah ada di ibu kota Shanxi, Taiyuan. Dengan perintah menutup pintu gerbang kota itu, semua orang asing terjebak di dalamnya.
Pada akhir Juni 1900, banyak gerombolan membakar orang-orang Baptis Inggris dan misi campuran Shao Yang. Para misionaris dan kelompok orang-orang Kristen China mencari perlindungan di sekolah Baptis setengah mil perjalanan. Setelah mereka tiba, salah satu dari para misionaris, Edith Coombs, sadar bahwa ia telah meninggalkan dua anak gadis China di belakang. Ia berlari kembali ke antara bangungan yang sedang terbakar itu, ia menyelamatkan gadis-gadis itu namun ia ditangkap oleh gerombolan orang itu dan disudutkan ke nyala api itu. Tindakan akhir Edith adalah berlutut [berdoa] dalam api ketika api itu mulai membakarnya….
Para misionaris dan orang-orang Kristen China yang bersama dengan mereka diburu, dilempari baru, dan dipenggal lehernya. Kepala mereka digantung di kota-kota sebagai peringatan bagi semua orang… Misalnya seorang misionaris yang bernama Carl Lundberg, yang mencoba melarikan diri bersama para misionaris yang menjadi pengikutnya dan anak-anak mereka ke Mongolia… Ia menulis, “Jika kami tidak dapat melarikan diri, ceritakanlah kepada teman-teman kami bahwa kami hidup dan mati bagi Tuhan. Saya tidak menyesal datang ke China. Tuhan memanggil kami dan anugerah-Nya cukup bagiku… Maklumilah tulisan tanganku ini, aku menulis sambil gemetaran.” Ia bersama yang lainnya [segera] dipancung.
Orang-orang Kristen China tidak terhindar dari pembantaian itu. Banyak dari mereka ditawarkan kebebasan hanya bila mereka mau meninggalkan Kristus. Beberapa orang mengaku salah; banyak yang tidak mau. Salah satu yang menolak adalah seorang laki-laki yang dikenal sebagai Yen “Yang Setia”, yang bersama dengan istrinya diikat disebuah tiang di kuil penyembahan berhala.. Para Petinju dengan brutal memukuli mereka dengan tongkat pemukul dan kemudian menyalakan api di bawah mereka, membakar kaki mereka. Namun keluarga ini masih menolak untuk menyangkal Kristus. [Akhirnya] orang-orang gila itu [para Petinju] membebaskan Ny. Yen, namun suaminya tidak begitu beruntung. Para Petinju itu melemparkan tubuhnya ke [tumpukan kayu] untuk dibakar dan menyulut kayu itu [dengan api]. Ketika tubuhnya terbakar dalam nyala api itu [seorang tentara mencoba untuk menyelamatkannya]. Tentara itu dicincang berkeping-keping. Karena marah terhadap kebrutalan tersebut, kemudian para tentara memburu para Petinju itu keluar kuil dan mengambil Tuan Yen, yang telah terbakar namun masih setengah hidup, kepada hakim, orang yang melemparkan [Tuan Yen] ke dalam penjara di mana… ia mati.
Ketika pembantaian itu akhirnya surut, lebih dari 30,000 orang Kristen China yang telah menjadi martir. Dalam buku The China Martyrs of 1900, Robert Coventry Forsythe menulis, “Pembantaian yang dilakukan oleh para Petinju ini menyebabkan banyak orang Protestan yang menjadi martir lebih banyak dari semua dekade-dekade sebelumnya dalam sejarah gereja-gereja Protestan di China… banyak orang menderita penyiksaan yang tak terkatakan, dan banyak orang lebih baik mati dari pada sesat” (Riley K. Smith, China: The Blood-Stained Trail, Living Sacrifice Book Company, 2008, hal. 46, 47, 49, 50, 51).
Atau saya dapat menjelaskan kepada Anda tentang penganiayaan oleh orang-orang Jepang yang fanatik yang membunuh banyak orang Kristen ketika mereka menaklukkan China pada Perang Dunia II. Mantan Pendeta saya, Dr. Timothy Lin, yang pernah menjadi pimpinan panti asuhan, istri dan anak perempuannya masuk kapal untuk melarikan diri. Pesawat-pesawat Jepang terbang dan menembaki kebanyakan orang yang ada dalam kapal itu, membunuh istri dan anak perempuan Dr. Lin. Dr. Lin jatuh sebelum mencapai kapal itu dan lehernya retak, dan kemudian ia melarikan diri dari tembakan-tembakan itu. Ia hampir mati karena lehernya yang retak itu, namun ia hidup dan segera datang ke Amerika, di mana ia menjadi gembala saya dan mengajar beberapa tahun. Seperti Pastor Wurmbrand, Dr. Lin adalah martir yang masih hidup, orang yang hidup setelah hampir mati menjadi martir, namun melarikan diri untuk dapat berbicara tentang Kristus sebagai ganti bagi mereka yang telah mati.
Atau saya dapat menceritakan kepada Anda tentang orang-orang di China yang telah menderita dan mati di bawah penganiayaan diktator Komunis Mao Tse Tung, pada masa “Revolusi Budaya” tahun 1966-1969. Namun saya akan membiarkan Pastor Richard Wurmbrand yang melakukan itu. Saya kenal baik Pastor Wurmbrand. Ia pernah berbicara beberapa kali di gereja kita. Ia adalah pendiri dari “The Voice of the Martyrs” [di Indonesia “Kasih Dalam Perbuatan”]. Ia, juga, adalah seorang martir yang masih hidup, yang telah menghabiskan 14 tahun dalam kamp konsentrasi Komunis Rumania. Tiga tahun dari antara tahun-tahun ini ia disiksa tanpa batas di tempat terpencil, tidak pernah mendengar suara manusia atau melihat sinar matahari. Saya akan membiarkan Pastor Wurmbrand menceritakan kepada Anda tentang penderitaan orang-orang Kristen China di bawah Mao Tse Tung, pada masa “Revolusi Budaya.”
Penderitaan Gereja Tionghoa melebih semua imajinasi… Dr. D. Rees, mantan misionaris ke China, menulis untuk kita, “Semua teman-teman Tionghoa saya telah dibunuh atau dipenjarakan. Satu dibuat menjadi buta, satu dilemparkan ke dalam sebuah sumur, dua orang mati karena tebese, dan yang lainnya, ketika dicuci otaknya, kehilangan ingatannya dan menandatangi surat pengakuan bersalah. Ketika pikirannya kembali pulih, ia merobek-robek surat pengakuan bersalah yang pernah ia tandatangani itu. Namun Gereja Tionghoa sedang bertumbuh menjadi beribu-ribu….
Seorang dokter India, Kamun Chandah, kakinya dipotong dan matanya dicungkil di salah satu penjara China Merah.
Dalam suatu peristiwa, Vladimir Tatishtshev, seorang Rusia, ditangkap di Shanghai [China]. [Komunis] China menyiksa dengan mengikatkan tabung besi ke kakinya dengan skrup dan memukul kakinya sampai tulangnya remuk, agar dia mengakui kejahatan yang tidak pernah ia lakukan. Ketika ia menolak, polisi Komunis itu pergi ke rumahnya. Petugas itu mengambil bayinya dan mengatakan kepada istrinya, “Jika kamu tidak menandatangani surat pengakuan bersalah menentang suamimu, kami akan meremukkan kepala bayi kamu.” Ibu itu… menolak. Kemudian petugas kepolisian itu, membenturkan kepala bayi itu ke tembok… dan Komunis yang lain menembak ibu itu.
Radio Moscow mengatakan pada 7 April 1970, “Selama sepuluh tahun, lebih dari 25 juta [orang Kristen] di China telah dibinasakan. Jutaan [lainnya] dibuang ke camp-camp konsentrasi.”
Surat kabar Moscow, Krasnaia Zvezda [pada 7 Mei, 1969] menulis, “Partai Komunis China… telah membakar mata banyak orang dengan air panas dan asam sulfur, memotong [kaki] mereka dengan pisau dan memcehkan tengkorak kepala mereka dengan batu… dan masih banyak yang lainnya.”
Banyak saudara Tionghoa kami yang sedang meraba-raba sekarang dalam kebutaan mereka, [lengan dan tangan] mereka yang telah dipotong. [Namun] gereja bawah tanah sedang menjamur [dan bertumbuh] (Pastor Richard Wurmbrand, Where Christ is Still Tortured, Marshalls Paperbacks, London, 1982, hal. 130, 131).
Ketika mendengar tentang penderitaan dan penyiksaan orang-orang Kristen di China Minggu malam yang lalu yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, seseorang yang datang ke gereja kami yang telah mendengarkan khotbah itu berkata, “Mengapa begitu banyak orang menjadi Kristen di China bahkan walaupun mereka dipenjarakan dan disiksa?” Jawabannya ada dalam ayat kita ini. Pada saat datang Kesusahan Besar malaikat Tuhan akan berkata,
“Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka” (Revelation 7:3).
Ayat ini berbicara tentang 144,000 orang Yahudi yang akan berbalik kepada Kristus dan dimeteraikan oleh Roh Kudus pada dahi mereka (pikiran mereka). Kita diberitahu apa maksud dari “meterai” ini dalam Efesus 1:12-13,
“supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. 13Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” (Efesus 1:12-13).
Ketika seseorang percaya di dalam Kristus, ia dimeteraikan oleh Roh Kudus. Seperti 144,000 saksi Yahudi pada masa Kesusahan/Tribulasi, mereka dimeteraikan oleh “Allah kita pada dahi mereka” (Wahyu 7:3). Ketika Nuh masuk ke dalam bahtera sebelum Air Bah, Alkitab mengatakan, “TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh” (Kejadian 7:16). Pemeteraian Nuh ke dalam Bahtera adalah tipe tentang petobat sejati yang “dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu” (Efesus 1:13). Orang-orang Yahudi yang bertobat pada masa Tribulasi akan dimeteraikan pada dahi mereka, seperti Nuh dimeteraikan dalam Bahtera oleh Roh Allah. Sekali Allah “menutup dari dalam” dan “memeteraikan” pikiran Anda oleh Roh Allah sehingga tidak ada apapun di dunia ini yang dapat menyebabkan Anda kehilangan keselamatan Anda. Anda memiliki jaminan kekal, “dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu” (Efesus 1:13). Tidak ada penganiayaan, atau bahkan siksaan, yang dapat memisahkan Anda dari Kristus ketika Anda telah “dimeteraikan” pada “dahi” Anda.
Ini bukanlah sesuatu yang hanya akan terjadi pada para petobat Yahudi pada masa Tribulasi. Ini sedang terjadi sekarang pada ratusan ribu orang di China Komunis. Dan itu dapat terjadi pada Anda juga.
Datanglah kepada Kristus. Percayalah kepada Dia. Percayalah kepada Dia dengan segenap hati Anda. Ketika Anda melakukannya, Anda akan dilahirkan kembali. Allah akan memeteraikan pikiran Anda sehingga tidak ada masalah, atau penganiayaan, atau kesulitan yang akan dapat membuat Anda kehilangan keselamatan Anda – dan Anda akan memiliki jaminan kekal di dalam Kristus Yesus tidak peduli apa yang terjadi pada Anda! Itu adalah rahasia dari banyak martir Yahudi pada masa Tribulasi. Itu adalah rahasia para martir orang Tionghoa di China pada hari ini. Mereka percaya kepada Yesus, dan mereka diselamatkan untuk selama-lamanya. Tidak peduli apapun kesulitan dan penganiayaan yang menghampiri mereka, mereka tidak akan pernah menyerah kepada Setan atau kembali ke dunia ini.
Kristus mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman atas dosa-dosa kita. Ia mencurahkan Darah-Nya untuk menyucikan dosa-dosa kita. Datanglah kepada Dia! Percayalah kepada Dia! Ia akan menyelamatkan Anda untuk selama-lamanya, dan Anda tidak akan pernah terhilang lagi. Tidak peduli apapun pencobaan yang menghampiri Anda dalam hidup ini, Anda tidak akan meningalkan gereja Anda atau meninggalkan Kristus!
(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.”
Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto @ www.sttip.com
Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Efesus 1:5-14.
Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“From Every Stormy Wind That Blows” (by Hugh Stowell, 1799-1865).
Label:
CINA DIMATERAIKAN ROH ALLAH
Hidup Adalah Kristus
Yang ketiga dari serangkaian khotbah-khotbah penafsiran 2 Korintus 12:9
"Dalam Kelemahanlah Kuasa-Ku Menjadi Sempurna"
Disampaikan oleh Pastor Eric Chang
Kamp Gereja CDC Singapura
Bagaimana Menerapkan Tema Kamp Ini?
Sebagai bagian dari tema kamp ini "Hidup adalah Kristus", pokok yang ditugaskan kepada saya hari ini adalah: "Strategi untuk menerapkan tema kamp ini".
Dengan "strategi", saya mengira bahwa kita ingin tahu "bagaimana" kita seharusnya menghidupi hidup ini yang adalah Kristus. Sebelum kita dapat sampai pada pokok tentang "bagaimana" menghidupi hidup ini, kita harus mengerti lebih dahulu tentang hidup ini yang harus kita jalani. Tetapi di sinilah masalah saya dimulai, karena untuk menguraikan "hidup adalah Kristus", saya mungkin perlu memberikan satu uraian yang lebih cocok untuk tingkat pelatihan sepenuh waktu dari pada khotbah kamp seperti yang satu ini.
Jadi saya telah mempertimbangkan bagaimana menyederhanakan hal ini. Tetapi dalam menyederhanakan bahan mungkin berarti saya harus berbicara berputar-putar dan pada akhirnya tidak menjelaskan apa yang sesungguhnya yang dimaksudkan dengan tema ini. Izinkan saya mencoba untuk menerangkan sesederhana mungkin.
Pentingnya "Nothingness" (Kekosongan)
Saya akan memulai dengan berbicara tentang "nothingness" (kekosongan).Untuk mengerti tema ini, kita harus mengerti sedikit tentang "nothing" (kosong). Saya tidak mencoba untuk berfilosofi. Sehubungan dengan tema kamp ini, saya akan memusatkan pada arti "nothing" (kosong) dalam Perjanjian Baru.
Mengapa kita harus membicarakan hal ini dengan pokok pembicaraan "nothing" (kosong)? Karena tema kamp kita diambil dari Filipi 1:21 "karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan", dan kita harus memahami kalimat "mati adalah keuntungan" jika kita ingin memahami apa artinya "hidup adalah Kristus". Kedua kalimat ini sama seperti dua sisi dari koin yang sama. Jika "mati adalah keuntungan" tidak berarti apa-apa buat anda, sudah pasti tema dari kamp ini "hidup adalah Kristus" juga akan tidak berarti apa-apa buat anda.
Mati Adalah Keuntungan
"Mati adalah keuntungan" - apakah ini berarti apa-apa kepada anda sekarang? Bagaimana mungkin "mati" adalah keuntungan? Ketika anda mati, anda kehilangan segala-galanya. Sejak kapan kematian berarti keuntungan bagi seseorang? Mati secara harfiah berarti menjadi "nothing" (kosong). Jika anda tidak ada lagi, anda telah menjadi "nothing" (kosong). Anda telah menjadi nol. Jika anda adalah seorang pimpinan sebuah perusahaan, ketika anda mati, apakah anda masih pimpinan bagi perusahaan tersebut? Tentu saja tidak. Tempat anda di perusahaan itu tidak ada lagi. Anda sudah selesai. Jika anda dijadualkan untuk mengambil ujian dan anda mati, apakah itu berarti anda lulus ujian itu? Tentu saja tidak! Anda tidak perlu menjadi seorang jenius untuk memahami hal ini. Jika anda mati, anda tidak dapat menghadiri ujian itu, makanya anda tidak lulus. Jika anda akan berkawin dan anda mati, perkawinan itu dibatalkan. Semuanya dibatalkan. Jika anda hampir mewarisi kekayaan yang besar dan anda mati, anda tidak akan mendapat satu senpun. Nama anda akan dihapuskan dari surat wasiat. Anda tidak ada lagi.
Mati adalah keuntungan? Sedang berbicara tentang apa kita ini? Mati adalah menjadi "nothing" (kosong). Sejauh berkenaan dengan dunia, anda telah habis. Hilang. Kematian menghapus bersih papan tulis sejauh ada hubungannya dengan anda. Nama anda mungkin pernah ada disitu, mungkin sebagai direktur atau eksekutif, atau apa saja, ketika anda mati, nama anda dikeluarkan. Jika anda akan mewarisi sesuatu, nama anda akan dikeluarkan dari daftar wasiat. Mati adalah menjadi "nothing" (kosong). Bagaimana mungkin kematian menjadi keuntungan?
Hal ini sungguh merupakan satu pertentangan (paradoks). Kalau kita tidak mengerti pertentangan (paradoks) ini, bagaimana kita dapat mengerti "hidup adalah Kristus? Dalam ayat ini, kita menemukan dua bagian dalam kalimat yang sama: "hidup adalah Kristus" dan "mati adalah keuntungan". Kalau satu bagian tidak benar, maka bagian yang lain juga tidak benar. Ini merupakan logika dasar. Kalau bagian "mati adalah keuntungan" tidak benar, maka bagian "hidup adalah Kristus" juga tidak benar.
Nol
Mari kita melihat arti secara alkitabiah tentang menjadi "nothing" (kosong). Anda semua pasti pernah melihat angka nol. Bayangkan sebuah lingkaran di sini dan saya akan bertanya kepada anda: Sebuah lingkaran melambangkan apa? Sebuah lingkaran melambangkan nol. Tetapi, sebagai sebuah simbol, apakah lingkaran mempunyai arti yang lain?
Dalam sebuah pernikahan, pasangan yang baru biasanya memberikan kepada masing-masing pasangan sebuah cincin pernikahan sebagai jaminan. Sebuah cincin adalah sebuah lingkaran. Apa artinya ini? Apakah itu berarti bahwa sebagai janji dalam pernikahan untuk tidak memberikan apa-apa kepada pasangan yang lain? Sumpahnya seharusnya berbunyi: Dengan ini saya memberikan kepadamu sebuah cincin yang melambangkan dalam pernikahan ini bahwa saya tidak memberikan apa-apa kepada anda. Nah, ini merupakan ide yang baru! Anda membuat angka nol itu dari emas yang menyaksikan bahwa anda tidak memberikan apa-apa kepada masing-masing pasangan. Anda berjanji untuk tidak memberikan apa-apa. Itukah arti dari cincin itu? Mungkin dalam kehidupan nyata itulah yang terjadi, bahwa anda tidak memberikan apa-apa kepada masing-masing pasangan kecuali sakit kepala.
Apakah yang ditandakan oleh cincin pernikahan itu? Itu merupakan lambang kesempurnaan. Sebuah lingkaran menjadi lambang kasih yang sempurna. Sebuah lingkaran, yang tidak memiliki awal dan akhir, melambangkan kesempurnaan, bahwa dengan komitmen yang total, anda tidak mempertahankan apa-apa dari pasangan anda.
Karena itu kita mempunyai arti ganda yang luar biasa: lingkaran yang melambangkan "nothing" (kosong), dan di lain pihak, juga melambangkan kesempurnaan. Tidakkah ini menakjubkan? Hal ini menyimpulkan ajaran Alkitab tentang pokok ini dengan sempurna.
Tujuh poin tentang "nothingness" (kekosongan) yang juga berarti "perfection" (kesempurnaan)
Saya akan membawa anda untuk mempelajari ajaran Perjanjian Baru tentang tujuh "nothingness" yang melambangkan kesempurnaan.
1. "I Am Nothing" - Aku Tidak Berarti Apa-Apa
Kita menemukan pernyataan ini "I am nothing" atau "Aku tidak berarti sedikitpun" di 2 Korintus 12:11, "Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu." Disini, "nothing" muncul dua kali (di dalam teks Yunani). Disini kita menemukan pernyataan yang penting ini - "Aku tidak berarti sedikitpun".
Juga di Galatia 6:3, rasul Paulus berkata: "Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri." Ini adalah orang yang tidak mengerti bahwa dia tidak berarti apa-apa ketika dia berpikir dia adalah sesuatu.
Lagi di 1 Korintus 13:2, "........tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." Sisi sebaliknya dari pernyataan ini berarti bahwa hanya kasih yang menjadikan kita sesuatu dalam pandangan Allah. Anda tidak menjadi sesuatu dalam pandangan Allah karena anda dapat berbicara dengan bahasa lidah, atau anda dapat bernubuat, atau anda mengetahui segala sesuatu tentang rahasia-rahasia rohani. Tidak satupun dari hal-hal ini yang akan menjadikan anda sesuatu dalam pandangan Allah. Satu-satunya hal yang diperhitungkan sebagai berarti dalam pandangan Allah adalah kasih. Kalau anda dikuasai oleh kasih Allah, dengan demikian anda menjadi sesuatu. Apabila hal itu tidak menjadi bagian dalam hidup anda, di pandangan Allah anda tidak berarti apa-apa.
Ingatlah hal ini apabila kita berbicara tentang Filipi 1:21. Terdapat dua cara untuk memahami dua tipe "nothingness" dalam Perjanjian Baru. Ada "nothing" dalam arti positif, dan ada juga "nothing" dalam arti negatif. Itu berarti, ada arti yang baik dan arti yang jelek tentang "nothingness".
Contoh dari arti yang baik adalah ketika Paulus berkata bahwa dia menyadari bahwa dia tidak berarti apa-apa. Tanpa kesadaran itu, secara rohani anda tidak akan menjadi apa-apa. Dengan kata lain, anda hanya dapat menjadi sesuatu dalam pandangan Allah ketika anda siap untuk menjadi tidak berarti. Bagaimana dapat mengerti hal ini? Hal ini merupakan prinsip pembalikan atau prinsip dwipolaritas. Saya tidak akan membahas hal ini sekarang.
"Nothingness" (Kekosongan) Dan Keselamatan Kita
Sebelum saya melanjutkan, saya perlu menerangkan apa hubungannya semua ini dengan keselamatan. Banyak dari anda telah dibesarkan dalam bentuk kekristenan yang mengatakan bahwa anda diselamatkan melalui percaya kepada Yesus, tanpa dijelaskan lebih lanjut tentang apa artinya percaya kepada Yesus. Apabila seseorang bertanya kepada anda: "Apakah Yesus mati untuk anda?" Anda berkata, "Ya". "Apakah anda percaya Yesus mengasihi anda?" "Ya, tentu saja. Jika Ia mati untukku, pasti Ia mengasihiku." "Jadi anda percaya Yesus, benar?" "Ya." "Anda telah diselamatkan, haleluya." Nah, itu cepat sekali. Hanya membutuhkan beberapa detik untuk menerima keselamatan.
Sekarang, ketika sampai pada persoalan tentang pemuridan, kita berhadapan dengan suatu masalah yang lebih besar. Apakah pengajaran yang standar di gereja masa kini? Dimanakah pemuridan dapat disesuaikan dalam hal ini? Mengapakah Alkitab berkata bahwa anda harus menjadi seorang murid sebelum anda diselamatkan? "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Dapatkah anda diselamatkan tanpa menjadi murid? Jika jawabannya adalah "tidak", kalau begitu apa yang terjadi kepada pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa anda diselamatkan melalui percaya kepada Yesus? Apabila jawabannya adalah "ya", maka apa yang harus kita lakukan dengan tuntutan Yesus yang mutlak untuk menjadi murid-muridNya? Untuk diselamatkan, anda harus menjadi murid dan memikul salib anda untuk mengikuti Dia. Memikul salib artinya berada di jalan menuju penyaliban. Disalibkan berarti mati, dan itu berarti menjadi "nothing" (tidak berarti) bagi dunia (Galatia 6:14). Tetapi kehilangan nyawa dengan jalan ini adalah menemukannya (Matius 10:39, Markus 8:35, Lukas 9:24) dan menemukannya adalah sungguh-sungguh memperolehnya. Oleh karena itu, kematian adalah keuntungan.
Persoalan disini adalah Paulus berkata bahwa dia tidak berarti apa-apa. Mengapa? Supaya Yesus menjadi segalanya. Apakah artinya "Bagiku hidup adalah Kristus"? Artinya adalah aku tidak berarti apa-apa dan Kristus adalah segala-galanya. Buat saya, "hidup" tidak berarti apa-apa kecuali itu berarti Kristus. Apakah itu yang diartikan? Dapatkah anda menyatakan kepada saya arti lain dari ini? Dalam menafsirkan firman Tuhan dengan prosedur eksegese yang teliti, kalimat "hidup adalah Kristus" tidak berarti apa-apa kecuali kalau artinya Kristus menjadi segala-galanya bagi saya, sehingga bagi saya hidup adalah Kristus dan saya tidak berarti apa-apa.
Apakah Ajaran Ini Sangat Tidak Masuk Akal?
Anda mungkin berkata, "Wow! Ini pelajaran yang mengerikan. Bagaimana kalau sedikit Dia dan sedikit aku? Ayo, ini lebih masuk akal. Apakah itu berarti ketika aku menjadi orang Kristen, aku hilang?" Jawabannya, temanku, adalah ya. Masihkah anda ingin dibaptis? Pikirkan hal ini hati-hati. Kalau ada yang salah dengan eksegese saya, tolong tunjukkan pada saya.
"Hidup adalah Kristus" berarti bahwa Kristus adalah segalanya dalam hidup saya. Hidup adalah Kristus. Tidak ada yang lain adalah hidup. "Bagi saya hidup" berarti, sama dengan "Kristus". Kalau kita berkata hidup adalah Kristus, kita artikan hidup sama dengan Kristus dan Kristus sama dengan hidup. Mundur dan maju berada dibawah tanda persamaan . Hal ini merupakan persamaan logika yang sederhana. Itu berarti bahwa saya tidak berarti apa-apa jikalau hidup sama dengan Kristus. Apakah anda mengerti maksud saya? Apakah sulit untuk dimengerti?
Apa yang dikatakan oleh Paulus disini? Tidakkah Filipi 1:21 berlaku untuk semua orang Kristen, untuk anda dan untuk saya? Mungkin di benak kita, moga-moga tidak. Tetapi jika dia sungguh mengatakannya, maka kita ada dalam kesulitan karena kita tidak tahu bagaimana menghidupi ayat ini. Kalau ayat ini tidak berlaku untuk anda dan saya, mengapa ayat itu ada di Perjanjian Baru? Mengapa tidak dicoret saja? Mungkin hal ini untuk orang Kristen yang super. Saya hanya ingin menjadi seorang murid biasa dan saya sudah selangkah lebih maju dari kebanyakan orang Kristen. Jangan meminta lebih banyak dari saya. Dalam pemuridan, saya dapat memiliki definisi saya sendiri. Saya dapat menentukan "bagi aku hidup adalah" sedikit saya dan sedikit Kristus. Dengan rumus ini, saya bisa tenang. Mungkin 70% saya dan 30% Kristus. Kalau tidak cukup, kita dapat mengubahnya menjadi 50% saya dan 50% Kristus.
Secara tepat bagaimana hal ini dapat dipadankan kedalam kehidupan kekristenan? Paulus adalah seorang Kristen yang radikal. Bahkan dia adalah orang yang sangat ekstrim. "Aku tidak berarti apa-apa dan Kristus adalah segalanya". Bagi kita, hal ini tidak praktis dalam kehidupan kekristenan setiap hari, bukan? Lebih praktislah. Dapatkah kita menentukan 50-50? Bagaimana anda dapat menyesuaikan hal ini dengan pernyataan yang lain: "percayalah kepada Tuhan Yesus, maka kamu akan diselamatkan, kamu dan seisi rumahmu" (Kisah Para Rasul 16:31)? Apakah kedua kalimat ini saling ekslusif atau kita harus menerangkan satu dengan yang lain? Jika demikian, yang mana menerangkan yang mana?
Anda berkata hal ini menjadi makin membingungkan. Saya sedang mencoba untuk menjelaskan dengan sesederhana mungkin. Apakah yang saya maksudkan dengan satu menerangkan yang lain? Pertanyaan saya ialah: dapatkah kita mengunakan kalimat dalam Kisah Para Rasul 16:31 untuk menerangkan Filipi 1:21, atau sebaliknya? Jika kita menggunakan Filipi 1:21 untuk menerangkan Kisah 16:31, maka "percaya kepada Tuhan Yesus" mempunyai arti "hidup adalah Kristus". Anda tidak dapat berkata "aku percaya Tuhan Yesus" kecuali anda dapat juga berkata "bagiku hidup adalah Kristus". Definisi dari "percaya" berarti "hidup adalah Kristus". Itulah yang saya maksudkan dengan mengambil ayat ini untuk menerangkan yang lain.
Bagaimana kalau sebaliknya? Dapatkah kita menemukan hasil yang lebih menyenangkan? Sayang sekali jawabannya adalah tidak. Anda mencoba menggunakan kalimat yang satu lagi untuk menerangkan yang satu ini. Mari kita lihat kalau ada cara untuk meringankan pernyataan "hidup adalah Kristus". Bagaimana kita melakukannya? Perhatikan baik-baik kalau ada cara lain untuk meringankan sampai "kepercayaan yang biasa". Anda bisa memakai cara yang mana saja, kalau anda menghubungkan kedua ayat tersebut bersama-sama, hasilnya selalu sama. Kita harus memilih arti yang lebih tinggi. Yang lebih tinggi tidak boleh diturunkan kepada yang lebih rendah. Sangat penting untuk kita menangkap prinsip ini, karena kita berbicara tentang hal yang bersangkutan dengan keselamatan kita.
Apakah Definisi Kita Tentang "Percaya" Cukup Memadai?
Kalau anda berpikir bahwa untuk diselamatkan adalah semata-mata percaya bahwa Yesus mati untuk anda dan ternyata definisi itu tidak memadai, maka keselamatan anda akan hilang. Anda sedang mendasari harapan anda untuk keselamatan dengan dasar yang salah. Anda telah mengizinkan dasar itu dipalsukan untuk disesuaikan dengan definisi anda dan anda sedang menipu diri sendiri.
Seperti yang rasul Paulus katakan, kalau anda berpikir bahwa anda itu sesuatu, yakni anda berpikir anda telah diselamatkan tetapi sebenarnya tidak, maka sesungguhnya anda harus dikasihani. Berapa banyak orang pada masa kini yang berpikir bahwa mereka telah diselamatkan namun pada kenyataannya tidak? Anda dapat mengetahuinya dari kehidupan mereka bahwa mereka belum diselamatkan. Anda tahu dari percakapan mereka bahwa mereka belum. Anda tahu dari cara mereka melakukan segala sesuatu. Meskipun demikian untuk beberapa alasan yang misterius, mereka berpikir bahwa mereka selamat Mereka berpikir bahwa mereka adalah sesuatu, yaitu menjadi milik Kristus, meskipun mereka bukan milikNya. Pada hari terakhir, seperti disebutkan di Matius 7:21, "Aku akan menyuruh mereka enyahlah daripadaKu, Aku tidak mengenal kamu." "Selama ini aku sudah memanggil Engkau Tuhan, Engkau kenal aku." "Tidak, Aku tidak mengenalmu." Mereka berpikir mereka adalah sesuatu.
Mari kita memikirkan tentang hal ini dengan lebih berhati-hati lagi. Bagaimana kalau definisi kita tentang keselamatan salah? Kita mendengar pengajaran ini terus menerus di dalam gereja bahwa keselamatan adalah semata-mata "percaya dan diselamatkan", sedangkan definisi "percaya" tidak ditetapkan oleh Perjanjian Baru, tidak oleh Filipi 1:21, tetapi oleh mereka sendiri semata-mata sebagai suatu kepercayaan bahwa Yesus mati untuk anda. Tidakkah hal ini kedengarannya biasa bagi anda? Bagaimana kalau definisi ini benar-benar tidak selaras dan bahkan salah, saya bertanya kepada anda lagi? Keselamatan anda tergantung pada hal ini. Anda jawablah pertanyaan itu sendiri. Bukan saya yang harus memberitahu anda bagaimana menjawabnya. Saya hanya meminta anda untuk melihat pada Alkitab.
Hanya Ada Satu Macam Orang Kristen Di Dalam Alkitab
Apakah anda yakin dengan jawaban bahwa ada dua level kekristenan? Yang satu adalah orang Kristen kelas rendah yang biasa, orang Kristen yang berkeliling dengan kelas Ekonomi. Anda tetap dapat sampai ke tempat tujuan tetapi anda duduk di kelas Ekonomi. Sedikit tidak nyaman tetapi pada akhirnya anda akan tetap sampai disana. Orang percaya yang biasa-biasa berada dalam kelas Ekonomi ini. Yang satu lagi adalah orang Kristen yang memilih untuk dimuridkan dan memilih kursi empuk. Apakah hal ini menyelesaikan masalah kita? Tentu saja tidak. Tidak ada dua kelas orang Kristen yang berbeda di dalam Alkitab. Saya tidak pernah menemukannya. Jika anda menemukan dua kelas orang Kristen yang berbeda, tolong tunjukkan kepada saya dimana. Saya pasti kehilangan sesuatu dari Alkitab. Ada orang-orang Kristen yang lemah dan yang duniawi, tetapi mereka tidak pernah dibenarkan: mereka dimarahi.
Sebagaimana telah saya tunjukkan, Paulus selalu menggambarkan orang percaya yang benar sebagai orang kudus. Dia tidak mengenal orang Kristen kelas dua. Saya kuatir bahwa kita mereka-reka sendiri orang Kristen yang semacam itu. Jika anda menanyakan kepada gereja, mereka akan berkata bahwa terdapat orang Kristen yang kelas lebih tinggi. Tetapi izinkan saya bertanya kepada anda pertanyaan yang semula: "Jika saya dapat sampai ke Beijing dari Hong Kong dengan memakai kelas Ekonomi, mengapa saya harus merepotkan diri dengan kelas yang lebih tinggi? Apakah karena lebih nyaman?" Jika analogi (kiasan) itu digunakan, hal ini memang tidak masuk akal menurut Perjanjian Baru, karena setiap orang tahu bahwa Perjanjian Baru menunjukkan bahwa orang-orang Kristen "kelas pemuridan" memikul kehidupan yang lebih keras. Tentu saja hanya orang Kristen macam itulah yang dikenal dalam Perjanjian Baru. Kalau kita memutar-balikkan analogi (kiasan) itu dan berkata bahwa anda dapat sampai di Beijing dengan dua kelas, satu adalah kelas Ekonomi (pemuridan), dan yang lain adalah kelas mewah (orang percaya yang mudah), kalau demikian siapa yang ingin pergi dengan kelas Ekonomi dan membayar lebih? Anda pasti gila jika anda memilih kelas ini.
2. "I Have Nothing" - Aku Tidak Punya Apa-Apa
Murid yang sejati tidak mempunyai apa-apa. Murid yang palsu memiliki segala sesuatu yang dia inginkan. Mari kita melihat pada 2 Korintus 6;10, "sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu." Hal ini merupakan satu paradoks dengan kebenaran dwikutub yang penting. Jika anda memiliki segala sesuatu secara rohani, maka anda dapat berkata bahwa anda benar-benar kaya. Tetapi anda tidak memiliki segala sesuatu kecuali anda juga tidak memiliki apa-apa. Mengertikah anda hal itu? Paulus berkata secara harfiah dia miskin dan meskipun demikian dia selalu membuat orang lain kaya. Bagaimana anda dapat menjadi miskin namun memperkaya banyak orang? Itu adalah kekayaan rohani yang anda berikan. Orang yang kaya adalah sangat-sangat miskin secara rohani. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Tetapi, bagi murid yang benar, apakah yang telah dia lakukan? Dia melihat dirinya sendiri tidak memiliki apa-apa. Dia semata-mata seorang pengurus kepada semua yang ada padanya. Dia tidak melihat dirinya sendiri memiliki apa-apa. Seperti murid-murid dalam Kisah Para Rasul, mereka tidak menganggap milik mereka sendiri sebagai milik mereka. Mereka hanyalah pengurus dari apa yang mereka punya. Hanya orang-orang yang memiliki mental seperti ini adalah murid-murid yang sejati. Orang-orang seperti itulah yang kaya secara rohani.
Kita melihat dalam Alkitab sisi negatif dan positif dari tidak memiliki apa-apa. Ada sisi negative di Wahyu 3:17 yang mana sangat cocok sebagai gambaran kondisi rohani zaman ini. "Karena engkau berkata "Aku kaya dan telah memperkaya diriku, dan tidak kekurangan apa-apa", dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat dan malang, buta dan telanjang." Mereka menyangka mereka tidak membutuhkan apa-apa. Pada kenyataannya, mereka tidak memiliki apa-apa. Itu merupakan satu situasi yang tragis. Banyak orang Kristen yang tidak memiliki apa-apa secara rohani. Ada juga orang Kristen yang memiliki segala sesuatu. Hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk menemukan orang Kristen macam apakah yang sedang berbicara dengan anda. Anda berbicara kepada satu macam orang Kristen dan anda melihat kekayaan dalam hidup mereka, dinamika kehidupan mereka. Anda tahu kehidupan mereka penuh. Mereka mungkin tidak memiliki banyak uang dalam dompet mereka. Bukan karena mereka tidak dapat memilikinya. Tetapi karena mereka telah berpaling dari hal-hal itu. Bukan karena mereka tidak bisa memilikinya tetapi mereka melihat diri mereka hanya sebagai pengurus kepada apa saja yang mereka miliki. Semuanya itu ada pada pengendalian Tuhan. Apabila Tuhan berkata untuk menggunakannya untuk tujuan tertentu, dengan senang hati diberikan. Dan meskipun mereka tidak memiliki apa-apa, mereka memiliki kekayaan-kekayaan rohani yang membuat orang lain kaya.
Apakah kehidupan anda memperkaya siapa saja ataukah membuat orang lain miskin? Apabila anda tinggal satu rumah dengan orang lain, apakah kehadiran anda membuat orang lain miskin, membuat orang-orang lain capek, mengambil sukacita dari orang lain, menjengkelkan mereka, dan melelahkan orang lain, atau kehadiran anda di dalam rumah tangga itu memperkaya orang lain? Anda tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Dari itu, anda tahu apakah tema kamp ini mempunyai arti bagi anda atau tidak. Bagi seseorang yang hidup dengan sedemikian sehingga Kristus menjadi hidupnya, orang itu selalu akan memperkaya orang lain. Setelah bersama dengan orang seperti itu, anda pergi dengan perasaan yang diperkaya. Anda merasakan sudah menerima banyak. Tetapi ada orang lain yang kalau anda bersama dengan mereka sebentar saja, anda merasa capek sekali. Mereka mengeringkan anda. Seringkali saya melihat bahwa pemimpin-pemimpin gereja terlalu capek dan lelah. Pasti ada banyak orang-orang miskin secara rohani di dalam gereja yang sudah mengeringkan mereka itu. Dimanakah orang-orang yang baginya "hidup adalah Kristus?" Anda tahu sendiri. Apakah anda macam orang yang memperkaya orang-orang lain atau anda membuat mereka kecapekan?
3. "I Do Nothing" - Aku Tidak Berbuat Apa-Apa
Ya, aku tidak berbuat apa-apa. Apakah artinya ini? Untuk mengerti hal itu, kita dapat membuka dalam Yohanes 8:28, "Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku." Aku tidak berbuat apa-apa, tentu saja tidak dari diriku sendiri. Itu sangatlah penting. Itu merupakan prinsip dasar yang mengendalikan seseorang yang hidupnya adalah Kristus.
Jadi siapakah yang memegang peranan penting dalam mengendalikan hidup kita? Siapakah yang menjadi peran utama yang mengendalikan kehidupan Yesus? Bapa, "Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri." Dorongan yang mengontrol hidup kita adalah Kristus. Itulah yang dimaksudkan. "Bagiku hidup adalah Kristus" berarti Kristuslah yang mengarahkan seluruh segi hidup anda sampai ke hal-hal yang terkecil. Itu tidak berarti anda menjadi robot. Anda tidak dapat menjadi robot karena anda dengan sadar, menurut pilihan anda sendiri, meminta Dia mengarahkan anda. Dengan kata lain, mencari pimpinan merupakan suatu tindakan menurut kehendak anda sendiri. Tidak pernah secara otomatis. Apakah anda melakukannya? Apakah anda bertanya kepada Tuhan apa yang harus anda lakukan, atau apakah anda semata-mata melakukan apa yang anda inginkan dan membuat keputusan-keputusan anda sendiri?
Menjadi orang Kristen pada tingkatan ini dalam Perjanjian Baru merupakan kekristenan dasar. Yaitu menjalani suatu kehidupan yang diarahkan oleh Tuhan sendiri. Itulah yang memerdekakan anda. Itu merupakan sumber kuasa anda. Dia adalah hidup anda karena Dia mengarahkan cara berpikir anda, cara anda melakukan sesuatu, dan apa yang harus anda lakukan. Dapatkah anda berkata dengan jujur bahwa: Aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri?
Mungkin anda berkata bahwa "aku tidak melakukan apa-apa dengan betul". Di dalam rumah tangga, anda menyinggung perasaan setiap orang, dan anda membuat malu setiap orang dalam rumah itu. Memang anda tidak dapat melakukan sesuatu pun dengan betul. Ada orang Kristen yang tidak melakukan apa-apa sama sekali karena, jika mereka melakukan sesuatu, mereka melakukan hal-hal yang salah. Mereka benar-benar membuat orang lain gusar karena mereka tetap melakukan hal yang salah. Anda mau berkata, "Tolonglah, aku memohon agar kamu jangan melakukan apa-apa. Dengan cara ini, paling sedikit, kamu tidak akan menjengkelkan orang lain. Kamu tidak akan menghanguskan nasi, atau merusakkan perabotan. Kamu tidak akan menjatuhkan piring. Tolong jangan melakukan apa-apa. Paling sedikit dengan cara ini, anda tidak berbuat dosa." Setidak-tidaknya, pada tingkatan ini, kita dapat belajar untuk tidak berbuat apa-apa.
Tentu saja menjadi seorang murid berarti lebih daripada tidak melakukan apa-apa dalam pengertian itu. Saya secara pribadi akan sangat puas jika beberapa orang Kristen tertentu mau untuk tidak melakukan apa-apa. Jauh lebih damai jika mereka tidak berbuat apa-apa. Setiap kali mereka membuka mulut mereka, mereka menyatakan hal yang salah. Sangat luarbiasa. Mungkin kita sendiri telah melakukan hal yang sama. Bayangkan betapa damainya dalam suatu pernikahan jika kedua pihak mau menutup mulut. Setidak-tidaknya anda tidak dapat bertengkar jika anda berdua tutup mulut. Setiap kali mereka membuka mulut, mereka bertengkar. Kadang-kadang merupakan berkat untuk menjadi bisu. Anda tidak mendengar dua orang bisu bertengkar. Betapa indahnya.
Coba bayangkan kehidupan orang Kristen yang hidup diatas prinsip tidak melakukan apa-apa dari dirinya sendiri. Tuhan mau kita mengambil satu langkah ke depan dan disitulah masalah kita dimulai. "Aku tidak melakukan apa-apa kecuali apa yang dikatakan Bapa untuk Aku lakukan." Itu tingkat yang terlalu tinggi, bukan? Namun itulah kehidupan kekristenan yang dasar. Itulah yang dimaksudkan dengan percaya kepada Yesus, mempercayai bahwa Dia dapat mengarahkan anda. Untuk mengatakan bahwa saya percaya Yesus yang telah mati untuk saya adalah sama dengan berkata bahwa saya percaya suatu kejadian yang terjadi pada 2000 tahun yang lalu. Apakah Dia masih melakukan sesuatu hari ini? Ya, Dia masih. Dia mengarahkan hidup saya setiap saat dari setiap hari. Beranikah anda menyatakan hal itu? Mari saya katakan pada anda bahwa Yesus anda benar-benar hidup. Beberapa orang percaya pada Yesus yang mati yang telah meninggal 2000 tahun yang lalu. Ia seharusnya telah bangkit dan naik ke surga namun sejak itu tidak melakukan apa-apa.
Kalau kita tidak melakukan apa-apa dari diri sendiri, maka Dialah yang melakukan segala sesuatu. Kalau Dia melakukan segala sesuatu, maka Dia adalah hidup saya. Itulah yang dimaksud dalam Filipi 1:21. Saya berharap setelah khotbah ini, tidak ada yang akan berkata saya belum menjelaskan ayat ini dengan rinci. Jika anda tidak dapat menghidupinya, jangan salahkan saya.
"Aku tidak melakukan apa-apa". Dalam Yohanes 5:30, Yesus berkata, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri." Itu lagi. Itu tidak berarti bahwa Dia tidak mampu melakukannya. Dia telah memilih untuk tidak melakukannya. "Tidak dapat berbuat apa-apa" itu adalah atas kehendak-Nya, atas pilihan-Nya sendiri. "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku." "Tidak dapat berbuat apa-apa" disini justru diartikan sebagai tidak melakukan apa-apa menurut kehendak pribadi kita. Sangat jelas sekali, kehendak Bapalah yang Dia lakukan. Jadi kita terus memakai cara ini di dalam Yohanes 5:19, "Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." Apa yang dikerjakan Bapa, Anak juga mengerjakannya. Itulah yang dimaksudkan dengan "Hidup adalah Allah." Tuhan adalah hidup saya dan Dia mendefinisikan hidup saya. Saya tidak mau melakukan apa-apa selain dari kehendak-Nya. Dapatkah anda menyatakannya dengan jujur? Seperti itukah kehidupan Kristen yang anda hidupi, atau apakah anda berharap untuk diselamatkan oleh semacam pengakuan yang dangkal tentang kepercayaan bahwa Yesus mati untuk anda? Kekristenan semacam ini tidak ada dalam Perjanjian Baru.
Apakah ini terlalu radikal untuk anda? Jika Yesus adalah hidup saya, maka itulah caranya saya harus hidup. Kalau tidak demikian, Yesus bukan hidup saya. Dan kalau Dia bukan hidup saya, maka beritahukan pada saya bagaimana saya dapat diselamatkan! Kita sedang berbicara tentang kehidupan. Hidup adalah keselamatan dan keselamatan adalah hidup. Hanya ini satu-satunya macam keselamatan, satu-satunya macam kehidupan, yang dapat saya lihat dalam Perjanjian Baru.
4. "I Know Nothing" - Aku Tidak Mengetahui Apa-Apa
"Aku tidak mengetahui apa-apa!" - kita bergerak dari satu "nothingness" ke satu "nothingness" yang lain! Kehidupan Kristen adalah tidak mengetahui apa-apa. Sungguh indah, bukan? 1 Korintus 2:2 adalah prinsip yang menuntun kehidupan rasul Paulus, rahasia bagaimana dia hidup. Apa yang ia tahu? Izinkan ia menjawab pertanyaan itu sendiri dari 2 Korintus 2:2, "Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (1 Korintus 2:2).
Paulus selanjutnya mengatakan bahwa dia telah mempelajari filsafat dunia ini. Paulus adalah orang yang terpelajar, begitu terpelajar sehingga ketika dia diadili, hakim itu berkata kepadanya: "Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila. Engkau mengetahui terlalu banyak. Engkau terlalu banyak belajar dan kepandaianmu sudah membuat engkau gila!" (Kisah Para Rasul 26:24). Paulus berkata bahwa ia tidak gila (ayat 25). Ia tahu dengan jelas apa yang dia bicarakan. Mengapa mereka mengira dia gila? Lihatlah ini. Baginya, sejak ia datang kepada Tuhan, satu-satunya hal yang berarti baginya adalah Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Bagian yang menyangkut "Yesus Kristus" kita masih dapat mengerti, tetapi "Dia yang disalibkan", seorang yang mati? Apakah ini? Mungkin ia benar-benar sudah gila. Paulus selanjutnya berkata bahwa Kristus yang disalibkan itu adalah kuasa Allah yang menyelamatkan! Apa? Kristus yang disalibkan? Apa yang sedang ia bicarakan?
Saya tidak akan menjabarkan hal itu sekarang. Cukuplah dengan menyatakan bahwa orang yang hidup menurut prinsip "hidup adalah Kristus" juga memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa. Hal itu tidak berarti bahwa anda akan meninggalkan pengetahuan sekular anda, seperti halnya jika anda dilatih dalam bidang computer, anda tidak akan dengan tiba-tiba tidak mengerti computer sama sekali. Maksudnya adalah pengetahuan semacam itu tidak lagi menentukan cara hidup anda. Sebelumnya itu merupakan segalanya. Anda bangga karena kepandaian dan pengetahuan anda. Anda menganggap diri anda itu sesuatu. Sekarang prinsip yang menuntun kehidupan anda bukan hal-hal itu lagi. Bagi anda, prinsip yang beroperasi dalam hidup anda (yang menentukan pengetahuan anda dan segala sesuatu yang lain) adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus yang ini tidak dipandang terutamanya sebagai Raja dari alam semesta ini. Ia memang seorang Raja tetapi bukan itu yang ditekankan di Perjanjian Baru. Yang ditekankan ialah Yesus Kristus yang rendah hati dan lemah lembut. Itulah yang dimaksudkan dengan "Yesus, yang disalibkan". Bagaimana rendah diri-Nya dan bagaimana lemah lembut-Nya? Ingat kita sedang membicarakan Filipi 1:21. Filipi 2 menyatakan bahwa Ia sama dengan Allah, Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Apa yang telah Ia lakukan? Ia merendahkan diri-Nya untuk turun ke dalam dunia ini. Ia dilahirkan dalam palungan. Itu bukan yang paling rendah. Ia turun jauh lebih rendah lagi dari pada itu. Ia mati dengan kematian sebagai seorang penjahat di atas kayu salib. Begitulah rendahnya Ia merendahkan diri-Nya. Yesus yang inilah, bukan Raja di atas segala raja dengan suatu mahkota di atas kepala, yang kita sedang bicarakan.
Yesus sebagai Raja, secara mengherankan, tidak menjadi pusat dari pengetahuan Paulus. Apa yang menjadi pusat? Yesus yang tidak memakai mahkota di kepala-Nya kecuali mahkota duri. Dapatkah anda mengerti hal ini? Hal ini membawa kita masuk kepada hal-hal yang dalam. Adalah mudah untuk memuliakan Tuhan yang bertakhta di atas alam semesta ini. Itu bukanlah Tuhan yang dimuliakan Paulus. Ia memuliakan Allah yang merendahkan diri-Nya sampai menjadi seorang hamba. Bayangkan apa yang akan terjadi jikalau pikiran seperti ini menguasai pikiran anda. Anda akan menjadi seorang Kristen dengan kualitas yang berbeda, bukanlah semacam orang Kristen yang disebut "power Christian", atau "glory Christian" yang membanggakan Allah sebagai Raja di atas segala raja (meskipun Ia memang demikian), tetapi semacam orang Kristen yang membanggakan Allah yang telah merendahkan diri-Nya lebih rendah dari seorang hamba.
Mentalitas semacam ini menentukan seluruh proses cara berpikir Paulus. Ini adalah semacam kualitas, semacam kerendahan hati, semacam keramahan, semacam kelemah-lembutan di dalam kehidupan seseorang yang tidak dapat dilukiskan. Saya masih mencoba untuk belajar hal ini.
Setiap hari saya merenungkan salib Kristus. Saya tidak merenungkan pada Yesus sebagai Raja di atas segala raja karena hal itu mudah untuk dimengerti. Hal yang membuat saya sulit untuk mengerti adalah Yesus sebagai seorang yang lebih rendah dari seorang hamba, yang membasuh kaki murid-murid-Nya, dan mau mati untuk semua murid-murid-Nya dan untuk kita semua yang telah menjadi murid-murid-Nya, dan yang untuk selamanya berada di surga dengan bekas paku pada tangan-Nya, bekas-bekas luka pada kening-Nya, dan luka tikaman pada hati-Nya. Yesus seperti inilah yang saya berusaha untuk mengerti. Sangat lambat sekali untuk saya mengerti namun saya masih berusaha. Dan Paulus berkata bahwa Yesus seperti inilah yang ia ingin kenal. Mengenal Dia adalah mengerti seluruh rahasia yang ada, dan ia tidak ingin mengetahui yang lainnya lagi.
5. "I Fear Nothing" - Aku Tidak Takut Apa-Apa
Poin yang kelima: aku tidak takut apa-apa. "I fear nothing." Sekarang kekuatan dari manusia rohani mulai muncul. Aku tidak takut apa-apa. Ini adalah hal yang menarik. Di sini sekali lagi, saya mempunyai begitu banyak ayat. Terdapat banyak ayat tentang "jangan takut". Filipi 1:28 "dan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu." Seorang yang memiliki sifat seperti ini adalah orang yang tidak mempunyai rasa takut. Di masa remaja saya, tahukah anda nama apa yang saya pilih untuk tim bola saya? Namanya ialah "Dreadnought". Saya sangat tertarik dengan pengetahuan kemiliteran dan ada sebuah kapal perang yang sangat terkenal namanya "Dreadnought" (artinya "Tidak Gentar") yang dikatakan tidak dapat tenggelam. Jadi dalam bahasa Cina tim kami bernama "Da Wu Wei".
Orang Kristen yang benar tidak takut apa-apa untuk suatu alasan yang sangat sederhana, karena satu-satunya pribadi yang dia takuti adalah Allah. Di Lukas 8:24, ketika Tuhan Yesus berada ditengah-tengah badai dan kapalnya sedang tenggelam, apakah anda melihat sedikit ketakutan pada diri-Nya? Ia sedang tidur dengan nyenyak, tanpa ketakutan. Di sini anda melihat kualitas tidak takut apa-apa. John Wesley begitu terkesan dengan sekelompok orang Kristen yang naik kapal berlayar ke Amerika Utara. Pada waktu itu, seperti begitu banyak dari kita, ia masih belum lahir baru, dan ia melihat orang-orang Kristen ini (yang dikenal sebagai 'pietists' oleh orang-orang Jerman) yang memiliki keyakinan yang demikian rupa di dalam Yesus Kristus sehingga mereka tidak memiliki rasa takut. Kepercayaan mereka menghapuskan rasa takut. Seperti inikah percaya anda kepada Yesus? Apakah ujian sekolah membuat anda cemas? Atau, kesehatan anda membuat anda cemas? Atau, pernikahan anda membuat anda cemas? Segala sesuatu membuat anda cemas. Anda adalah orang Kristen yang takut dan cemas. Kalau anda hidup seperti itu, anda tidak tahu apa artinya menjadi orang Kristen. "Hidup adalah Kristus" berarti anda tidak memiliki rasa takut karena Ia hidup di dalam anda. Tanggung jawab ada pada-Nya.
Saya dapat berbicara tentang hal ini dari pengalaman saya sendiri. Saya hidup hampir tiga tahun di Cina dalam keadaan kemiskinan hina papa. Saya kehilangan segalanya semenjak kedatangan kaum komunis. Tidak satu senpun yang tinggal. Setiap hari, saya harus mempercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya akan bangun setiap pagi tanpa mengetahui sama sekali dari mana saya akan mendapat makanan selanjutnya. Bayangkan hal itu. Saya tidak memiliki uang sama sekali dan hampir tiga tahun hidup seperti itu.
Jika anda bangun pagi tanpa satu sen dalam saku anda, tanpa makan siang apalagi makan malam di hadapan anda untuk minggu-minggu dan bulan-bulan yang akan datang, bagaimanakah kondisi anda? Dapatkah anda rileks dan penuh dengan damai dan sukacita? Hanya kalau Kristus adalah hidup anda. Saya akan bangun pagi dan berkata "Tuhan, inilah anak-Mu. Aku lapar dan tidak ada apa-apa untuk dimakan dan aku juga tidak memiliki uang untuk membeli makan siang. Aku tidak takut. Aku tahu bahwa bagaimanapun Engkau akan mencukupi kebutuhanku hari ini." Pernahkah Ia gagal? Tidak pernah. Mengapa saya memberitakan Injil dengan keyakinan? Karena saya tahu bahwa Allah yang memberi makan dua juta orang di padang gurun dengan manna dari surga, adalah Allah yang sama, yang memberi saya makan setiap hari dan mengatur supaya saya tidak mati kelaparan. Begitulah praktisnya Tuhan saya itu. Kalau seseorang bertanya kepada saya, "Apakah Allah memberi kamu makan ketika kamu lapar?" Jawaban saya ialah: tentu saja. Apakah mungkin Allah yang menciptakan surga dan bumi tidak dapat membuat cukup makanan untuk memberi makan anda? Tidak takut. Saya dapat menjelaskan hal ini dalam waktu yang panjang tapi waktu saya terlalu cepat berlalu.
6. "I Lack Nothing" - Aku Tidak Kekurangan Apa-Apa
Aku tidak kekurangan apa-apa. Apakah secara jasmani atau rohani, orang yang hidup di dalam Kristus memiliki segalanya. Tidak memiliki apa-apa meskipun memiliki segalanya. Ia tidak kekurangan apa-apa. 1 Tesalonika 4:12 "bahwa kamu tidak kekurangan sesuatu apapun." Hiduplah sedemikian sehingga anda tidak kekurangan suatu apapun. Tidak kekurangan apa-apa ini bisa saja karena pemeliharan Tuhan secara langsung, atau apabila situasi mengizinkan, anda juga dapat bekerja dengan tangan anda sendiri (seperti yang dilakukan oleh rasul Paulus) dan mencukupi kebutuhan anda sendiri. Perhatikan bahwa Allah mencukupi kebutuhan saya di China karena tidak ada jalan lain bagi saya untuk memperoleh pendapatan. Tetapi di kemudian hari ketika ada kesempatan bagi saya untuk memperoleh pendapatan saya sendiri, saya tidak begitu manja dan bergantung kepada Tuhan dan berkata, "Engkau dapat mencukupi aku dengan makanan, jadi aku tidak perlu bekerja lagi." Tidak, saya keluar untuk bekerja. Ketika pertama kali saya menjadi gembala sidang di Liverpool, gereja terlalu kecil sehingga mereka tidak dapat membantu saya. Saya katakan kepada mereka bahwa hal itu tidak menjadi masalah buat saya, saya akan mencari pekerjaan. Maka saya keluar untuk mengajar. Saya mengajar dari Senin sampai Jumat dan saya bekerja di gereja hari Sabtu dan Minggu. Sangat tidak Alkitabiah! Saya bekerja tujuh hari dalam seminggu tanpa satu hari pun untuk beristirahat. Setelah enam bulan, Allah di dalam kebaikan-Nya membuat gereja itu bertumbuh dalam jumlah yang cukup besar sehingga mereka mampu memberi saya jumlah yang sama dengan yang saya terima melalui mengajar.
Apakah Allah mencukupi secara langsung atau melalui pekerjaan kita sendiri, yang lebih penting, kita tidak kekurangan sesuatu pun di tingkat rohani. Bagaimana kondisi rohani anda? Apakah anda merasa ada kekosongan dalam batin anda? Apakah anda merasa bahwa setiap hari anda kekurangan sesuatu dalam hidup anda tetapi anda tidak tahu apa kekurangannya? Jawabannya sangat sederhana. Apa yang anda kurang justru adalah tema Kamp ini. Anda belum menerapkan kebenaran rohani ini bahwa Kristus adalah hidup anda. Selama Kristus tidak menjadi hidup anda, percayalah pada saya, anda dapat mencoba semampu anda untuk memenuhi kekosongan dalam hidup anda, itu tidak akan berhasil. Anda akan selalu dihantui oleh kekosongan yang menggangu itu. Tetapi setelah menerima pesan hari ini, jangan pernah berkata anda tidak mengetahui bagaimana mengisi kekosongan itu. Saya telah mengatakan kepada anda apa yang Alkitab ajarkan. Tidak ada cara mudah. Tidak ada cara murah. Tetapi ada cara yang ajaib. Kristus akan memenuhi hidup anda sampai melimpah dan anda tidak akan kekurangan apapun sama sekali.
7. "I Withhold Nothing" - Aku Tidak Menahan Apa-Apa
Karena anda tidak kekurangan apa-apa, anda juga seharusnya tidak menahan apa-apa. Anda memiliki begitu banyak untuk diberikan sehingga anda tidak perlu menahan suatu apapun. Pernahkah anda bertemu orang Kristen yang kelihatannya memiliki sumber-sumber yang tidak ada batasnya? Mereka selalu mempunyai sesuatu untuk diberikan. Mereka begitu kaya sehingga mereka tidak harus menahan apapun. Mereka tidak perlu menjadi kikir.
Kisah Para Rasul 20:20, "dan sekarang aku tidak pernah melalaikan (atau, menahan) apa yang berguna bagi kamu, baik dimuka umum maupun dalam perkumpulan perkumpulan di rumah kamu." Pernahkah anda menahan sesuatu dari Tuhan? Apakah anda mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada Tuhan atau kepada sesama? Apakah kehidupan anda sebuah kehidupan yang kaya? Apakah kehidupan anda kehidupan yang berkuasa? Ketika rasul Paulus berkata kepada jemaat di Efesus di Kisah Para Rasul 20 bahwa dia tidak menahan apa-apa, kualitas apakah yang ada pada orang ini sehingga Tuhan menggoncangkan dunia melaluinya? Kehidupan Kekristenan yang bagaimana yang ingin anda jalani?
Kesimpulan
Sebagai penutup, saya ingin bertanya kepada anda: Kehidupan Kekristenan yang bagaimana yang ingin anda hidupi? Apakah anda ingin menjadi yang biasa, Kristen yang rata-rata, yang tidak begitu baik tapi juga tidak begitu jelek? Atau anda ingin membuat hidup anda dihitung dalam generasi ini, sebagai seseorang yang melaluinya Tuhan dapat mengoncang bukan saja Singapura tetapi seluruh dunia? Allah sedang mencari orang yang seperti ini. Saya kuatir berapa banyak orang Kristen yang hidup menurut pelajaran yang telah kita dapatkan di sini: "bagiku hidup adalah Kristus".
Paulus begitu berkelimpahan sehingga ia berkata adalah suatu sukacita baginya untuk menjadi korban bagi orang lain. Itulah mentalitasnya saat dia menulis 2 Korintus 12:15, "Aku suka mengorbankan segala milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu." Di Roma 9:3, Paulus begitu rela tidak mempertahankan apa-apa, bahkan sampai pada keselamatannya sendiri. Beberapa orang mungkin mau untuk memberikan segala sesuatu kepada anda - kecuali keselamatan mereka. Paulus berkata bahkan keselamatannya sendiri tidak berharga baginya, jika, melalui kebinasaannya, orang lain dapat diselamatkan. Roma 9:3 membuat saya meneteskan air mata: di mana Paulus berkata bahwa jika, melalui kebinasaannya, kaum sebangsanya dapat diselamatkan, ia dengan senang hati akan menyerahkan keselamatannya bagi kesejahteraan kekal mereka. Apa sebenarnya yang sedang dikatakan Paulus? Paulus sedang berkata bahwa ia mau pergi ke neraka kalau bangsa Yahudi dapat pergi ke surga. Berapa banyak dari anda yang berani berkata di sini bahwa anda mau pergi ke neraka kalau orang-orang di Singapore dapat pergi ke surga? Berapa banyak dari kita yang berani berkata kami mau ke neraka kalau orang-orang Indonesia dapat mendengar Injil dan diselamatkan? Dimanakah Allah dapat menemukan orang seperti ini?
Semuanya itu merupakan bagian dari "hidup adalah Kristus". Ini bukanlah semacam kekristenan yang super. Itu hanyalah sebagian dari definisi dari artinya "hidup adalah Kristus".
Yang ketiga dari serangkaian khotbah-khotbah penafsiran 2 Korintus 12:9
"Dalam Kelemahanlah Kuasa-Ku Menjadi Sempurna"
Disampaikan oleh Pastor Eric Chang
Kamp Gereja CDC Singapura
Bagaimana Menerapkan Tema Kamp Ini?
Sebagai bagian dari tema kamp ini "Hidup adalah Kristus", pokok yang ditugaskan kepada saya hari ini adalah: "Strategi untuk menerapkan tema kamp ini".
Dengan "strategi", saya mengira bahwa kita ingin tahu "bagaimana" kita seharusnya menghidupi hidup ini yang adalah Kristus. Sebelum kita dapat sampai pada pokok tentang "bagaimana" menghidupi hidup ini, kita harus mengerti lebih dahulu tentang hidup ini yang harus kita jalani. Tetapi di sinilah masalah saya dimulai, karena untuk menguraikan "hidup adalah Kristus", saya mungkin perlu memberikan satu uraian yang lebih cocok untuk tingkat pelatihan sepenuh waktu dari pada khotbah kamp seperti yang satu ini.
Jadi saya telah mempertimbangkan bagaimana menyederhanakan hal ini. Tetapi dalam menyederhanakan bahan mungkin berarti saya harus berbicara berputar-putar dan pada akhirnya tidak menjelaskan apa yang sesungguhnya yang dimaksudkan dengan tema ini. Izinkan saya mencoba untuk menerangkan sesederhana mungkin.
Pentingnya "Nothingness" (Kekosongan)
Saya akan memulai dengan berbicara tentang "nothingness" (kekosongan).Untuk mengerti tema ini, kita harus mengerti sedikit tentang "nothing" (kosong). Saya tidak mencoba untuk berfilosofi. Sehubungan dengan tema kamp ini, saya akan memusatkan pada arti "nothing" (kosong) dalam Perjanjian Baru.
Mengapa kita harus membicarakan hal ini dengan pokok pembicaraan "nothing" (kosong)? Karena tema kamp kita diambil dari Filipi 1:21 "karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan", dan kita harus memahami kalimat "mati adalah keuntungan" jika kita ingin memahami apa artinya "hidup adalah Kristus". Kedua kalimat ini sama seperti dua sisi dari koin yang sama. Jika "mati adalah keuntungan" tidak berarti apa-apa buat anda, sudah pasti tema dari kamp ini "hidup adalah Kristus" juga akan tidak berarti apa-apa buat anda.
Mati Adalah Keuntungan
"Mati adalah keuntungan" - apakah ini berarti apa-apa kepada anda sekarang? Bagaimana mungkin "mati" adalah keuntungan? Ketika anda mati, anda kehilangan segala-galanya. Sejak kapan kematian berarti keuntungan bagi seseorang? Mati secara harfiah berarti menjadi "nothing" (kosong). Jika anda tidak ada lagi, anda telah menjadi "nothing" (kosong). Anda telah menjadi nol. Jika anda adalah seorang pimpinan sebuah perusahaan, ketika anda mati, apakah anda masih pimpinan bagi perusahaan tersebut? Tentu saja tidak. Tempat anda di perusahaan itu tidak ada lagi. Anda sudah selesai. Jika anda dijadualkan untuk mengambil ujian dan anda mati, apakah itu berarti anda lulus ujian itu? Tentu saja tidak! Anda tidak perlu menjadi seorang jenius untuk memahami hal ini. Jika anda mati, anda tidak dapat menghadiri ujian itu, makanya anda tidak lulus. Jika anda akan berkawin dan anda mati, perkawinan itu dibatalkan. Semuanya dibatalkan. Jika anda hampir mewarisi kekayaan yang besar dan anda mati, anda tidak akan mendapat satu senpun. Nama anda akan dihapuskan dari surat wasiat. Anda tidak ada lagi.
Mati adalah keuntungan? Sedang berbicara tentang apa kita ini? Mati adalah menjadi "nothing" (kosong). Sejauh berkenaan dengan dunia, anda telah habis. Hilang. Kematian menghapus bersih papan tulis sejauh ada hubungannya dengan anda. Nama anda mungkin pernah ada disitu, mungkin sebagai direktur atau eksekutif, atau apa saja, ketika anda mati, nama anda dikeluarkan. Jika anda akan mewarisi sesuatu, nama anda akan dikeluarkan dari daftar wasiat. Mati adalah menjadi "nothing" (kosong). Bagaimana mungkin kematian menjadi keuntungan?
Hal ini sungguh merupakan satu pertentangan (paradoks). Kalau kita tidak mengerti pertentangan (paradoks) ini, bagaimana kita dapat mengerti "hidup adalah Kristus? Dalam ayat ini, kita menemukan dua bagian dalam kalimat yang sama: "hidup adalah Kristus" dan "mati adalah keuntungan". Kalau satu bagian tidak benar, maka bagian yang lain juga tidak benar. Ini merupakan logika dasar. Kalau bagian "mati adalah keuntungan" tidak benar, maka bagian "hidup adalah Kristus" juga tidak benar.
Nol
Mari kita melihat arti secara alkitabiah tentang menjadi "nothing" (kosong). Anda semua pasti pernah melihat angka nol. Bayangkan sebuah lingkaran di sini dan saya akan bertanya kepada anda: Sebuah lingkaran melambangkan apa? Sebuah lingkaran melambangkan nol. Tetapi, sebagai sebuah simbol, apakah lingkaran mempunyai arti yang lain?
Dalam sebuah pernikahan, pasangan yang baru biasanya memberikan kepada masing-masing pasangan sebuah cincin pernikahan sebagai jaminan. Sebuah cincin adalah sebuah lingkaran. Apa artinya ini? Apakah itu berarti bahwa sebagai janji dalam pernikahan untuk tidak memberikan apa-apa kepada pasangan yang lain? Sumpahnya seharusnya berbunyi: Dengan ini saya memberikan kepadamu sebuah cincin yang melambangkan dalam pernikahan ini bahwa saya tidak memberikan apa-apa kepada anda. Nah, ini merupakan ide yang baru! Anda membuat angka nol itu dari emas yang menyaksikan bahwa anda tidak memberikan apa-apa kepada masing-masing pasangan. Anda berjanji untuk tidak memberikan apa-apa. Itukah arti dari cincin itu? Mungkin dalam kehidupan nyata itulah yang terjadi, bahwa anda tidak memberikan apa-apa kepada masing-masing pasangan kecuali sakit kepala.
Apakah yang ditandakan oleh cincin pernikahan itu? Itu merupakan lambang kesempurnaan. Sebuah lingkaran menjadi lambang kasih yang sempurna. Sebuah lingkaran, yang tidak memiliki awal dan akhir, melambangkan kesempurnaan, bahwa dengan komitmen yang total, anda tidak mempertahankan apa-apa dari pasangan anda.
Karena itu kita mempunyai arti ganda yang luar biasa: lingkaran yang melambangkan "nothing" (kosong), dan di lain pihak, juga melambangkan kesempurnaan. Tidakkah ini menakjubkan? Hal ini menyimpulkan ajaran Alkitab tentang pokok ini dengan sempurna.
Tujuh poin tentang "nothingness" (kekosongan) yang juga berarti "perfection" (kesempurnaan)
Saya akan membawa anda untuk mempelajari ajaran Perjanjian Baru tentang tujuh "nothingness" yang melambangkan kesempurnaan.
1. "I Am Nothing" - Aku Tidak Berarti Apa-Apa
Kita menemukan pernyataan ini "I am nothing" atau "Aku tidak berarti sedikitpun" di 2 Korintus 12:11, "Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu." Disini, "nothing" muncul dua kali (di dalam teks Yunani). Disini kita menemukan pernyataan yang penting ini - "Aku tidak berarti sedikitpun".
Juga di Galatia 6:3, rasul Paulus berkata: "Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri." Ini adalah orang yang tidak mengerti bahwa dia tidak berarti apa-apa ketika dia berpikir dia adalah sesuatu.
Lagi di 1 Korintus 13:2, "........tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." Sisi sebaliknya dari pernyataan ini berarti bahwa hanya kasih yang menjadikan kita sesuatu dalam pandangan Allah. Anda tidak menjadi sesuatu dalam pandangan Allah karena anda dapat berbicara dengan bahasa lidah, atau anda dapat bernubuat, atau anda mengetahui segala sesuatu tentang rahasia-rahasia rohani. Tidak satupun dari hal-hal ini yang akan menjadikan anda sesuatu dalam pandangan Allah. Satu-satunya hal yang diperhitungkan sebagai berarti dalam pandangan Allah adalah kasih. Kalau anda dikuasai oleh kasih Allah, dengan demikian anda menjadi sesuatu. Apabila hal itu tidak menjadi bagian dalam hidup anda, di pandangan Allah anda tidak berarti apa-apa.
Ingatlah hal ini apabila kita berbicara tentang Filipi 1:21. Terdapat dua cara untuk memahami dua tipe "nothingness" dalam Perjanjian Baru. Ada "nothing" dalam arti positif, dan ada juga "nothing" dalam arti negatif. Itu berarti, ada arti yang baik dan arti yang jelek tentang "nothingness".
Contoh dari arti yang baik adalah ketika Paulus berkata bahwa dia menyadari bahwa dia tidak berarti apa-apa. Tanpa kesadaran itu, secara rohani anda tidak akan menjadi apa-apa. Dengan kata lain, anda hanya dapat menjadi sesuatu dalam pandangan Allah ketika anda siap untuk menjadi tidak berarti. Bagaimana dapat mengerti hal ini? Hal ini merupakan prinsip pembalikan atau prinsip dwipolaritas. Saya tidak akan membahas hal ini sekarang.
"Nothingness" (Kekosongan) Dan Keselamatan Kita
Sebelum saya melanjutkan, saya perlu menerangkan apa hubungannya semua ini dengan keselamatan. Banyak dari anda telah dibesarkan dalam bentuk kekristenan yang mengatakan bahwa anda diselamatkan melalui percaya kepada Yesus, tanpa dijelaskan lebih lanjut tentang apa artinya percaya kepada Yesus. Apabila seseorang bertanya kepada anda: "Apakah Yesus mati untuk anda?" Anda berkata, "Ya". "Apakah anda percaya Yesus mengasihi anda?" "Ya, tentu saja. Jika Ia mati untukku, pasti Ia mengasihiku." "Jadi anda percaya Yesus, benar?" "Ya." "Anda telah diselamatkan, haleluya." Nah, itu cepat sekali. Hanya membutuhkan beberapa detik untuk menerima keselamatan.
Sekarang, ketika sampai pada persoalan tentang pemuridan, kita berhadapan dengan suatu masalah yang lebih besar. Apakah pengajaran yang standar di gereja masa kini? Dimanakah pemuridan dapat disesuaikan dalam hal ini? Mengapakah Alkitab berkata bahwa anda harus menjadi seorang murid sebelum anda diselamatkan? "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Dapatkah anda diselamatkan tanpa menjadi murid? Jika jawabannya adalah "tidak", kalau begitu apa yang terjadi kepada pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa anda diselamatkan melalui percaya kepada Yesus? Apabila jawabannya adalah "ya", maka apa yang harus kita lakukan dengan tuntutan Yesus yang mutlak untuk menjadi murid-muridNya? Untuk diselamatkan, anda harus menjadi murid dan memikul salib anda untuk mengikuti Dia. Memikul salib artinya berada di jalan menuju penyaliban. Disalibkan berarti mati, dan itu berarti menjadi "nothing" (tidak berarti) bagi dunia (Galatia 6:14). Tetapi kehilangan nyawa dengan jalan ini adalah menemukannya (Matius 10:39, Markus 8:35, Lukas 9:24) dan menemukannya adalah sungguh-sungguh memperolehnya. Oleh karena itu, kematian adalah keuntungan.
Persoalan disini adalah Paulus berkata bahwa dia tidak berarti apa-apa. Mengapa? Supaya Yesus menjadi segalanya. Apakah artinya "Bagiku hidup adalah Kristus"? Artinya adalah aku tidak berarti apa-apa dan Kristus adalah segala-galanya. Buat saya, "hidup" tidak berarti apa-apa kecuali itu berarti Kristus. Apakah itu yang diartikan? Dapatkah anda menyatakan kepada saya arti lain dari ini? Dalam menafsirkan firman Tuhan dengan prosedur eksegese yang teliti, kalimat "hidup adalah Kristus" tidak berarti apa-apa kecuali kalau artinya Kristus menjadi segala-galanya bagi saya, sehingga bagi saya hidup adalah Kristus dan saya tidak berarti apa-apa.
Apakah Ajaran Ini Sangat Tidak Masuk Akal?
Anda mungkin berkata, "Wow! Ini pelajaran yang mengerikan. Bagaimana kalau sedikit Dia dan sedikit aku? Ayo, ini lebih masuk akal. Apakah itu berarti ketika aku menjadi orang Kristen, aku hilang?" Jawabannya, temanku, adalah ya. Masihkah anda ingin dibaptis? Pikirkan hal ini hati-hati. Kalau ada yang salah dengan eksegese saya, tolong tunjukkan pada saya.
"Hidup adalah Kristus" berarti bahwa Kristus adalah segalanya dalam hidup saya. Hidup adalah Kristus. Tidak ada yang lain adalah hidup. "Bagi saya hidup" berarti, sama dengan "Kristus". Kalau kita berkata hidup adalah Kristus, kita artikan hidup sama dengan Kristus dan Kristus sama dengan hidup. Mundur dan maju berada dibawah tanda persamaan . Hal ini merupakan persamaan logika yang sederhana. Itu berarti bahwa saya tidak berarti apa-apa jikalau hidup sama dengan Kristus. Apakah anda mengerti maksud saya? Apakah sulit untuk dimengerti?
Apa yang dikatakan oleh Paulus disini? Tidakkah Filipi 1:21 berlaku untuk semua orang Kristen, untuk anda dan untuk saya? Mungkin di benak kita, moga-moga tidak. Tetapi jika dia sungguh mengatakannya, maka kita ada dalam kesulitan karena kita tidak tahu bagaimana menghidupi ayat ini. Kalau ayat ini tidak berlaku untuk anda dan saya, mengapa ayat itu ada di Perjanjian Baru? Mengapa tidak dicoret saja? Mungkin hal ini untuk orang Kristen yang super. Saya hanya ingin menjadi seorang murid biasa dan saya sudah selangkah lebih maju dari kebanyakan orang Kristen. Jangan meminta lebih banyak dari saya. Dalam pemuridan, saya dapat memiliki definisi saya sendiri. Saya dapat menentukan "bagi aku hidup adalah" sedikit saya dan sedikit Kristus. Dengan rumus ini, saya bisa tenang. Mungkin 70% saya dan 30% Kristus. Kalau tidak cukup, kita dapat mengubahnya menjadi 50% saya dan 50% Kristus.
Secara tepat bagaimana hal ini dapat dipadankan kedalam kehidupan kekristenan? Paulus adalah seorang Kristen yang radikal. Bahkan dia adalah orang yang sangat ekstrim. "Aku tidak berarti apa-apa dan Kristus adalah segalanya". Bagi kita, hal ini tidak praktis dalam kehidupan kekristenan setiap hari, bukan? Lebih praktislah. Dapatkah kita menentukan 50-50? Bagaimana anda dapat menyesuaikan hal ini dengan pernyataan yang lain: "percayalah kepada Tuhan Yesus, maka kamu akan diselamatkan, kamu dan seisi rumahmu" (Kisah Para Rasul 16:31)? Apakah kedua kalimat ini saling ekslusif atau kita harus menerangkan satu dengan yang lain? Jika demikian, yang mana menerangkan yang mana?
Anda berkata hal ini menjadi makin membingungkan. Saya sedang mencoba untuk menjelaskan dengan sesederhana mungkin. Apakah yang saya maksudkan dengan satu menerangkan yang lain? Pertanyaan saya ialah: dapatkah kita mengunakan kalimat dalam Kisah Para Rasul 16:31 untuk menerangkan Filipi 1:21, atau sebaliknya? Jika kita menggunakan Filipi 1:21 untuk menerangkan Kisah 16:31, maka "percaya kepada Tuhan Yesus" mempunyai arti "hidup adalah Kristus". Anda tidak dapat berkata "aku percaya Tuhan Yesus" kecuali anda dapat juga berkata "bagiku hidup adalah Kristus". Definisi dari "percaya" berarti "hidup adalah Kristus". Itulah yang saya maksudkan dengan mengambil ayat ini untuk menerangkan yang lain.
Bagaimana kalau sebaliknya? Dapatkah kita menemukan hasil yang lebih menyenangkan? Sayang sekali jawabannya adalah tidak. Anda mencoba menggunakan kalimat yang satu lagi untuk menerangkan yang satu ini. Mari kita lihat kalau ada cara untuk meringankan pernyataan "hidup adalah Kristus". Bagaimana kita melakukannya? Perhatikan baik-baik kalau ada cara lain untuk meringankan sampai "kepercayaan yang biasa". Anda bisa memakai cara yang mana saja, kalau anda menghubungkan kedua ayat tersebut bersama-sama, hasilnya selalu sama. Kita harus memilih arti yang lebih tinggi. Yang lebih tinggi tidak boleh diturunkan kepada yang lebih rendah. Sangat penting untuk kita menangkap prinsip ini, karena kita berbicara tentang hal yang bersangkutan dengan keselamatan kita.
Apakah Definisi Kita Tentang "Percaya" Cukup Memadai?
Kalau anda berpikir bahwa untuk diselamatkan adalah semata-mata percaya bahwa Yesus mati untuk anda dan ternyata definisi itu tidak memadai, maka keselamatan anda akan hilang. Anda sedang mendasari harapan anda untuk keselamatan dengan dasar yang salah. Anda telah mengizinkan dasar itu dipalsukan untuk disesuaikan dengan definisi anda dan anda sedang menipu diri sendiri.
Seperti yang rasul Paulus katakan, kalau anda berpikir bahwa anda itu sesuatu, yakni anda berpikir anda telah diselamatkan tetapi sebenarnya tidak, maka sesungguhnya anda harus dikasihani. Berapa banyak orang pada masa kini yang berpikir bahwa mereka telah diselamatkan namun pada kenyataannya tidak? Anda dapat mengetahuinya dari kehidupan mereka bahwa mereka belum diselamatkan. Anda tahu dari percakapan mereka bahwa mereka belum. Anda tahu dari cara mereka melakukan segala sesuatu. Meskipun demikian untuk beberapa alasan yang misterius, mereka berpikir bahwa mereka selamat Mereka berpikir bahwa mereka adalah sesuatu, yaitu menjadi milik Kristus, meskipun mereka bukan milikNya. Pada hari terakhir, seperti disebutkan di Matius 7:21, "Aku akan menyuruh mereka enyahlah daripadaKu, Aku tidak mengenal kamu." "Selama ini aku sudah memanggil Engkau Tuhan, Engkau kenal aku." "Tidak, Aku tidak mengenalmu." Mereka berpikir mereka adalah sesuatu.
Mari kita memikirkan tentang hal ini dengan lebih berhati-hati lagi. Bagaimana kalau definisi kita tentang keselamatan salah? Kita mendengar pengajaran ini terus menerus di dalam gereja bahwa keselamatan adalah semata-mata "percaya dan diselamatkan", sedangkan definisi "percaya" tidak ditetapkan oleh Perjanjian Baru, tidak oleh Filipi 1:21, tetapi oleh mereka sendiri semata-mata sebagai suatu kepercayaan bahwa Yesus mati untuk anda. Tidakkah hal ini kedengarannya biasa bagi anda? Bagaimana kalau definisi ini benar-benar tidak selaras dan bahkan salah, saya bertanya kepada anda lagi? Keselamatan anda tergantung pada hal ini. Anda jawablah pertanyaan itu sendiri. Bukan saya yang harus memberitahu anda bagaimana menjawabnya. Saya hanya meminta anda untuk melihat pada Alkitab.
Hanya Ada Satu Macam Orang Kristen Di Dalam Alkitab
Apakah anda yakin dengan jawaban bahwa ada dua level kekristenan? Yang satu adalah orang Kristen kelas rendah yang biasa, orang Kristen yang berkeliling dengan kelas Ekonomi. Anda tetap dapat sampai ke tempat tujuan tetapi anda duduk di kelas Ekonomi. Sedikit tidak nyaman tetapi pada akhirnya anda akan tetap sampai disana. Orang percaya yang biasa-biasa berada dalam kelas Ekonomi ini. Yang satu lagi adalah orang Kristen yang memilih untuk dimuridkan dan memilih kursi empuk. Apakah hal ini menyelesaikan masalah kita? Tentu saja tidak. Tidak ada dua kelas orang Kristen yang berbeda di dalam Alkitab. Saya tidak pernah menemukannya. Jika anda menemukan dua kelas orang Kristen yang berbeda, tolong tunjukkan kepada saya dimana. Saya pasti kehilangan sesuatu dari Alkitab. Ada orang-orang Kristen yang lemah dan yang duniawi, tetapi mereka tidak pernah dibenarkan: mereka dimarahi.
Sebagaimana telah saya tunjukkan, Paulus selalu menggambarkan orang percaya yang benar sebagai orang kudus. Dia tidak mengenal orang Kristen kelas dua. Saya kuatir bahwa kita mereka-reka sendiri orang Kristen yang semacam itu. Jika anda menanyakan kepada gereja, mereka akan berkata bahwa terdapat orang Kristen yang kelas lebih tinggi. Tetapi izinkan saya bertanya kepada anda pertanyaan yang semula: "Jika saya dapat sampai ke Beijing dari Hong Kong dengan memakai kelas Ekonomi, mengapa saya harus merepotkan diri dengan kelas yang lebih tinggi? Apakah karena lebih nyaman?" Jika analogi (kiasan) itu digunakan, hal ini memang tidak masuk akal menurut Perjanjian Baru, karena setiap orang tahu bahwa Perjanjian Baru menunjukkan bahwa orang-orang Kristen "kelas pemuridan" memikul kehidupan yang lebih keras. Tentu saja hanya orang Kristen macam itulah yang dikenal dalam Perjanjian Baru. Kalau kita memutar-balikkan analogi (kiasan) itu dan berkata bahwa anda dapat sampai di Beijing dengan dua kelas, satu adalah kelas Ekonomi (pemuridan), dan yang lain adalah kelas mewah (orang percaya yang mudah), kalau demikian siapa yang ingin pergi dengan kelas Ekonomi dan membayar lebih? Anda pasti gila jika anda memilih kelas ini.
2. "I Have Nothing" - Aku Tidak Punya Apa-Apa
Murid yang sejati tidak mempunyai apa-apa. Murid yang palsu memiliki segala sesuatu yang dia inginkan. Mari kita melihat pada 2 Korintus 6;10, "sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu." Hal ini merupakan satu paradoks dengan kebenaran dwikutub yang penting. Jika anda memiliki segala sesuatu secara rohani, maka anda dapat berkata bahwa anda benar-benar kaya. Tetapi anda tidak memiliki segala sesuatu kecuali anda juga tidak memiliki apa-apa. Mengertikah anda hal itu? Paulus berkata secara harfiah dia miskin dan meskipun demikian dia selalu membuat orang lain kaya. Bagaimana anda dapat menjadi miskin namun memperkaya banyak orang? Itu adalah kekayaan rohani yang anda berikan. Orang yang kaya adalah sangat-sangat miskin secara rohani. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Tetapi, bagi murid yang benar, apakah yang telah dia lakukan? Dia melihat dirinya sendiri tidak memiliki apa-apa. Dia semata-mata seorang pengurus kepada semua yang ada padanya. Dia tidak melihat dirinya sendiri memiliki apa-apa. Seperti murid-murid dalam Kisah Para Rasul, mereka tidak menganggap milik mereka sendiri sebagai milik mereka. Mereka hanyalah pengurus dari apa yang mereka punya. Hanya orang-orang yang memiliki mental seperti ini adalah murid-murid yang sejati. Orang-orang seperti itulah yang kaya secara rohani.
Kita melihat dalam Alkitab sisi negatif dan positif dari tidak memiliki apa-apa. Ada sisi negative di Wahyu 3:17 yang mana sangat cocok sebagai gambaran kondisi rohani zaman ini. "Karena engkau berkata "Aku kaya dan telah memperkaya diriku, dan tidak kekurangan apa-apa", dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat dan malang, buta dan telanjang." Mereka menyangka mereka tidak membutuhkan apa-apa. Pada kenyataannya, mereka tidak memiliki apa-apa. Itu merupakan satu situasi yang tragis. Banyak orang Kristen yang tidak memiliki apa-apa secara rohani. Ada juga orang Kristen yang memiliki segala sesuatu. Hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk menemukan orang Kristen macam apakah yang sedang berbicara dengan anda. Anda berbicara kepada satu macam orang Kristen dan anda melihat kekayaan dalam hidup mereka, dinamika kehidupan mereka. Anda tahu kehidupan mereka penuh. Mereka mungkin tidak memiliki banyak uang dalam dompet mereka. Bukan karena mereka tidak dapat memilikinya. Tetapi karena mereka telah berpaling dari hal-hal itu. Bukan karena mereka tidak bisa memilikinya tetapi mereka melihat diri mereka hanya sebagai pengurus kepada apa saja yang mereka miliki. Semuanya itu ada pada pengendalian Tuhan. Apabila Tuhan berkata untuk menggunakannya untuk tujuan tertentu, dengan senang hati diberikan. Dan meskipun mereka tidak memiliki apa-apa, mereka memiliki kekayaan-kekayaan rohani yang membuat orang lain kaya.
Apakah kehidupan anda memperkaya siapa saja ataukah membuat orang lain miskin? Apabila anda tinggal satu rumah dengan orang lain, apakah kehadiran anda membuat orang lain miskin, membuat orang-orang lain capek, mengambil sukacita dari orang lain, menjengkelkan mereka, dan melelahkan orang lain, atau kehadiran anda di dalam rumah tangga itu memperkaya orang lain? Anda tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Dari itu, anda tahu apakah tema kamp ini mempunyai arti bagi anda atau tidak. Bagi seseorang yang hidup dengan sedemikian sehingga Kristus menjadi hidupnya, orang itu selalu akan memperkaya orang lain. Setelah bersama dengan orang seperti itu, anda pergi dengan perasaan yang diperkaya. Anda merasakan sudah menerima banyak. Tetapi ada orang lain yang kalau anda bersama dengan mereka sebentar saja, anda merasa capek sekali. Mereka mengeringkan anda. Seringkali saya melihat bahwa pemimpin-pemimpin gereja terlalu capek dan lelah. Pasti ada banyak orang-orang miskin secara rohani di dalam gereja yang sudah mengeringkan mereka itu. Dimanakah orang-orang yang baginya "hidup adalah Kristus?" Anda tahu sendiri. Apakah anda macam orang yang memperkaya orang-orang lain atau anda membuat mereka kecapekan?
3. "I Do Nothing" - Aku Tidak Berbuat Apa-Apa
Ya, aku tidak berbuat apa-apa. Apakah artinya ini? Untuk mengerti hal itu, kita dapat membuka dalam Yohanes 8:28, "Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku." Aku tidak berbuat apa-apa, tentu saja tidak dari diriku sendiri. Itu sangatlah penting. Itu merupakan prinsip dasar yang mengendalikan seseorang yang hidupnya adalah Kristus.
Jadi siapakah yang memegang peranan penting dalam mengendalikan hidup kita? Siapakah yang menjadi peran utama yang mengendalikan kehidupan Yesus? Bapa, "Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri." Dorongan yang mengontrol hidup kita adalah Kristus. Itulah yang dimaksudkan. "Bagiku hidup adalah Kristus" berarti Kristuslah yang mengarahkan seluruh segi hidup anda sampai ke hal-hal yang terkecil. Itu tidak berarti anda menjadi robot. Anda tidak dapat menjadi robot karena anda dengan sadar, menurut pilihan anda sendiri, meminta Dia mengarahkan anda. Dengan kata lain, mencari pimpinan merupakan suatu tindakan menurut kehendak anda sendiri. Tidak pernah secara otomatis. Apakah anda melakukannya? Apakah anda bertanya kepada Tuhan apa yang harus anda lakukan, atau apakah anda semata-mata melakukan apa yang anda inginkan dan membuat keputusan-keputusan anda sendiri?
Menjadi orang Kristen pada tingkatan ini dalam Perjanjian Baru merupakan kekristenan dasar. Yaitu menjalani suatu kehidupan yang diarahkan oleh Tuhan sendiri. Itulah yang memerdekakan anda. Itu merupakan sumber kuasa anda. Dia adalah hidup anda karena Dia mengarahkan cara berpikir anda, cara anda melakukan sesuatu, dan apa yang harus anda lakukan. Dapatkah anda berkata dengan jujur bahwa: Aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri?
Mungkin anda berkata bahwa "aku tidak melakukan apa-apa dengan betul". Di dalam rumah tangga, anda menyinggung perasaan setiap orang, dan anda membuat malu setiap orang dalam rumah itu. Memang anda tidak dapat melakukan sesuatu pun dengan betul. Ada orang Kristen yang tidak melakukan apa-apa sama sekali karena, jika mereka melakukan sesuatu, mereka melakukan hal-hal yang salah. Mereka benar-benar membuat orang lain gusar karena mereka tetap melakukan hal yang salah. Anda mau berkata, "Tolonglah, aku memohon agar kamu jangan melakukan apa-apa. Dengan cara ini, paling sedikit, kamu tidak akan menjengkelkan orang lain. Kamu tidak akan menghanguskan nasi, atau merusakkan perabotan. Kamu tidak akan menjatuhkan piring. Tolong jangan melakukan apa-apa. Paling sedikit dengan cara ini, anda tidak berbuat dosa." Setidak-tidaknya, pada tingkatan ini, kita dapat belajar untuk tidak berbuat apa-apa.
Tentu saja menjadi seorang murid berarti lebih daripada tidak melakukan apa-apa dalam pengertian itu. Saya secara pribadi akan sangat puas jika beberapa orang Kristen tertentu mau untuk tidak melakukan apa-apa. Jauh lebih damai jika mereka tidak berbuat apa-apa. Setiap kali mereka membuka mulut mereka, mereka menyatakan hal yang salah. Sangat luarbiasa. Mungkin kita sendiri telah melakukan hal yang sama. Bayangkan betapa damainya dalam suatu pernikahan jika kedua pihak mau menutup mulut. Setidak-tidaknya anda tidak dapat bertengkar jika anda berdua tutup mulut. Setiap kali mereka membuka mulut, mereka bertengkar. Kadang-kadang merupakan berkat untuk menjadi bisu. Anda tidak mendengar dua orang bisu bertengkar. Betapa indahnya.
Coba bayangkan kehidupan orang Kristen yang hidup diatas prinsip tidak melakukan apa-apa dari dirinya sendiri. Tuhan mau kita mengambil satu langkah ke depan dan disitulah masalah kita dimulai. "Aku tidak melakukan apa-apa kecuali apa yang dikatakan Bapa untuk Aku lakukan." Itu tingkat yang terlalu tinggi, bukan? Namun itulah kehidupan kekristenan yang dasar. Itulah yang dimaksudkan dengan percaya kepada Yesus, mempercayai bahwa Dia dapat mengarahkan anda. Untuk mengatakan bahwa saya percaya Yesus yang telah mati untuk saya adalah sama dengan berkata bahwa saya percaya suatu kejadian yang terjadi pada 2000 tahun yang lalu. Apakah Dia masih melakukan sesuatu hari ini? Ya, Dia masih. Dia mengarahkan hidup saya setiap saat dari setiap hari. Beranikah anda menyatakan hal itu? Mari saya katakan pada anda bahwa Yesus anda benar-benar hidup. Beberapa orang percaya pada Yesus yang mati yang telah meninggal 2000 tahun yang lalu. Ia seharusnya telah bangkit dan naik ke surga namun sejak itu tidak melakukan apa-apa.
Kalau kita tidak melakukan apa-apa dari diri sendiri, maka Dialah yang melakukan segala sesuatu. Kalau Dia melakukan segala sesuatu, maka Dia adalah hidup saya. Itulah yang dimaksud dalam Filipi 1:21. Saya berharap setelah khotbah ini, tidak ada yang akan berkata saya belum menjelaskan ayat ini dengan rinci. Jika anda tidak dapat menghidupinya, jangan salahkan saya.
"Aku tidak melakukan apa-apa". Dalam Yohanes 5:30, Yesus berkata, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri." Itu lagi. Itu tidak berarti bahwa Dia tidak mampu melakukannya. Dia telah memilih untuk tidak melakukannya. "Tidak dapat berbuat apa-apa" itu adalah atas kehendak-Nya, atas pilihan-Nya sendiri. "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku." "Tidak dapat berbuat apa-apa" disini justru diartikan sebagai tidak melakukan apa-apa menurut kehendak pribadi kita. Sangat jelas sekali, kehendak Bapalah yang Dia lakukan. Jadi kita terus memakai cara ini di dalam Yohanes 5:19, "Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." Apa yang dikerjakan Bapa, Anak juga mengerjakannya. Itulah yang dimaksudkan dengan "Hidup adalah Allah." Tuhan adalah hidup saya dan Dia mendefinisikan hidup saya. Saya tidak mau melakukan apa-apa selain dari kehendak-Nya. Dapatkah anda menyatakannya dengan jujur? Seperti itukah kehidupan Kristen yang anda hidupi, atau apakah anda berharap untuk diselamatkan oleh semacam pengakuan yang dangkal tentang kepercayaan bahwa Yesus mati untuk anda? Kekristenan semacam ini tidak ada dalam Perjanjian Baru.
Apakah ini terlalu radikal untuk anda? Jika Yesus adalah hidup saya, maka itulah caranya saya harus hidup. Kalau tidak demikian, Yesus bukan hidup saya. Dan kalau Dia bukan hidup saya, maka beritahukan pada saya bagaimana saya dapat diselamatkan! Kita sedang berbicara tentang kehidupan. Hidup adalah keselamatan dan keselamatan adalah hidup. Hanya ini satu-satunya macam keselamatan, satu-satunya macam kehidupan, yang dapat saya lihat dalam Perjanjian Baru.
4. "I Know Nothing" - Aku Tidak Mengetahui Apa-Apa
"Aku tidak mengetahui apa-apa!" - kita bergerak dari satu "nothingness" ke satu "nothingness" yang lain! Kehidupan Kristen adalah tidak mengetahui apa-apa. Sungguh indah, bukan? 1 Korintus 2:2 adalah prinsip yang menuntun kehidupan rasul Paulus, rahasia bagaimana dia hidup. Apa yang ia tahu? Izinkan ia menjawab pertanyaan itu sendiri dari 2 Korintus 2:2, "Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (1 Korintus 2:2).
Paulus selanjutnya mengatakan bahwa dia telah mempelajari filsafat dunia ini. Paulus adalah orang yang terpelajar, begitu terpelajar sehingga ketika dia diadili, hakim itu berkata kepadanya: "Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila. Engkau mengetahui terlalu banyak. Engkau terlalu banyak belajar dan kepandaianmu sudah membuat engkau gila!" (Kisah Para Rasul 26:24). Paulus berkata bahwa ia tidak gila (ayat 25). Ia tahu dengan jelas apa yang dia bicarakan. Mengapa mereka mengira dia gila? Lihatlah ini. Baginya, sejak ia datang kepada Tuhan, satu-satunya hal yang berarti baginya adalah Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Bagian yang menyangkut "Yesus Kristus" kita masih dapat mengerti, tetapi "Dia yang disalibkan", seorang yang mati? Apakah ini? Mungkin ia benar-benar sudah gila. Paulus selanjutnya berkata bahwa Kristus yang disalibkan itu adalah kuasa Allah yang menyelamatkan! Apa? Kristus yang disalibkan? Apa yang sedang ia bicarakan?
Saya tidak akan menjabarkan hal itu sekarang. Cukuplah dengan menyatakan bahwa orang yang hidup menurut prinsip "hidup adalah Kristus" juga memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa. Hal itu tidak berarti bahwa anda akan meninggalkan pengetahuan sekular anda, seperti halnya jika anda dilatih dalam bidang computer, anda tidak akan dengan tiba-tiba tidak mengerti computer sama sekali. Maksudnya adalah pengetahuan semacam itu tidak lagi menentukan cara hidup anda. Sebelumnya itu merupakan segalanya. Anda bangga karena kepandaian dan pengetahuan anda. Anda menganggap diri anda itu sesuatu. Sekarang prinsip yang menuntun kehidupan anda bukan hal-hal itu lagi. Bagi anda, prinsip yang beroperasi dalam hidup anda (yang menentukan pengetahuan anda dan segala sesuatu yang lain) adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus yang ini tidak dipandang terutamanya sebagai Raja dari alam semesta ini. Ia memang seorang Raja tetapi bukan itu yang ditekankan di Perjanjian Baru. Yang ditekankan ialah Yesus Kristus yang rendah hati dan lemah lembut. Itulah yang dimaksudkan dengan "Yesus, yang disalibkan". Bagaimana rendah diri-Nya dan bagaimana lemah lembut-Nya? Ingat kita sedang membicarakan Filipi 1:21. Filipi 2 menyatakan bahwa Ia sama dengan Allah, Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Apa yang telah Ia lakukan? Ia merendahkan diri-Nya untuk turun ke dalam dunia ini. Ia dilahirkan dalam palungan. Itu bukan yang paling rendah. Ia turun jauh lebih rendah lagi dari pada itu. Ia mati dengan kematian sebagai seorang penjahat di atas kayu salib. Begitulah rendahnya Ia merendahkan diri-Nya. Yesus yang inilah, bukan Raja di atas segala raja dengan suatu mahkota di atas kepala, yang kita sedang bicarakan.
Yesus sebagai Raja, secara mengherankan, tidak menjadi pusat dari pengetahuan Paulus. Apa yang menjadi pusat? Yesus yang tidak memakai mahkota di kepala-Nya kecuali mahkota duri. Dapatkah anda mengerti hal ini? Hal ini membawa kita masuk kepada hal-hal yang dalam. Adalah mudah untuk memuliakan Tuhan yang bertakhta di atas alam semesta ini. Itu bukanlah Tuhan yang dimuliakan Paulus. Ia memuliakan Allah yang merendahkan diri-Nya sampai menjadi seorang hamba. Bayangkan apa yang akan terjadi jikalau pikiran seperti ini menguasai pikiran anda. Anda akan menjadi seorang Kristen dengan kualitas yang berbeda, bukanlah semacam orang Kristen yang disebut "power Christian", atau "glory Christian" yang membanggakan Allah sebagai Raja di atas segala raja (meskipun Ia memang demikian), tetapi semacam orang Kristen yang membanggakan Allah yang telah merendahkan diri-Nya lebih rendah dari seorang hamba.
Mentalitas semacam ini menentukan seluruh proses cara berpikir Paulus. Ini adalah semacam kualitas, semacam kerendahan hati, semacam keramahan, semacam kelemah-lembutan di dalam kehidupan seseorang yang tidak dapat dilukiskan. Saya masih mencoba untuk belajar hal ini.
Setiap hari saya merenungkan salib Kristus. Saya tidak merenungkan pada Yesus sebagai Raja di atas segala raja karena hal itu mudah untuk dimengerti. Hal yang membuat saya sulit untuk mengerti adalah Yesus sebagai seorang yang lebih rendah dari seorang hamba, yang membasuh kaki murid-murid-Nya, dan mau mati untuk semua murid-murid-Nya dan untuk kita semua yang telah menjadi murid-murid-Nya, dan yang untuk selamanya berada di surga dengan bekas paku pada tangan-Nya, bekas-bekas luka pada kening-Nya, dan luka tikaman pada hati-Nya. Yesus seperti inilah yang saya berusaha untuk mengerti. Sangat lambat sekali untuk saya mengerti namun saya masih berusaha. Dan Paulus berkata bahwa Yesus seperti inilah yang ia ingin kenal. Mengenal Dia adalah mengerti seluruh rahasia yang ada, dan ia tidak ingin mengetahui yang lainnya lagi.
5. "I Fear Nothing" - Aku Tidak Takut Apa-Apa
Poin yang kelima: aku tidak takut apa-apa. "I fear nothing." Sekarang kekuatan dari manusia rohani mulai muncul. Aku tidak takut apa-apa. Ini adalah hal yang menarik. Di sini sekali lagi, saya mempunyai begitu banyak ayat. Terdapat banyak ayat tentang "jangan takut". Filipi 1:28 "dan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu." Seorang yang memiliki sifat seperti ini adalah orang yang tidak mempunyai rasa takut. Di masa remaja saya, tahukah anda nama apa yang saya pilih untuk tim bola saya? Namanya ialah "Dreadnought". Saya sangat tertarik dengan pengetahuan kemiliteran dan ada sebuah kapal perang yang sangat terkenal namanya "Dreadnought" (artinya "Tidak Gentar") yang dikatakan tidak dapat tenggelam. Jadi dalam bahasa Cina tim kami bernama "Da Wu Wei".
Orang Kristen yang benar tidak takut apa-apa untuk suatu alasan yang sangat sederhana, karena satu-satunya pribadi yang dia takuti adalah Allah. Di Lukas 8:24, ketika Tuhan Yesus berada ditengah-tengah badai dan kapalnya sedang tenggelam, apakah anda melihat sedikit ketakutan pada diri-Nya? Ia sedang tidur dengan nyenyak, tanpa ketakutan. Di sini anda melihat kualitas tidak takut apa-apa. John Wesley begitu terkesan dengan sekelompok orang Kristen yang naik kapal berlayar ke Amerika Utara. Pada waktu itu, seperti begitu banyak dari kita, ia masih belum lahir baru, dan ia melihat orang-orang Kristen ini (yang dikenal sebagai 'pietists' oleh orang-orang Jerman) yang memiliki keyakinan yang demikian rupa di dalam Yesus Kristus sehingga mereka tidak memiliki rasa takut. Kepercayaan mereka menghapuskan rasa takut. Seperti inikah percaya anda kepada Yesus? Apakah ujian sekolah membuat anda cemas? Atau, kesehatan anda membuat anda cemas? Atau, pernikahan anda membuat anda cemas? Segala sesuatu membuat anda cemas. Anda adalah orang Kristen yang takut dan cemas. Kalau anda hidup seperti itu, anda tidak tahu apa artinya menjadi orang Kristen. "Hidup adalah Kristus" berarti anda tidak memiliki rasa takut karena Ia hidup di dalam anda. Tanggung jawab ada pada-Nya.
Saya dapat berbicara tentang hal ini dari pengalaman saya sendiri. Saya hidup hampir tiga tahun di Cina dalam keadaan kemiskinan hina papa. Saya kehilangan segalanya semenjak kedatangan kaum komunis. Tidak satu senpun yang tinggal. Setiap hari, saya harus mempercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya akan bangun setiap pagi tanpa mengetahui sama sekali dari mana saya akan mendapat makanan selanjutnya. Bayangkan hal itu. Saya tidak memiliki uang sama sekali dan hampir tiga tahun hidup seperti itu.
Jika anda bangun pagi tanpa satu sen dalam saku anda, tanpa makan siang apalagi makan malam di hadapan anda untuk minggu-minggu dan bulan-bulan yang akan datang, bagaimanakah kondisi anda? Dapatkah anda rileks dan penuh dengan damai dan sukacita? Hanya kalau Kristus adalah hidup anda. Saya akan bangun pagi dan berkata "Tuhan, inilah anak-Mu. Aku lapar dan tidak ada apa-apa untuk dimakan dan aku juga tidak memiliki uang untuk membeli makan siang. Aku tidak takut. Aku tahu bahwa bagaimanapun Engkau akan mencukupi kebutuhanku hari ini." Pernahkah Ia gagal? Tidak pernah. Mengapa saya memberitakan Injil dengan keyakinan? Karena saya tahu bahwa Allah yang memberi makan dua juta orang di padang gurun dengan manna dari surga, adalah Allah yang sama, yang memberi saya makan setiap hari dan mengatur supaya saya tidak mati kelaparan. Begitulah praktisnya Tuhan saya itu. Kalau seseorang bertanya kepada saya, "Apakah Allah memberi kamu makan ketika kamu lapar?" Jawaban saya ialah: tentu saja. Apakah mungkin Allah yang menciptakan surga dan bumi tidak dapat membuat cukup makanan untuk memberi makan anda? Tidak takut. Saya dapat menjelaskan hal ini dalam waktu yang panjang tapi waktu saya terlalu cepat berlalu.
6. "I Lack Nothing" - Aku Tidak Kekurangan Apa-Apa
Aku tidak kekurangan apa-apa. Apakah secara jasmani atau rohani, orang yang hidup di dalam Kristus memiliki segalanya. Tidak memiliki apa-apa meskipun memiliki segalanya. Ia tidak kekurangan apa-apa. 1 Tesalonika 4:12 "bahwa kamu tidak kekurangan sesuatu apapun." Hiduplah sedemikian sehingga anda tidak kekurangan suatu apapun. Tidak kekurangan apa-apa ini bisa saja karena pemeliharan Tuhan secara langsung, atau apabila situasi mengizinkan, anda juga dapat bekerja dengan tangan anda sendiri (seperti yang dilakukan oleh rasul Paulus) dan mencukupi kebutuhan anda sendiri. Perhatikan bahwa Allah mencukupi kebutuhan saya di China karena tidak ada jalan lain bagi saya untuk memperoleh pendapatan. Tetapi di kemudian hari ketika ada kesempatan bagi saya untuk memperoleh pendapatan saya sendiri, saya tidak begitu manja dan bergantung kepada Tuhan dan berkata, "Engkau dapat mencukupi aku dengan makanan, jadi aku tidak perlu bekerja lagi." Tidak, saya keluar untuk bekerja. Ketika pertama kali saya menjadi gembala sidang di Liverpool, gereja terlalu kecil sehingga mereka tidak dapat membantu saya. Saya katakan kepada mereka bahwa hal itu tidak menjadi masalah buat saya, saya akan mencari pekerjaan. Maka saya keluar untuk mengajar. Saya mengajar dari Senin sampai Jumat dan saya bekerja di gereja hari Sabtu dan Minggu. Sangat tidak Alkitabiah! Saya bekerja tujuh hari dalam seminggu tanpa satu hari pun untuk beristirahat. Setelah enam bulan, Allah di dalam kebaikan-Nya membuat gereja itu bertumbuh dalam jumlah yang cukup besar sehingga mereka mampu memberi saya jumlah yang sama dengan yang saya terima melalui mengajar.
Apakah Allah mencukupi secara langsung atau melalui pekerjaan kita sendiri, yang lebih penting, kita tidak kekurangan sesuatu pun di tingkat rohani. Bagaimana kondisi rohani anda? Apakah anda merasa ada kekosongan dalam batin anda? Apakah anda merasa bahwa setiap hari anda kekurangan sesuatu dalam hidup anda tetapi anda tidak tahu apa kekurangannya? Jawabannya sangat sederhana. Apa yang anda kurang justru adalah tema Kamp ini. Anda belum menerapkan kebenaran rohani ini bahwa Kristus adalah hidup anda. Selama Kristus tidak menjadi hidup anda, percayalah pada saya, anda dapat mencoba semampu anda untuk memenuhi kekosongan dalam hidup anda, itu tidak akan berhasil. Anda akan selalu dihantui oleh kekosongan yang menggangu itu. Tetapi setelah menerima pesan hari ini, jangan pernah berkata anda tidak mengetahui bagaimana mengisi kekosongan itu. Saya telah mengatakan kepada anda apa yang Alkitab ajarkan. Tidak ada cara mudah. Tidak ada cara murah. Tetapi ada cara yang ajaib. Kristus akan memenuhi hidup anda sampai melimpah dan anda tidak akan kekurangan apapun sama sekali.
7. "I Withhold Nothing" - Aku Tidak Menahan Apa-Apa
Karena anda tidak kekurangan apa-apa, anda juga seharusnya tidak menahan apa-apa. Anda memiliki begitu banyak untuk diberikan sehingga anda tidak perlu menahan suatu apapun. Pernahkah anda bertemu orang Kristen yang kelihatannya memiliki sumber-sumber yang tidak ada batasnya? Mereka selalu mempunyai sesuatu untuk diberikan. Mereka begitu kaya sehingga mereka tidak harus menahan apapun. Mereka tidak perlu menjadi kikir.
Kisah Para Rasul 20:20, "dan sekarang aku tidak pernah melalaikan (atau, menahan) apa yang berguna bagi kamu, baik dimuka umum maupun dalam perkumpulan perkumpulan di rumah kamu." Pernahkah anda menahan sesuatu dari Tuhan? Apakah anda mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada Tuhan atau kepada sesama? Apakah kehidupan anda sebuah kehidupan yang kaya? Apakah kehidupan anda kehidupan yang berkuasa? Ketika rasul Paulus berkata kepada jemaat di Efesus di Kisah Para Rasul 20 bahwa dia tidak menahan apa-apa, kualitas apakah yang ada pada orang ini sehingga Tuhan menggoncangkan dunia melaluinya? Kehidupan Kekristenan yang bagaimana yang ingin anda jalani?
Kesimpulan
Sebagai penutup, saya ingin bertanya kepada anda: Kehidupan Kekristenan yang bagaimana yang ingin anda hidupi? Apakah anda ingin menjadi yang biasa, Kristen yang rata-rata, yang tidak begitu baik tapi juga tidak begitu jelek? Atau anda ingin membuat hidup anda dihitung dalam generasi ini, sebagai seseorang yang melaluinya Tuhan dapat mengoncang bukan saja Singapura tetapi seluruh dunia? Allah sedang mencari orang yang seperti ini. Saya kuatir berapa banyak orang Kristen yang hidup menurut pelajaran yang telah kita dapatkan di sini: "bagiku hidup adalah Kristus".
Paulus begitu berkelimpahan sehingga ia berkata adalah suatu sukacita baginya untuk menjadi korban bagi orang lain. Itulah mentalitasnya saat dia menulis 2 Korintus 12:15, "Aku suka mengorbankan segala milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu." Di Roma 9:3, Paulus begitu rela tidak mempertahankan apa-apa, bahkan sampai pada keselamatannya sendiri. Beberapa orang mungkin mau untuk memberikan segala sesuatu kepada anda - kecuali keselamatan mereka. Paulus berkata bahkan keselamatannya sendiri tidak berharga baginya, jika, melalui kebinasaannya, orang lain dapat diselamatkan. Roma 9:3 membuat saya meneteskan air mata: di mana Paulus berkata bahwa jika, melalui kebinasaannya, kaum sebangsanya dapat diselamatkan, ia dengan senang hati akan menyerahkan keselamatannya bagi kesejahteraan kekal mereka. Apa sebenarnya yang sedang dikatakan Paulus? Paulus sedang berkata bahwa ia mau pergi ke neraka kalau bangsa Yahudi dapat pergi ke surga. Berapa banyak dari anda yang berani berkata di sini bahwa anda mau pergi ke neraka kalau orang-orang di Singapore dapat pergi ke surga? Berapa banyak dari kita yang berani berkata kami mau ke neraka kalau orang-orang Indonesia dapat mendengar Injil dan diselamatkan? Dimanakah Allah dapat menemukan orang seperti ini?
Semuanya itu merupakan bagian dari "hidup adalah Kristus". Ini bukanlah semacam kekristenan yang super. Itu hanyalah sebagian dari definisi dari artinya "hidup adalah Kristus".
HIDUP ADALAH KRISTUS
Hidup Adalah Kristus
Yang ketiga dari serangkaian khotbah-khotbah penafsiran 2 Korintus 12:9
"Dalam Kelemahanlah Kuasa-Ku Menjadi Sempurna"
Disampaikan oleh Pastor Eric Chang
Kamp Gereja CDC Singapura
Bagaimana Menerapkan Tema Kamp Ini?
Sebagai bagian dari tema kamp ini "Hidup adalah Kristus", pokok yang ditugaskan kepada saya hari ini adalah: "Strategi untuk menerapkan tema kamp ini".
Dengan "strategi", saya mengira bahwa kita ingin tahu "bagaimana" kita seharusnya menghidupi hidup ini yang adalah Kristus. Sebelum kita dapat sampai pada pokok tentang "bagaimana" menghidupi hidup ini, kita harus mengerti lebih dahulu tentang hidup ini yang harus kita jalani. Tetapi di sinilah masalah saya dimulai, karena untuk menguraikan "hidup adalah Kristus", saya mungkin perlu memberikan satu uraian yang lebih cocok untuk tingkat pelatihan sepenuh waktu dari pada khotbah kamp seperti yang satu ini.
Jadi saya telah mempertimbangkan bagaimana menyederhanakan hal ini. Tetapi dalam menyederhanakan bahan mungkin berarti saya harus berbicara berputar-putar dan pada akhirnya tidak menjelaskan apa yang sesungguhnya yang dimaksudkan dengan tema ini. Izinkan saya mencoba untuk menerangkan sesederhana mungkin.
Pentingnya "Nothingness" (Kekosongan)
Saya akan memulai dengan berbicara tentang "nothingness" (kekosongan).Untuk mengerti tema ini, kita harus mengerti sedikit tentang "nothing" (kosong). Saya tidak mencoba untuk berfilosofi. Sehubungan dengan tema kamp ini, saya akan memusatkan pada arti "nothing" (kosong) dalam Perjanjian Baru.
Mengapa kita harus membicarakan hal ini dengan pokok pembicaraan "nothing" (kosong)? Karena tema kamp kita diambil dari Filipi 1:21 "karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan", dan kita harus memahami kalimat "mati adalah keuntungan" jika kita ingin memahami apa artinya "hidup adalah Kristus". Kedua kalimat ini sama seperti dua sisi dari koin yang sama. Jika "mati adalah keuntungan" tidak berarti apa-apa buat anda, sudah pasti tema dari kamp ini "hidup adalah Kristus" juga akan tidak berarti apa-apa buat anda.
Mati Adalah Keuntungan
"Mati adalah keuntungan" - apakah ini berarti apa-apa kepada anda sekarang? Bagaimana mungkin "mati" adalah keuntungan? Ketika anda mati, anda kehilangan segala-galanya. Sejak kapan kematian berarti keuntungan bagi seseorang? Mati secara harfiah berarti menjadi "nothing" (kosong). Jika anda tidak ada lagi, anda telah menjadi "nothing" (kosong). Anda telah menjadi nol. Jika anda adalah seorang pimpinan sebuah perusahaan, ketika anda mati, apakah anda masih pimpinan bagi perusahaan tersebut? Tentu saja tidak. Tempat anda di perusahaan itu tidak ada lagi. Anda sudah selesai. Jika anda dijadualkan untuk mengambil ujian dan anda mati, apakah itu berarti anda lulus ujian itu? Tentu saja tidak! Anda tidak perlu menjadi seorang jenius untuk memahami hal ini. Jika anda mati, anda tidak dapat menghadiri ujian itu, makanya anda tidak lulus. Jika anda akan berkawin dan anda mati, perkawinan itu dibatalkan. Semuanya dibatalkan. Jika anda hampir mewarisi kekayaan yang besar dan anda mati, anda tidak akan mendapat satu senpun. Nama anda akan dihapuskan dari surat wasiat. Anda tidak ada lagi.
Mati adalah keuntungan? Sedang berbicara tentang apa kita ini? Mati adalah menjadi "nothing" (kosong). Sejauh berkenaan dengan dunia, anda telah habis. Hilang. Kematian menghapus bersih papan tulis sejauh ada hubungannya dengan anda. Nama anda mungkin pernah ada disitu, mungkin sebagai direktur atau eksekutif, atau apa saja, ketika anda mati, nama anda dikeluarkan. Jika anda akan mewarisi sesuatu, nama anda akan dikeluarkan dari daftar wasiat. Mati adalah menjadi "nothing" (kosong). Bagaimana mungkin kematian menjadi keuntungan?
Hal ini sungguh merupakan satu pertentangan (paradoks). Kalau kita tidak mengerti pertentangan (paradoks) ini, bagaimana kita dapat mengerti "hidup adalah Kristus? Dalam ayat ini, kita menemukan dua bagian dalam kalimat yang sama: "hidup adalah Kristus" dan "mati adalah keuntungan". Kalau satu bagian tidak benar, maka bagian yang lain juga tidak benar. Ini merupakan logika dasar. Kalau bagian "mati adalah keuntungan" tidak benar, maka bagian "hidup adalah Kristus" juga tidak benar.
Nol
Mari kita melihat arti secara alkitabiah tentang menjadi "nothing" (kosong). Anda semua pasti pernah melihat angka nol. Bayangkan sebuah lingkaran di sini dan saya akan bertanya kepada anda: Sebuah lingkaran melambangkan apa? Sebuah lingkaran melambangkan nol. Tetapi, sebagai sebuah simbol, apakah lingkaran mempunyai arti yang lain?
Dalam sebuah pernikahan, pasangan yang baru biasanya memberikan kepada masing-masing pasangan sebuah cincin pernikahan sebagai jaminan. Sebuah cincin adalah sebuah lingkaran. Apa artinya ini? Apakah itu berarti bahwa sebagai janji dalam pernikahan untuk tidak memberikan apa-apa kepada pasangan yang lain? Sumpahnya seharusnya berbunyi: Dengan ini saya memberikan kepadamu sebuah cincin yang melambangkan dalam pernikahan ini bahwa saya tidak memberikan apa-apa kepada anda. Nah, ini merupakan ide yang baru! Anda membuat angka nol itu dari emas yang menyaksikan bahwa anda tidak memberikan apa-apa kepada masing-masing pasangan. Anda berjanji untuk tidak memberikan apa-apa. Itukah arti dari cincin itu? Mungkin dalam kehidupan nyata itulah yang terjadi, bahwa anda tidak memberikan apa-apa kepada masing-masing pasangan kecuali sakit kepala.
Apakah yang ditandakan oleh cincin pernikahan itu? Itu merupakan lambang kesempurnaan. Sebuah lingkaran menjadi lambang kasih yang sempurna. Sebuah lingkaran, yang tidak memiliki awal dan akhir, melambangkan kesempurnaan, bahwa dengan komitmen yang total, anda tidak mempertahankan apa-apa dari pasangan anda.
Karena itu kita mempunyai arti ganda yang luar biasa: lingkaran yang melambangkan "nothing" (kosong), dan di lain pihak, juga melambangkan kesempurnaan. Tidakkah ini menakjubkan? Hal ini menyimpulkan ajaran Alkitab tentang pokok ini dengan sempurna.
Tujuh poin tentang "nothingness" (kekosongan) yang juga berarti "perfection" (kesempurnaan)
Saya akan membawa anda untuk mempelajari ajaran Perjanjian Baru tentang tujuh "nothingness" yang melambangkan kesempurnaan.
1. "I Am Nothing" - Aku Tidak Berarti Apa-Apa
Kita menemukan pernyataan ini "I am nothing" atau "Aku tidak berarti sedikitpun" di 2 Korintus 12:11, "Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu." Disini, "nothing" muncul dua kali (di dalam teks Yunani). Disini kita menemukan pernyataan yang penting ini - "Aku tidak berarti sedikitpun".
Juga di Galatia 6:3, rasul Paulus berkata: "Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri." Ini adalah orang yang tidak mengerti bahwa dia tidak berarti apa-apa ketika dia berpikir dia adalah sesuatu.
Lagi di 1 Korintus 13:2, "........tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." Sisi sebaliknya dari pernyataan ini berarti bahwa hanya kasih yang menjadikan kita sesuatu dalam pandangan Allah. Anda tidak menjadi sesuatu dalam pandangan Allah karena anda dapat berbicara dengan bahasa lidah, atau anda dapat bernubuat, atau anda mengetahui segala sesuatu tentang rahasia-rahasia rohani. Tidak satupun dari hal-hal ini yang akan menjadikan anda sesuatu dalam pandangan Allah. Satu-satunya hal yang diperhitungkan sebagai berarti dalam pandangan Allah adalah kasih. Kalau anda dikuasai oleh kasih Allah, dengan demikian anda menjadi sesuatu. Apabila hal itu tidak menjadi bagian dalam hidup anda, di pandangan Allah anda tidak berarti apa-apa.
Ingatlah hal ini apabila kita berbicara tentang Filipi 1:21. Terdapat dua cara untuk memahami dua tipe "nothingness" dalam Perjanjian Baru. Ada "nothing" dalam arti positif, dan ada juga "nothing" dalam arti negatif. Itu berarti, ada arti yang baik dan arti yang jelek tentang "nothingness".
Contoh dari arti yang baik adalah ketika Paulus berkata bahwa dia menyadari bahwa dia tidak berarti apa-apa. Tanpa kesadaran itu, secara rohani anda tidak akan menjadi apa-apa. Dengan kata lain, anda hanya dapat menjadi sesuatu dalam pandangan Allah ketika anda siap untuk menjadi tidak berarti. Bagaimana dapat mengerti hal ini? Hal ini merupakan prinsip pembalikan atau prinsip dwipolaritas. Saya tidak akan membahas hal ini sekarang.
"Nothingness" (Kekosongan) Dan Keselamatan Kita
Sebelum saya melanjutkan, saya perlu menerangkan apa hubungannya semua ini dengan keselamatan. Banyak dari anda telah dibesarkan dalam bentuk kekristenan yang mengatakan bahwa anda diselamatkan melalui percaya kepada Yesus, tanpa dijelaskan lebih lanjut tentang apa artinya percaya kepada Yesus. Apabila seseorang bertanya kepada anda: "Apakah Yesus mati untuk anda?" Anda berkata, "Ya". "Apakah anda percaya Yesus mengasihi anda?" "Ya, tentu saja. Jika Ia mati untukku, pasti Ia mengasihiku." "Jadi anda percaya Yesus, benar?" "Ya." "Anda telah diselamatkan, haleluya." Nah, itu cepat sekali. Hanya membutuhkan beberapa detik untuk menerima keselamatan.
Sekarang, ketika sampai pada persoalan tentang pemuridan, kita berhadapan dengan suatu masalah yang lebih besar. Apakah pengajaran yang standar di gereja masa kini? Dimanakah pemuridan dapat disesuaikan dalam hal ini? Mengapakah Alkitab berkata bahwa anda harus menjadi seorang murid sebelum anda diselamatkan? "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Dapatkah anda diselamatkan tanpa menjadi murid? Jika jawabannya adalah "tidak", kalau begitu apa yang terjadi kepada pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa anda diselamatkan melalui percaya kepada Yesus? Apabila jawabannya adalah "ya", maka apa yang harus kita lakukan dengan tuntutan Yesus yang mutlak untuk menjadi murid-muridNya? Untuk diselamatkan, anda harus menjadi murid dan memikul salib anda untuk mengikuti Dia. Memikul salib artinya berada di jalan menuju penyaliban. Disalibkan berarti mati, dan itu berarti menjadi "nothing" (tidak berarti) bagi dunia (Galatia 6:14). Tetapi kehilangan nyawa dengan jalan ini adalah menemukannya (Matius 10:39, Markus 8:35, Lukas 9:24) dan menemukannya adalah sungguh-sungguh memperolehnya. Oleh karena itu, kematian adalah keuntungan.
Persoalan disini adalah Paulus berkata bahwa dia tidak berarti apa-apa. Mengapa? Supaya Yesus menjadi segalanya. Apakah artinya "Bagiku hidup adalah Kristus"? Artinya adalah aku tidak berarti apa-apa dan Kristus adalah segala-galanya. Buat saya, "hidup" tidak berarti apa-apa kecuali itu berarti Kristus. Apakah itu yang diartikan? Dapatkah anda menyatakan kepada saya arti lain dari ini? Dalam menafsirkan firman Tuhan dengan prosedur eksegese yang teliti, kalimat "hidup adalah Kristus" tidak berarti apa-apa kecuali kalau artinya Kristus menjadi segala-galanya bagi saya, sehingga bagi saya hidup adalah Kristus dan saya tidak berarti apa-apa.
Apakah Ajaran Ini Sangat Tidak Masuk Akal?
Anda mungkin berkata, "Wow! Ini pelajaran yang mengerikan. Bagaimana kalau sedikit Dia dan sedikit aku? Ayo, ini lebih masuk akal. Apakah itu berarti ketika aku menjadi orang Kristen, aku hilang?" Jawabannya, temanku, adalah ya. Masihkah anda ingin dibaptis? Pikirkan hal ini hati-hati. Kalau ada yang salah dengan eksegese saya, tolong tunjukkan pada saya.
"Hidup adalah Kristus" berarti bahwa Kristus adalah segalanya dalam hidup saya. Hidup adalah Kristus. Tidak ada yang lain adalah hidup. "Bagi saya hidup" berarti, sama dengan "Kristus". Kalau kita berkata hidup adalah Kristus, kita artikan hidup sama dengan Kristus dan Kristus sama dengan hidup. Mundur dan maju berada dibawah tanda persamaan . Hal ini merupakan persamaan logika yang sederhana. Itu berarti bahwa saya tidak berarti apa-apa jikalau hidup sama dengan Kristus. Apakah anda mengerti maksud saya? Apakah sulit untuk dimengerti?
Apa yang dikatakan oleh Paulus disini? Tidakkah Filipi 1:21 berlaku untuk semua orang Kristen, untuk anda dan untuk saya? Mungkin di benak kita, moga-moga tidak. Tetapi jika dia sungguh mengatakannya, maka kita ada dalam kesulitan karena kita tidak tahu bagaimana menghidupi ayat ini. Kalau ayat ini tidak berlaku untuk anda dan saya, mengapa ayat itu ada di Perjanjian Baru? Mengapa tidak dicoret saja? Mungkin hal ini untuk orang Kristen yang super. Saya hanya ingin menjadi seorang murid biasa dan saya sudah selangkah lebih maju dari kebanyakan orang Kristen. Jangan meminta lebih banyak dari saya. Dalam pemuridan, saya dapat memiliki definisi saya sendiri. Saya dapat menentukan "bagi aku hidup adalah" sedikit saya dan sedikit Kristus. Dengan rumus ini, saya bisa tenang. Mungkin 70% saya dan 30% Kristus. Kalau tidak cukup, kita dapat mengubahnya menjadi 50% saya dan 50% Kristus.
Secara tepat bagaimana hal ini dapat dipadankan kedalam kehidupan kekristenan? Paulus adalah seorang Kristen yang radikal. Bahkan dia adalah orang yang sangat ekstrim. "Aku tidak berarti apa-apa dan Kristus adalah segalanya". Bagi kita, hal ini tidak praktis dalam kehidupan kekristenan setiap hari, bukan? Lebih praktislah. Dapatkah kita menentukan 50-50? Bagaimana anda dapat menyesuaikan hal ini dengan pernyataan yang lain: "percayalah kepada Tuhan Yesus, maka kamu akan diselamatkan, kamu dan seisi rumahmu" (Kisah Para Rasul 16:31)? Apakah kedua kalimat ini saling ekslusif atau kita harus menerangkan satu dengan yang lain? Jika demikian, yang mana menerangkan yang mana?
Anda berkata hal ini menjadi makin membingungkan. Saya sedang mencoba untuk menjelaskan dengan sesederhana mungkin. Apakah yang saya maksudkan dengan satu menerangkan yang lain? Pertanyaan saya ialah: dapatkah kita mengunakan kalimat dalam Kisah Para Rasul 16:31 untuk menerangkan Filipi 1:21, atau sebaliknya? Jika kita menggunakan Filipi 1:21 untuk menerangkan Kisah 16:31, maka "percaya kepada Tuhan Yesus" mempunyai arti "hidup adalah Kristus". Anda tidak dapat berkata "aku percaya Tuhan Yesus" kecuali anda dapat juga berkata "bagiku hidup adalah Kristus". Definisi dari "percaya" berarti "hidup adalah Kristus". Itulah yang saya maksudkan dengan mengambil ayat ini untuk menerangkan yang lain.
Bagaimana kalau sebaliknya? Dapatkah kita menemukan hasil yang lebih menyenangkan? Sayang sekali jawabannya adalah tidak. Anda mencoba menggunakan kalimat yang satu lagi untuk menerangkan yang satu ini. Mari kita lihat kalau ada cara untuk meringankan pernyataan "hidup adalah Kristus". Bagaimana kita melakukannya? Perhatikan baik-baik kalau ada cara lain untuk meringankan sampai "kepercayaan yang biasa". Anda bisa memakai cara yang mana saja, kalau anda menghubungkan kedua ayat tersebut bersama-sama, hasilnya selalu sama. Kita harus memilih arti yang lebih tinggi. Yang lebih tinggi tidak boleh diturunkan kepada yang lebih rendah. Sangat penting untuk kita menangkap prinsip ini, karena kita berbicara tentang hal yang bersangkutan dengan keselamatan kita.
Apakah Definisi Kita Tentang "Percaya" Cukup Memadai?
Kalau anda berpikir bahwa untuk diselamatkan adalah semata-mata percaya bahwa Yesus mati untuk anda dan ternyata definisi itu tidak memadai, maka keselamatan anda akan hilang. Anda sedang mendasari harapan anda untuk keselamatan dengan dasar yang salah. Anda telah mengizinkan dasar itu dipalsukan untuk disesuaikan dengan definisi anda dan anda sedang menipu diri sendiri.
Seperti yang rasul Paulus katakan, kalau anda berpikir bahwa anda itu sesuatu, yakni anda berpikir anda telah diselamatkan tetapi sebenarnya tidak, maka sesungguhnya anda harus dikasihani. Berapa banyak orang pada masa kini yang berpikir bahwa mereka telah diselamatkan namun pada kenyataannya tidak? Anda dapat mengetahuinya dari kehidupan mereka bahwa mereka belum diselamatkan. Anda tahu dari percakapan mereka bahwa mereka belum. Anda tahu dari cara mereka melakukan segala sesuatu. Meskipun demikian untuk beberapa alasan yang misterius, mereka berpikir bahwa mereka selamat Mereka berpikir bahwa mereka adalah sesuatu, yaitu menjadi milik Kristus, meskipun mereka bukan milikNya. Pada hari terakhir, seperti disebutkan di Matius 7:21, "Aku akan menyuruh mereka enyahlah daripadaKu, Aku tidak mengenal kamu." "Selama ini aku sudah memanggil Engkau Tuhan, Engkau kenal aku." "Tidak, Aku tidak mengenalmu." Mereka berpikir mereka adalah sesuatu.
Mari kita memikirkan tentang hal ini dengan lebih berhati-hati lagi. Bagaimana kalau definisi kita tentang keselamatan salah? Kita mendengar pengajaran ini terus menerus di dalam gereja bahwa keselamatan adalah semata-mata "percaya dan diselamatkan", sedangkan definisi "percaya" tidak ditetapkan oleh Perjanjian Baru, tidak oleh Filipi 1:21, tetapi oleh mereka sendiri semata-mata sebagai suatu kepercayaan bahwa Yesus mati untuk anda. Tidakkah hal ini kedengarannya biasa bagi anda? Bagaimana kalau definisi ini benar-benar tidak selaras dan bahkan salah, saya bertanya kepada anda lagi? Keselamatan anda tergantung pada hal ini. Anda jawablah pertanyaan itu sendiri. Bukan saya yang harus memberitahu anda bagaimana menjawabnya. Saya hanya meminta anda untuk melihat pada Alkitab.
Hanya Ada Satu Macam Orang Kristen Di Dalam Alkitab
Apakah anda yakin dengan jawaban bahwa ada dua level kekristenan? Yang satu adalah orang Kristen kelas rendah yang biasa, orang Kristen yang berkeliling dengan kelas Ekonomi. Anda tetap dapat sampai ke tempat tujuan tetapi anda duduk di kelas Ekonomi. Sedikit tidak nyaman tetapi pada akhirnya anda akan tetap sampai disana. Orang percaya yang biasa-biasa berada dalam kelas Ekonomi ini. Yang satu lagi adalah orang Kristen yang memilih untuk dimuridkan dan memilih kursi empuk. Apakah hal ini menyelesaikan masalah kita? Tentu saja tidak. Tidak ada dua kelas orang Kristen yang berbeda di dalam Alkitab. Saya tidak pernah menemukannya. Jika anda menemukan dua kelas orang Kristen yang berbeda, tolong tunjukkan kepada saya dimana. Saya pasti kehilangan sesuatu dari Alkitab. Ada orang-orang Kristen yang lemah dan yang duniawi, tetapi mereka tidak pernah dibenarkan: mereka dimarahi.
Sebagaimana telah saya tunjukkan, Paulus selalu menggambarkan orang percaya yang benar sebagai orang kudus. Dia tidak mengenal orang Kristen kelas dua. Saya kuatir bahwa kita mereka-reka sendiri orang Kristen yang semacam itu. Jika anda menanyakan kepada gereja, mereka akan berkata bahwa terdapat orang Kristen yang kelas lebih tinggi. Tetapi izinkan saya bertanya kepada anda pertanyaan yang semula: "Jika saya dapat sampai ke Beijing dari Hong Kong dengan memakai kelas Ekonomi, mengapa saya harus merepotkan diri dengan kelas yang lebih tinggi? Apakah karena lebih nyaman?" Jika analogi (kiasan) itu digunakan, hal ini memang tidak masuk akal menurut Perjanjian Baru, karena setiap orang tahu bahwa Perjanjian Baru menunjukkan bahwa orang-orang Kristen "kelas pemuridan" memikul kehidupan yang lebih keras. Tentu saja hanya orang Kristen macam itulah yang dikenal dalam Perjanjian Baru. Kalau kita memutar-balikkan analogi (kiasan) itu dan berkata bahwa anda dapat sampai di Beijing dengan dua kelas, satu adalah kelas Ekonomi (pemuridan), dan yang lain adalah kelas mewah (orang percaya yang mudah), kalau demikian siapa yang ingin pergi dengan kelas Ekonomi dan membayar lebih? Anda pasti gila jika anda memilih kelas ini.
2. "I Have Nothing" - Aku Tidak Punya Apa-Apa
Murid yang sejati tidak mempunyai apa-apa. Murid yang palsu memiliki segala sesuatu yang dia inginkan. Mari kita melihat pada 2 Korintus 6;10, "sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu." Hal ini merupakan satu paradoks dengan kebenaran dwikutub yang penting. Jika anda memiliki segala sesuatu secara rohani, maka anda dapat berkata bahwa anda benar-benar kaya. Tetapi anda tidak memiliki segala sesuatu kecuali anda juga tidak memiliki apa-apa. Mengertikah anda hal itu? Paulus berkata secara harfiah dia miskin dan meskipun demikian dia selalu membuat orang lain kaya. Bagaimana anda dapat menjadi miskin namun memperkaya banyak orang? Itu adalah kekayaan rohani yang anda berikan. Orang yang kaya adalah sangat-sangat miskin secara rohani. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Tetapi, bagi murid yang benar, apakah yang telah dia lakukan? Dia melihat dirinya sendiri tidak memiliki apa-apa. Dia semata-mata seorang pengurus kepada semua yang ada padanya. Dia tidak melihat dirinya sendiri memiliki apa-apa. Seperti murid-murid dalam Kisah Para Rasul, mereka tidak menganggap milik mereka sendiri sebagai milik mereka. Mereka hanyalah pengurus dari apa yang mereka punya. Hanya orang-orang yang memiliki mental seperti ini adalah murid-murid yang sejati. Orang-orang seperti itulah yang kaya secara rohani.
Kita melihat dalam Alkitab sisi negatif dan positif dari tidak memiliki apa-apa. Ada sisi negative di Wahyu 3:17 yang mana sangat cocok sebagai gambaran kondisi rohani zaman ini. "Karena engkau berkata "Aku kaya dan telah memperkaya diriku, dan tidak kekurangan apa-apa", dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat dan malang, buta dan telanjang." Mereka menyangka mereka tidak membutuhkan apa-apa. Pada kenyataannya, mereka tidak memiliki apa-apa. Itu merupakan satu situasi yang tragis. Banyak orang Kristen yang tidak memiliki apa-apa secara rohani. Ada juga orang Kristen yang memiliki segala sesuatu. Hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk menemukan orang Kristen macam apakah yang sedang berbicara dengan anda. Anda berbicara kepada satu macam orang Kristen dan anda melihat kekayaan dalam hidup mereka, dinamika kehidupan mereka. Anda tahu kehidupan mereka penuh. Mereka mungkin tidak memiliki banyak uang dalam dompet mereka. Bukan karena mereka tidak dapat memilikinya. Tetapi karena mereka telah berpaling dari hal-hal itu. Bukan karena mereka tidak bisa memilikinya tetapi mereka melihat diri mereka hanya sebagai pengurus kepada apa saja yang mereka miliki. Semuanya itu ada pada pengendalian Tuhan. Apabila Tuhan berkata untuk menggunakannya untuk tujuan tertentu, dengan senang hati diberikan. Dan meskipun mereka tidak memiliki apa-apa, mereka memiliki kekayaan-kekayaan rohani yang membuat orang lain kaya.
Apakah kehidupan anda memperkaya siapa saja ataukah membuat orang lain miskin? Apabila anda tinggal satu rumah dengan orang lain, apakah kehadiran anda membuat orang lain miskin, membuat orang-orang lain capek, mengambil sukacita dari orang lain, menjengkelkan mereka, dan melelahkan orang lain, atau kehadiran anda di dalam rumah tangga itu memperkaya orang lain? Anda tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Dari itu, anda tahu apakah tema kamp ini mempunyai arti bagi anda atau tidak. Bagi seseorang yang hidup dengan sedemikian sehingga Kristus menjadi hidupnya, orang itu selalu akan memperkaya orang lain. Setelah bersama dengan orang seperti itu, anda pergi dengan perasaan yang diperkaya. Anda merasakan sudah menerima banyak. Tetapi ada orang lain yang kalau anda bersama dengan mereka sebentar saja, anda merasa capek sekali. Mereka mengeringkan anda. Seringkali saya melihat bahwa pemimpin-pemimpin gereja terlalu capek dan lelah. Pasti ada banyak orang-orang miskin secara rohani di dalam gereja yang sudah mengeringkan mereka itu. Dimanakah orang-orang yang baginya "hidup adalah Kristus?" Anda tahu sendiri. Apakah anda macam orang yang memperkaya orang-orang lain atau anda membuat mereka kecapekan?
3. "I Do Nothing" - Aku Tidak Berbuat Apa-Apa
Ya, aku tidak berbuat apa-apa. Apakah artinya ini? Untuk mengerti hal itu, kita dapat membuka dalam Yohanes 8:28, "Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku." Aku tidak berbuat apa-apa, tentu saja tidak dari diriku sendiri. Itu sangatlah penting. Itu merupakan prinsip dasar yang mengendalikan seseorang yang hidupnya adalah Kristus.
Jadi siapakah yang memegang peranan penting dalam mengendalikan hidup kita? Siapakah yang menjadi peran utama yang mengendalikan kehidupan Yesus? Bapa, "Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri." Dorongan yang mengontrol hidup kita adalah Kristus. Itulah yang dimaksudkan. "Bagiku hidup adalah Kristus" berarti Kristuslah yang mengarahkan seluruh segi hidup anda sampai ke hal-hal yang terkecil. Itu tidak berarti anda menjadi robot. Anda tidak dapat menjadi robot karena anda dengan sadar, menurut pilihan anda sendiri, meminta Dia mengarahkan anda. Dengan kata lain, mencari pimpinan merupakan suatu tindakan menurut kehendak anda sendiri. Tidak pernah secara otomatis. Apakah anda melakukannya? Apakah anda bertanya kepada Tuhan apa yang harus anda lakukan, atau apakah anda semata-mata melakukan apa yang anda inginkan dan membuat keputusan-keputusan anda sendiri?
Menjadi orang Kristen pada tingkatan ini dalam Perjanjian Baru merupakan kekristenan dasar. Yaitu menjalani suatu kehidupan yang diarahkan oleh Tuhan sendiri. Itulah yang memerdekakan anda. Itu merupakan sumber kuasa anda. Dia adalah hidup anda karena Dia mengarahkan cara berpikir anda, cara anda melakukan sesuatu, dan apa yang harus anda lakukan. Dapatkah anda berkata dengan jujur bahwa: Aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri?
Mungkin anda berkata bahwa "aku tidak melakukan apa-apa dengan betul". Di dalam rumah tangga, anda menyinggung perasaan setiap orang, dan anda membuat malu setiap orang dalam rumah itu. Memang anda tidak dapat melakukan sesuatu pun dengan betul. Ada orang Kristen yang tidak melakukan apa-apa sama sekali karena, jika mereka melakukan sesuatu, mereka melakukan hal-hal yang salah. Mereka benar-benar membuat orang lain gusar karena mereka tetap melakukan hal yang salah. Anda mau berkata, "Tolonglah, aku memohon agar kamu jangan melakukan apa-apa. Dengan cara ini, paling sedikit, kamu tidak akan menjengkelkan orang lain. Kamu tidak akan menghanguskan nasi, atau merusakkan perabotan. Kamu tidak akan menjatuhkan piring. Tolong jangan melakukan apa-apa. Paling sedikit dengan cara ini, anda tidak berbuat dosa." Setidak-tidaknya, pada tingkatan ini, kita dapat belajar untuk tidak berbuat apa-apa.
Tentu saja menjadi seorang murid berarti lebih daripada tidak melakukan apa-apa dalam pengertian itu. Saya secara pribadi akan sangat puas jika beberapa orang Kristen tertentu mau untuk tidak melakukan apa-apa. Jauh lebih damai jika mereka tidak berbuat apa-apa. Setiap kali mereka membuka mulut mereka, mereka menyatakan hal yang salah. Sangat luarbiasa. Mungkin kita sendiri telah melakukan hal yang sama. Bayangkan betapa damainya dalam suatu pernikahan jika kedua pihak mau menutup mulut. Setidak-tidaknya anda tidak dapat bertengkar jika anda berdua tutup mulut. Setiap kali mereka membuka mulut, mereka bertengkar. Kadang-kadang merupakan berkat untuk menjadi bisu. Anda tidak mendengar dua orang bisu bertengkar. Betapa indahnya.
Coba bayangkan kehidupan orang Kristen yang hidup diatas prinsip tidak melakukan apa-apa dari dirinya sendiri. Tuhan mau kita mengambil satu langkah ke depan dan disitulah masalah kita dimulai. "Aku tidak melakukan apa-apa kecuali apa yang dikatakan Bapa untuk Aku lakukan." Itu tingkat yang terlalu tinggi, bukan? Namun itulah kehidupan kekristenan yang dasar. Itulah yang dimaksudkan dengan percaya kepada Yesus, mempercayai bahwa Dia dapat mengarahkan anda. Untuk mengatakan bahwa saya percaya Yesus yang telah mati untuk saya adalah sama dengan berkata bahwa saya percaya suatu kejadian yang terjadi pada 2000 tahun yang lalu. Apakah Dia masih melakukan sesuatu hari ini? Ya, Dia masih. Dia mengarahkan hidup saya setiap saat dari setiap hari. Beranikah anda menyatakan hal itu? Mari saya katakan pada anda bahwa Yesus anda benar-benar hidup. Beberapa orang percaya pada Yesus yang mati yang telah meninggal 2000 tahun yang lalu. Ia seharusnya telah bangkit dan naik ke surga namun sejak itu tidak melakukan apa-apa.
Kalau kita tidak melakukan apa-apa dari diri sendiri, maka Dialah yang melakukan segala sesuatu. Kalau Dia melakukan segala sesuatu, maka Dia adalah hidup saya. Itulah yang dimaksud dalam Filipi 1:21. Saya berharap setelah khotbah ini, tidak ada yang akan berkata saya belum menjelaskan ayat ini dengan rinci. Jika anda tidak dapat menghidupinya, jangan salahkan saya.
"Aku tidak melakukan apa-apa". Dalam Yohanes 5:30, Yesus berkata, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri." Itu lagi. Itu tidak berarti bahwa Dia tidak mampu melakukannya. Dia telah memilih untuk tidak melakukannya. "Tidak dapat berbuat apa-apa" itu adalah atas kehendak-Nya, atas pilihan-Nya sendiri. "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku." "Tidak dapat berbuat apa-apa" disini justru diartikan sebagai tidak melakukan apa-apa menurut kehendak pribadi kita. Sangat jelas sekali, kehendak Bapalah yang Dia lakukan. Jadi kita terus memakai cara ini di dalam Yohanes 5:19, "Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." Apa yang dikerjakan Bapa, Anak juga mengerjakannya. Itulah yang dimaksudkan dengan "Hidup adalah Allah." Tuhan adalah hidup saya dan Dia mendefinisikan hidup saya. Saya tidak mau melakukan apa-apa selain dari kehendak-Nya. Dapatkah anda menyatakannya dengan jujur? Seperti itukah kehidupan Kristen yang anda hidupi, atau apakah anda berharap untuk diselamatkan oleh semacam pengakuan yang dangkal tentang kepercayaan bahwa Yesus mati untuk anda? Kekristenan semacam ini tidak ada dalam Perjanjian Baru.
Apakah ini terlalu radikal untuk anda? Jika Yesus adalah hidup saya, maka itulah caranya saya harus hidup. Kalau tidak demikian, Yesus bukan hidup saya. Dan kalau Dia bukan hidup saya, maka beritahukan pada saya bagaimana saya dapat diselamatkan! Kita sedang berbicara tentang kehidupan. Hidup adalah keselamatan dan keselamatan adalah hidup. Hanya ini satu-satunya macam keselamatan, satu-satunya macam kehidupan, yang dapat saya lihat dalam Perjanjian Baru.
4. "I Know Nothing" - Aku Tidak Mengetahui Apa-Apa
"Aku tidak mengetahui apa-apa!" - kita bergerak dari satu "nothingness" ke satu "nothingness" yang lain! Kehidupan Kristen adalah tidak mengetahui apa-apa. Sungguh indah, bukan? 1 Korintus 2:2 adalah prinsip yang menuntun kehidupan rasul Paulus, rahasia bagaimana dia hidup. Apa yang ia tahu? Izinkan ia menjawab pertanyaan itu sendiri dari 2 Korintus 2:2, "Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (1 Korintus 2:2).
Paulus selanjutnya mengatakan bahwa dia telah mempelajari filsafat dunia ini. Paulus adalah orang yang terpelajar, begitu terpelajar sehingga ketika dia diadili, hakim itu berkata kepadanya: "Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila. Engkau mengetahui terlalu banyak. Engkau terlalu banyak belajar dan kepandaianmu sudah membuat engkau gila!" (Kisah Para Rasul 26:24). Paulus berkata bahwa ia tidak gila (ayat 25). Ia tahu dengan jelas apa yang dia bicarakan. Mengapa mereka mengira dia gila? Lihatlah ini. Baginya, sejak ia datang kepada Tuhan, satu-satunya hal yang berarti baginya adalah Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Bagian yang menyangkut "Yesus Kristus" kita masih dapat mengerti, tetapi "Dia yang disalibkan", seorang yang mati? Apakah ini? Mungkin ia benar-benar sudah gila. Paulus selanjutnya berkata bahwa Kristus yang disalibkan itu adalah kuasa Allah yang menyelamatkan! Apa? Kristus yang disalibkan? Apa yang sedang ia bicarakan?
Saya tidak akan menjabarkan hal itu sekarang. Cukuplah dengan menyatakan bahwa orang yang hidup menurut prinsip "hidup adalah Kristus" juga memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa. Hal itu tidak berarti bahwa anda akan meninggalkan pengetahuan sekular anda, seperti halnya jika anda dilatih dalam bidang computer, anda tidak akan dengan tiba-tiba tidak mengerti computer sama sekali. Maksudnya adalah pengetahuan semacam itu tidak lagi menentukan cara hidup anda. Sebelumnya itu merupakan segalanya. Anda bangga karena kepandaian dan pengetahuan anda. Anda menganggap diri anda itu sesuatu. Sekarang prinsip yang menuntun kehidupan anda bukan hal-hal itu lagi. Bagi anda, prinsip yang beroperasi dalam hidup anda (yang menentukan pengetahuan anda dan segala sesuatu yang lain) adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus yang ini tidak dipandang terutamanya sebagai Raja dari alam semesta ini. Ia memang seorang Raja tetapi bukan itu yang ditekankan di Perjanjian Baru. Yang ditekankan ialah Yesus Kristus yang rendah hati dan lemah lembut. Itulah yang dimaksudkan dengan "Yesus, yang disalibkan". Bagaimana rendah diri-Nya dan bagaimana lemah lembut-Nya? Ingat kita sedang membicarakan Filipi 1:21. Filipi 2 menyatakan bahwa Ia sama dengan Allah, Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Apa yang telah Ia lakukan? Ia merendahkan diri-Nya untuk turun ke dalam dunia ini. Ia dilahirkan dalam palungan. Itu bukan yang paling rendah. Ia turun jauh lebih rendah lagi dari pada itu. Ia mati dengan kematian sebagai seorang penjahat di atas kayu salib. Begitulah rendahnya Ia merendahkan diri-Nya. Yesus yang inilah, bukan Raja di atas segala raja dengan suatu mahkota di atas kepala, yang kita sedang bicarakan.
Yesus sebagai Raja, secara mengherankan, tidak menjadi pusat dari pengetahuan Paulus. Apa yang menjadi pusat? Yesus yang tidak memakai mahkota di kepala-Nya kecuali mahkota duri. Dapatkah anda mengerti hal ini? Hal ini membawa kita masuk kepada hal-hal yang dalam. Adalah mudah untuk memuliakan Tuhan yang bertakhta di atas alam semesta ini. Itu bukanlah Tuhan yang dimuliakan Paulus. Ia memuliakan Allah yang merendahkan diri-Nya sampai menjadi seorang hamba. Bayangkan apa yang akan terjadi jikalau pikiran seperti ini menguasai pikiran anda. Anda akan menjadi seorang Kristen dengan kualitas yang berbeda, bukanlah semacam orang Kristen yang disebut "power Christian", atau "glory Christian" yang membanggakan Allah sebagai Raja di atas segala raja (meskipun Ia memang demikian), tetapi semacam orang Kristen yang membanggakan Allah yang telah merendahkan diri-Nya lebih rendah dari seorang hamba.
Mentalitas semacam ini menentukan seluruh proses cara berpikir Paulus. Ini adalah semacam kualitas, semacam kerendahan hati, semacam keramahan, semacam kelemah-lembutan di dalam kehidupan seseorang yang tidak dapat dilukiskan. Saya masih mencoba untuk belajar hal ini.
Setiap hari saya merenungkan salib Kristus. Saya tidak merenungkan pada Yesus sebagai Raja di atas segala raja karena hal itu mudah untuk dimengerti. Hal yang membuat saya sulit untuk mengerti adalah Yesus sebagai seorang yang lebih rendah dari seorang hamba, yang membasuh kaki murid-murid-Nya, dan mau mati untuk semua murid-murid-Nya dan untuk kita semua yang telah menjadi murid-murid-Nya, dan yang untuk selamanya berada di surga dengan bekas paku pada tangan-Nya, bekas-bekas luka pada kening-Nya, dan luka tikaman pada hati-Nya. Yesus seperti inilah yang saya berusaha untuk mengerti. Sangat lambat sekali untuk saya mengerti namun saya masih berusaha. Dan Paulus berkata bahwa Yesus seperti inilah yang ia ingin kenal. Mengenal Dia adalah mengerti seluruh rahasia yang ada, dan ia tidak ingin mengetahui yang lainnya lagi.
5. "I Fear Nothing" - Aku Tidak Takut Apa-Apa
Poin yang kelima: aku tidak takut apa-apa. "I fear nothing." Sekarang kekuatan dari manusia rohani mulai muncul. Aku tidak takut apa-apa. Ini adalah hal yang menarik. Di sini sekali lagi, saya mempunyai begitu banyak ayat. Terdapat banyak ayat tentang "jangan takut". Filipi 1:28 "dan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu." Seorang yang memiliki sifat seperti ini adalah orang yang tidak mempunyai rasa takut. Di masa remaja saya, tahukah anda nama apa yang saya pilih untuk tim bola saya? Namanya ialah "Dreadnought". Saya sangat tertarik dengan pengetahuan kemiliteran dan ada sebuah kapal perang yang sangat terkenal namanya "Dreadnought" (artinya "Tidak Gentar") yang dikatakan tidak dapat tenggelam. Jadi dalam bahasa Cina tim kami bernama "Da Wu Wei".
Orang Kristen yang benar tidak takut apa-apa untuk suatu alasan yang sangat sederhana, karena satu-satunya pribadi yang dia takuti adalah Allah. Di Lukas 8:24, ketika Tuhan Yesus berada ditengah-tengah badai dan kapalnya sedang tenggelam, apakah anda melihat sedikit ketakutan pada diri-Nya? Ia sedang tidur dengan nyenyak, tanpa ketakutan. Di sini anda melihat kualitas tidak takut apa-apa. John Wesley begitu terkesan dengan sekelompok orang Kristen yang naik kapal berlayar ke Amerika Utara. Pada waktu itu, seperti begitu banyak dari kita, ia masih belum lahir baru, dan ia melihat orang-orang Kristen ini (yang dikenal sebagai 'pietists' oleh orang-orang Jerman) yang memiliki keyakinan yang demikian rupa di dalam Yesus Kristus sehingga mereka tidak memiliki rasa takut. Kepercayaan mereka menghapuskan rasa takut. Seperti inikah percaya anda kepada Yesus? Apakah ujian sekolah membuat anda cemas? Atau, kesehatan anda membuat anda cemas? Atau, pernikahan anda membuat anda cemas? Segala sesuatu membuat anda cemas. Anda adalah orang Kristen yang takut dan cemas. Kalau anda hidup seperti itu, anda tidak tahu apa artinya menjadi orang Kristen. "Hidup adalah Kristus" berarti anda tidak memiliki rasa takut karena Ia hidup di dalam anda. Tanggung jawab ada pada-Nya.
Saya dapat berbicara tentang hal ini dari pengalaman saya sendiri. Saya hidup hampir tiga tahun di Cina dalam keadaan kemiskinan hina papa. Saya kehilangan segalanya semenjak kedatangan kaum komunis. Tidak satu senpun yang tinggal. Setiap hari, saya harus mempercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya akan bangun setiap pagi tanpa mengetahui sama sekali dari mana saya akan mendapat makanan selanjutnya. Bayangkan hal itu. Saya tidak memiliki uang sama sekali dan hampir tiga tahun hidup seperti itu.
Jika anda bangun pagi tanpa satu sen dalam saku anda, tanpa makan siang apalagi makan malam di hadapan anda untuk minggu-minggu dan bulan-bulan yang akan datang, bagaimanakah kondisi anda? Dapatkah anda rileks dan penuh dengan damai dan sukacita? Hanya kalau Kristus adalah hidup anda. Saya akan bangun pagi dan berkata "Tuhan, inilah anak-Mu. Aku lapar dan tidak ada apa-apa untuk dimakan dan aku juga tidak memiliki uang untuk membeli makan siang. Aku tidak takut. Aku tahu bahwa bagaimanapun Engkau akan mencukupi kebutuhanku hari ini." Pernahkah Ia gagal? Tidak pernah. Mengapa saya memberitakan Injil dengan keyakinan? Karena saya tahu bahwa Allah yang memberi makan dua juta orang di padang gurun dengan manna dari surga, adalah Allah yang sama, yang memberi saya makan setiap hari dan mengatur supaya saya tidak mati kelaparan. Begitulah praktisnya Tuhan saya itu. Kalau seseorang bertanya kepada saya, "Apakah Allah memberi kamu makan ketika kamu lapar?" Jawaban saya ialah: tentu saja. Apakah mungkin Allah yang menciptakan surga dan bumi tidak dapat membuat cukup makanan untuk memberi makan anda? Tidak takut. Saya dapat menjelaskan hal ini dalam waktu yang panjang tapi waktu saya terlalu cepat berlalu.
6. "I Lack Nothing" - Aku Tidak Kekurangan Apa-Apa
Aku tidak kekurangan apa-apa. Apakah secara jasmani atau rohani, orang yang hidup di dalam Kristus memiliki segalanya. Tidak memiliki apa-apa meskipun memiliki segalanya. Ia tidak kekurangan apa-apa. 1 Tesalonika 4:12 "bahwa kamu tidak kekurangan sesuatu apapun." Hiduplah sedemikian sehingga anda tidak kekurangan suatu apapun. Tidak kekurangan apa-apa ini bisa saja karena pemeliharan Tuhan secara langsung, atau apabila situasi mengizinkan, anda juga dapat bekerja dengan tangan anda sendiri (seperti yang dilakukan oleh rasul Paulus) dan mencukupi kebutuhan anda sendiri. Perhatikan bahwa Allah mencukupi kebutuhan saya di China karena tidak ada jalan lain bagi saya untuk memperoleh pendapatan. Tetapi di kemudian hari ketika ada kesempatan bagi saya untuk memperoleh pendapatan saya sendiri, saya tidak begitu manja dan bergantung kepada Tuhan dan berkata, "Engkau dapat mencukupi aku dengan makanan, jadi aku tidak perlu bekerja lagi." Tidak, saya keluar untuk bekerja. Ketika pertama kali saya menjadi gembala sidang di Liverpool, gereja terlalu kecil sehingga mereka tidak dapat membantu saya. Saya katakan kepada mereka bahwa hal itu tidak menjadi masalah buat saya, saya akan mencari pekerjaan. Maka saya keluar untuk mengajar. Saya mengajar dari Senin sampai Jumat dan saya bekerja di gereja hari Sabtu dan Minggu. Sangat tidak Alkitabiah! Saya bekerja tujuh hari dalam seminggu tanpa satu hari pun untuk beristirahat. Setelah enam bulan, Allah di dalam kebaikan-Nya membuat gereja itu bertumbuh dalam jumlah yang cukup besar sehingga mereka mampu memberi saya jumlah yang sama dengan yang saya terima melalui mengajar.
Apakah Allah mencukupi secara langsung atau melalui pekerjaan kita sendiri, yang lebih penting, kita tidak kekurangan sesuatu pun di tingkat rohani. Bagaimana kondisi rohani anda? Apakah anda merasa ada kekosongan dalam batin anda? Apakah anda merasa bahwa setiap hari anda kekurangan sesuatu dalam hidup anda tetapi anda tidak tahu apa kekurangannya? Jawabannya sangat sederhana. Apa yang anda kurang justru adalah tema Kamp ini. Anda belum menerapkan kebenaran rohani ini bahwa Kristus adalah hidup anda. Selama Kristus tidak menjadi hidup anda, percayalah pada saya, anda dapat mencoba semampu anda untuk memenuhi kekosongan dalam hidup anda, itu tidak akan berhasil. Anda akan selalu dihantui oleh kekosongan yang menggangu itu. Tetapi setelah menerima pesan hari ini, jangan pernah berkata anda tidak mengetahui bagaimana mengisi kekosongan itu. Saya telah mengatakan kepada anda apa yang Alkitab ajarkan. Tidak ada cara mudah. Tidak ada cara murah. Tetapi ada cara yang ajaib. Kristus akan memenuhi hidup anda sampai melimpah dan anda tidak akan kekurangan apapun sama sekali.
7. "I Withhold Nothing" - Aku Tidak Menahan Apa-Apa
Karena anda tidak kekurangan apa-apa, anda juga seharusnya tidak menahan apa-apa. Anda memiliki begitu banyak untuk diberikan sehingga anda tidak perlu menahan suatu apapun. Pernahkah anda bertemu orang Kristen yang kelihatannya memiliki sumber-sumber yang tidak ada batasnya? Mereka selalu mempunyai sesuatu untuk diberikan. Mereka begitu kaya sehingga mereka tidak harus menahan apapun. Mereka tidak perlu menjadi kikir.
Kisah Para Rasul 20:20, "dan sekarang aku tidak pernah melalaikan (atau, menahan) apa yang berguna bagi kamu, baik dimuka umum maupun dalam perkumpulan perkumpulan di rumah kamu." Pernahkah anda menahan sesuatu dari Tuhan? Apakah anda mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada Tuhan atau kepada sesama? Apakah kehidupan anda sebuah kehidupan yang kaya? Apakah kehidupan anda kehidupan yang berkuasa? Ketika rasul Paulus berkata kepada jemaat di Efesus di Kisah Para Rasul 20 bahwa dia tidak menahan apa-apa, kualitas apakah yang ada pada orang ini sehingga Tuhan menggoncangkan dunia melaluinya? Kehidupan Kekristenan yang bagaimana yang ingin anda jalani?
Kesimpulan
Sebagai penutup, saya ingin bertanya kepada anda: Kehidupan Kekristenan yang bagaimana yang ingin anda hidupi? Apakah anda ingin menjadi yang biasa, Kristen yang rata-rata, yang tidak begitu baik tapi juga tidak begitu jelek? Atau anda ingin membuat hidup anda dihitung dalam generasi ini, sebagai seseorang yang melaluinya Tuhan dapat mengoncang bukan saja Singapura tetapi seluruh dunia? Allah sedang mencari orang yang seperti ini. Saya kuatir berapa banyak orang Kristen yang hidup menurut pelajaran yang telah kita dapatkan di sini: "bagiku hidup adalah Kristus".
Paulus begitu berkelimpahan sehingga ia berkata adalah suatu sukacita baginya untuk menjadi korban bagi orang lain. Itulah mentalitasnya saat dia menulis 2 Korintus 12:15, "Aku suka mengorbankan segala milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu." Di Roma 9:3, Paulus begitu rela tidak mempertahankan apa-apa, bahkan sampai pada keselamatannya sendiri. Beberapa orang mungkin mau untuk memberikan segala sesuatu kepada anda - kecuali keselamatan mereka. Paulus berkata bahkan keselamatannya sendiri tidak berharga baginya, jika, melalui kebinasaannya, orang lain dapat diselamatkan. Roma 9:3 membuat saya meneteskan air mata: di mana Paulus berkata bahwa jika, melalui kebinasaannya, kaum sebangsanya dapat diselamatkan, ia dengan senang hati akan menyerahkan keselamatannya bagi kesejahteraan kekal mereka. Apa sebenarnya yang sedang dikatakan Paulus? Paulus sedang berkata bahwa ia mau pergi ke neraka kalau bangsa Yahudi dapat pergi ke surga. Berapa banyak dari anda yang berani berkata di sini bahwa anda mau pergi ke neraka kalau orang-orang di Singapore dapat pergi ke surga? Berapa banyak dari kita yang berani berkata kami mau ke neraka kalau orang-orang Indonesia dapat mendengar Injil dan diselamatkan? Dimanakah Allah dapat menemukan orang seperti ini?
Semuanya itu merupakan bagian dari "hidup adalah Kristus". Ini bukanlah semacam kekristenan yang super. Itu hanyalah sebagian dari definisi dari artinya "hidup adalah Kristus".
Yang ketiga dari serangkaian khotbah-khotbah penafsiran 2 Korintus 12:9
"Dalam Kelemahanlah Kuasa-Ku Menjadi Sempurna"
Disampaikan oleh Pastor Eric Chang
Kamp Gereja CDC Singapura
Bagaimana Menerapkan Tema Kamp Ini?
Sebagai bagian dari tema kamp ini "Hidup adalah Kristus", pokok yang ditugaskan kepada saya hari ini adalah: "Strategi untuk menerapkan tema kamp ini".
Dengan "strategi", saya mengira bahwa kita ingin tahu "bagaimana" kita seharusnya menghidupi hidup ini yang adalah Kristus. Sebelum kita dapat sampai pada pokok tentang "bagaimana" menghidupi hidup ini, kita harus mengerti lebih dahulu tentang hidup ini yang harus kita jalani. Tetapi di sinilah masalah saya dimulai, karena untuk menguraikan "hidup adalah Kristus", saya mungkin perlu memberikan satu uraian yang lebih cocok untuk tingkat pelatihan sepenuh waktu dari pada khotbah kamp seperti yang satu ini.
Jadi saya telah mempertimbangkan bagaimana menyederhanakan hal ini. Tetapi dalam menyederhanakan bahan mungkin berarti saya harus berbicara berputar-putar dan pada akhirnya tidak menjelaskan apa yang sesungguhnya yang dimaksudkan dengan tema ini. Izinkan saya mencoba untuk menerangkan sesederhana mungkin.
Pentingnya "Nothingness" (Kekosongan)
Saya akan memulai dengan berbicara tentang "nothingness" (kekosongan).Untuk mengerti tema ini, kita harus mengerti sedikit tentang "nothing" (kosong). Saya tidak mencoba untuk berfilosofi. Sehubungan dengan tema kamp ini, saya akan memusatkan pada arti "nothing" (kosong) dalam Perjanjian Baru.
Mengapa kita harus membicarakan hal ini dengan pokok pembicaraan "nothing" (kosong)? Karena tema kamp kita diambil dari Filipi 1:21 "karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan", dan kita harus memahami kalimat "mati adalah keuntungan" jika kita ingin memahami apa artinya "hidup adalah Kristus". Kedua kalimat ini sama seperti dua sisi dari koin yang sama. Jika "mati adalah keuntungan" tidak berarti apa-apa buat anda, sudah pasti tema dari kamp ini "hidup adalah Kristus" juga akan tidak berarti apa-apa buat anda.
Mati Adalah Keuntungan
"Mati adalah keuntungan" - apakah ini berarti apa-apa kepada anda sekarang? Bagaimana mungkin "mati" adalah keuntungan? Ketika anda mati, anda kehilangan segala-galanya. Sejak kapan kematian berarti keuntungan bagi seseorang? Mati secara harfiah berarti menjadi "nothing" (kosong). Jika anda tidak ada lagi, anda telah menjadi "nothing" (kosong). Anda telah menjadi nol. Jika anda adalah seorang pimpinan sebuah perusahaan, ketika anda mati, apakah anda masih pimpinan bagi perusahaan tersebut? Tentu saja tidak. Tempat anda di perusahaan itu tidak ada lagi. Anda sudah selesai. Jika anda dijadualkan untuk mengambil ujian dan anda mati, apakah itu berarti anda lulus ujian itu? Tentu saja tidak! Anda tidak perlu menjadi seorang jenius untuk memahami hal ini. Jika anda mati, anda tidak dapat menghadiri ujian itu, makanya anda tidak lulus. Jika anda akan berkawin dan anda mati, perkawinan itu dibatalkan. Semuanya dibatalkan. Jika anda hampir mewarisi kekayaan yang besar dan anda mati, anda tidak akan mendapat satu senpun. Nama anda akan dihapuskan dari surat wasiat. Anda tidak ada lagi.
Mati adalah keuntungan? Sedang berbicara tentang apa kita ini? Mati adalah menjadi "nothing" (kosong). Sejauh berkenaan dengan dunia, anda telah habis. Hilang. Kematian menghapus bersih papan tulis sejauh ada hubungannya dengan anda. Nama anda mungkin pernah ada disitu, mungkin sebagai direktur atau eksekutif, atau apa saja, ketika anda mati, nama anda dikeluarkan. Jika anda akan mewarisi sesuatu, nama anda akan dikeluarkan dari daftar wasiat. Mati adalah menjadi "nothing" (kosong). Bagaimana mungkin kematian menjadi keuntungan?
Hal ini sungguh merupakan satu pertentangan (paradoks). Kalau kita tidak mengerti pertentangan (paradoks) ini, bagaimana kita dapat mengerti "hidup adalah Kristus? Dalam ayat ini, kita menemukan dua bagian dalam kalimat yang sama: "hidup adalah Kristus" dan "mati adalah keuntungan". Kalau satu bagian tidak benar, maka bagian yang lain juga tidak benar. Ini merupakan logika dasar. Kalau bagian "mati adalah keuntungan" tidak benar, maka bagian "hidup adalah Kristus" juga tidak benar.
Nol
Mari kita melihat arti secara alkitabiah tentang menjadi "nothing" (kosong). Anda semua pasti pernah melihat angka nol. Bayangkan sebuah lingkaran di sini dan saya akan bertanya kepada anda: Sebuah lingkaran melambangkan apa? Sebuah lingkaran melambangkan nol. Tetapi, sebagai sebuah simbol, apakah lingkaran mempunyai arti yang lain?
Dalam sebuah pernikahan, pasangan yang baru biasanya memberikan kepada masing-masing pasangan sebuah cincin pernikahan sebagai jaminan. Sebuah cincin adalah sebuah lingkaran. Apa artinya ini? Apakah itu berarti bahwa sebagai janji dalam pernikahan untuk tidak memberikan apa-apa kepada pasangan yang lain? Sumpahnya seharusnya berbunyi: Dengan ini saya memberikan kepadamu sebuah cincin yang melambangkan dalam pernikahan ini bahwa saya tidak memberikan apa-apa kepada anda. Nah, ini merupakan ide yang baru! Anda membuat angka nol itu dari emas yang menyaksikan bahwa anda tidak memberikan apa-apa kepada masing-masing pasangan. Anda berjanji untuk tidak memberikan apa-apa. Itukah arti dari cincin itu? Mungkin dalam kehidupan nyata itulah yang terjadi, bahwa anda tidak memberikan apa-apa kepada masing-masing pasangan kecuali sakit kepala.
Apakah yang ditandakan oleh cincin pernikahan itu? Itu merupakan lambang kesempurnaan. Sebuah lingkaran menjadi lambang kasih yang sempurna. Sebuah lingkaran, yang tidak memiliki awal dan akhir, melambangkan kesempurnaan, bahwa dengan komitmen yang total, anda tidak mempertahankan apa-apa dari pasangan anda.
Karena itu kita mempunyai arti ganda yang luar biasa: lingkaran yang melambangkan "nothing" (kosong), dan di lain pihak, juga melambangkan kesempurnaan. Tidakkah ini menakjubkan? Hal ini menyimpulkan ajaran Alkitab tentang pokok ini dengan sempurna.
Tujuh poin tentang "nothingness" (kekosongan) yang juga berarti "perfection" (kesempurnaan)
Saya akan membawa anda untuk mempelajari ajaran Perjanjian Baru tentang tujuh "nothingness" yang melambangkan kesempurnaan.
1. "I Am Nothing" - Aku Tidak Berarti Apa-Apa
Kita menemukan pernyataan ini "I am nothing" atau "Aku tidak berarti sedikitpun" di 2 Korintus 12:11, "Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu." Disini, "nothing" muncul dua kali (di dalam teks Yunani). Disini kita menemukan pernyataan yang penting ini - "Aku tidak berarti sedikitpun".
Juga di Galatia 6:3, rasul Paulus berkata: "Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri." Ini adalah orang yang tidak mengerti bahwa dia tidak berarti apa-apa ketika dia berpikir dia adalah sesuatu.
Lagi di 1 Korintus 13:2, "........tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." Sisi sebaliknya dari pernyataan ini berarti bahwa hanya kasih yang menjadikan kita sesuatu dalam pandangan Allah. Anda tidak menjadi sesuatu dalam pandangan Allah karena anda dapat berbicara dengan bahasa lidah, atau anda dapat bernubuat, atau anda mengetahui segala sesuatu tentang rahasia-rahasia rohani. Tidak satupun dari hal-hal ini yang akan menjadikan anda sesuatu dalam pandangan Allah. Satu-satunya hal yang diperhitungkan sebagai berarti dalam pandangan Allah adalah kasih. Kalau anda dikuasai oleh kasih Allah, dengan demikian anda menjadi sesuatu. Apabila hal itu tidak menjadi bagian dalam hidup anda, di pandangan Allah anda tidak berarti apa-apa.
Ingatlah hal ini apabila kita berbicara tentang Filipi 1:21. Terdapat dua cara untuk memahami dua tipe "nothingness" dalam Perjanjian Baru. Ada "nothing" dalam arti positif, dan ada juga "nothing" dalam arti negatif. Itu berarti, ada arti yang baik dan arti yang jelek tentang "nothingness".
Contoh dari arti yang baik adalah ketika Paulus berkata bahwa dia menyadari bahwa dia tidak berarti apa-apa. Tanpa kesadaran itu, secara rohani anda tidak akan menjadi apa-apa. Dengan kata lain, anda hanya dapat menjadi sesuatu dalam pandangan Allah ketika anda siap untuk menjadi tidak berarti. Bagaimana dapat mengerti hal ini? Hal ini merupakan prinsip pembalikan atau prinsip dwipolaritas. Saya tidak akan membahas hal ini sekarang.
"Nothingness" (Kekosongan) Dan Keselamatan Kita
Sebelum saya melanjutkan, saya perlu menerangkan apa hubungannya semua ini dengan keselamatan. Banyak dari anda telah dibesarkan dalam bentuk kekristenan yang mengatakan bahwa anda diselamatkan melalui percaya kepada Yesus, tanpa dijelaskan lebih lanjut tentang apa artinya percaya kepada Yesus. Apabila seseorang bertanya kepada anda: "Apakah Yesus mati untuk anda?" Anda berkata, "Ya". "Apakah anda percaya Yesus mengasihi anda?" "Ya, tentu saja. Jika Ia mati untukku, pasti Ia mengasihiku." "Jadi anda percaya Yesus, benar?" "Ya." "Anda telah diselamatkan, haleluya." Nah, itu cepat sekali. Hanya membutuhkan beberapa detik untuk menerima keselamatan.
Sekarang, ketika sampai pada persoalan tentang pemuridan, kita berhadapan dengan suatu masalah yang lebih besar. Apakah pengajaran yang standar di gereja masa kini? Dimanakah pemuridan dapat disesuaikan dalam hal ini? Mengapakah Alkitab berkata bahwa anda harus menjadi seorang murid sebelum anda diselamatkan? "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Dapatkah anda diselamatkan tanpa menjadi murid? Jika jawabannya adalah "tidak", kalau begitu apa yang terjadi kepada pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa anda diselamatkan melalui percaya kepada Yesus? Apabila jawabannya adalah "ya", maka apa yang harus kita lakukan dengan tuntutan Yesus yang mutlak untuk menjadi murid-muridNya? Untuk diselamatkan, anda harus menjadi murid dan memikul salib anda untuk mengikuti Dia. Memikul salib artinya berada di jalan menuju penyaliban. Disalibkan berarti mati, dan itu berarti menjadi "nothing" (tidak berarti) bagi dunia (Galatia 6:14). Tetapi kehilangan nyawa dengan jalan ini adalah menemukannya (Matius 10:39, Markus 8:35, Lukas 9:24) dan menemukannya adalah sungguh-sungguh memperolehnya. Oleh karena itu, kematian adalah keuntungan.
Persoalan disini adalah Paulus berkata bahwa dia tidak berarti apa-apa. Mengapa? Supaya Yesus menjadi segalanya. Apakah artinya "Bagiku hidup adalah Kristus"? Artinya adalah aku tidak berarti apa-apa dan Kristus adalah segala-galanya. Buat saya, "hidup" tidak berarti apa-apa kecuali itu berarti Kristus. Apakah itu yang diartikan? Dapatkah anda menyatakan kepada saya arti lain dari ini? Dalam menafsirkan firman Tuhan dengan prosedur eksegese yang teliti, kalimat "hidup adalah Kristus" tidak berarti apa-apa kecuali kalau artinya Kristus menjadi segala-galanya bagi saya, sehingga bagi saya hidup adalah Kristus dan saya tidak berarti apa-apa.
Apakah Ajaran Ini Sangat Tidak Masuk Akal?
Anda mungkin berkata, "Wow! Ini pelajaran yang mengerikan. Bagaimana kalau sedikit Dia dan sedikit aku? Ayo, ini lebih masuk akal. Apakah itu berarti ketika aku menjadi orang Kristen, aku hilang?" Jawabannya, temanku, adalah ya. Masihkah anda ingin dibaptis? Pikirkan hal ini hati-hati. Kalau ada yang salah dengan eksegese saya, tolong tunjukkan pada saya.
"Hidup adalah Kristus" berarti bahwa Kristus adalah segalanya dalam hidup saya. Hidup adalah Kristus. Tidak ada yang lain adalah hidup. "Bagi saya hidup" berarti, sama dengan "Kristus". Kalau kita berkata hidup adalah Kristus, kita artikan hidup sama dengan Kristus dan Kristus sama dengan hidup. Mundur dan maju berada dibawah tanda persamaan . Hal ini merupakan persamaan logika yang sederhana. Itu berarti bahwa saya tidak berarti apa-apa jikalau hidup sama dengan Kristus. Apakah anda mengerti maksud saya? Apakah sulit untuk dimengerti?
Apa yang dikatakan oleh Paulus disini? Tidakkah Filipi 1:21 berlaku untuk semua orang Kristen, untuk anda dan untuk saya? Mungkin di benak kita, moga-moga tidak. Tetapi jika dia sungguh mengatakannya, maka kita ada dalam kesulitan karena kita tidak tahu bagaimana menghidupi ayat ini. Kalau ayat ini tidak berlaku untuk anda dan saya, mengapa ayat itu ada di Perjanjian Baru? Mengapa tidak dicoret saja? Mungkin hal ini untuk orang Kristen yang super. Saya hanya ingin menjadi seorang murid biasa dan saya sudah selangkah lebih maju dari kebanyakan orang Kristen. Jangan meminta lebih banyak dari saya. Dalam pemuridan, saya dapat memiliki definisi saya sendiri. Saya dapat menentukan "bagi aku hidup adalah" sedikit saya dan sedikit Kristus. Dengan rumus ini, saya bisa tenang. Mungkin 70% saya dan 30% Kristus. Kalau tidak cukup, kita dapat mengubahnya menjadi 50% saya dan 50% Kristus.
Secara tepat bagaimana hal ini dapat dipadankan kedalam kehidupan kekristenan? Paulus adalah seorang Kristen yang radikal. Bahkan dia adalah orang yang sangat ekstrim. "Aku tidak berarti apa-apa dan Kristus adalah segalanya". Bagi kita, hal ini tidak praktis dalam kehidupan kekristenan setiap hari, bukan? Lebih praktislah. Dapatkah kita menentukan 50-50? Bagaimana anda dapat menyesuaikan hal ini dengan pernyataan yang lain: "percayalah kepada Tuhan Yesus, maka kamu akan diselamatkan, kamu dan seisi rumahmu" (Kisah Para Rasul 16:31)? Apakah kedua kalimat ini saling ekslusif atau kita harus menerangkan satu dengan yang lain? Jika demikian, yang mana menerangkan yang mana?
Anda berkata hal ini menjadi makin membingungkan. Saya sedang mencoba untuk menjelaskan dengan sesederhana mungkin. Apakah yang saya maksudkan dengan satu menerangkan yang lain? Pertanyaan saya ialah: dapatkah kita mengunakan kalimat dalam Kisah Para Rasul 16:31 untuk menerangkan Filipi 1:21, atau sebaliknya? Jika kita menggunakan Filipi 1:21 untuk menerangkan Kisah 16:31, maka "percaya kepada Tuhan Yesus" mempunyai arti "hidup adalah Kristus". Anda tidak dapat berkata "aku percaya Tuhan Yesus" kecuali anda dapat juga berkata "bagiku hidup adalah Kristus". Definisi dari "percaya" berarti "hidup adalah Kristus". Itulah yang saya maksudkan dengan mengambil ayat ini untuk menerangkan yang lain.
Bagaimana kalau sebaliknya? Dapatkah kita menemukan hasil yang lebih menyenangkan? Sayang sekali jawabannya adalah tidak. Anda mencoba menggunakan kalimat yang satu lagi untuk menerangkan yang satu ini. Mari kita lihat kalau ada cara untuk meringankan pernyataan "hidup adalah Kristus". Bagaimana kita melakukannya? Perhatikan baik-baik kalau ada cara lain untuk meringankan sampai "kepercayaan yang biasa". Anda bisa memakai cara yang mana saja, kalau anda menghubungkan kedua ayat tersebut bersama-sama, hasilnya selalu sama. Kita harus memilih arti yang lebih tinggi. Yang lebih tinggi tidak boleh diturunkan kepada yang lebih rendah. Sangat penting untuk kita menangkap prinsip ini, karena kita berbicara tentang hal yang bersangkutan dengan keselamatan kita.
Apakah Definisi Kita Tentang "Percaya" Cukup Memadai?
Kalau anda berpikir bahwa untuk diselamatkan adalah semata-mata percaya bahwa Yesus mati untuk anda dan ternyata definisi itu tidak memadai, maka keselamatan anda akan hilang. Anda sedang mendasari harapan anda untuk keselamatan dengan dasar yang salah. Anda telah mengizinkan dasar itu dipalsukan untuk disesuaikan dengan definisi anda dan anda sedang menipu diri sendiri.
Seperti yang rasul Paulus katakan, kalau anda berpikir bahwa anda itu sesuatu, yakni anda berpikir anda telah diselamatkan tetapi sebenarnya tidak, maka sesungguhnya anda harus dikasihani. Berapa banyak orang pada masa kini yang berpikir bahwa mereka telah diselamatkan namun pada kenyataannya tidak? Anda dapat mengetahuinya dari kehidupan mereka bahwa mereka belum diselamatkan. Anda tahu dari percakapan mereka bahwa mereka belum. Anda tahu dari cara mereka melakukan segala sesuatu. Meskipun demikian untuk beberapa alasan yang misterius, mereka berpikir bahwa mereka selamat Mereka berpikir bahwa mereka adalah sesuatu, yaitu menjadi milik Kristus, meskipun mereka bukan milikNya. Pada hari terakhir, seperti disebutkan di Matius 7:21, "Aku akan menyuruh mereka enyahlah daripadaKu, Aku tidak mengenal kamu." "Selama ini aku sudah memanggil Engkau Tuhan, Engkau kenal aku." "Tidak, Aku tidak mengenalmu." Mereka berpikir mereka adalah sesuatu.
Mari kita memikirkan tentang hal ini dengan lebih berhati-hati lagi. Bagaimana kalau definisi kita tentang keselamatan salah? Kita mendengar pengajaran ini terus menerus di dalam gereja bahwa keselamatan adalah semata-mata "percaya dan diselamatkan", sedangkan definisi "percaya" tidak ditetapkan oleh Perjanjian Baru, tidak oleh Filipi 1:21, tetapi oleh mereka sendiri semata-mata sebagai suatu kepercayaan bahwa Yesus mati untuk anda. Tidakkah hal ini kedengarannya biasa bagi anda? Bagaimana kalau definisi ini benar-benar tidak selaras dan bahkan salah, saya bertanya kepada anda lagi? Keselamatan anda tergantung pada hal ini. Anda jawablah pertanyaan itu sendiri. Bukan saya yang harus memberitahu anda bagaimana menjawabnya. Saya hanya meminta anda untuk melihat pada Alkitab.
Hanya Ada Satu Macam Orang Kristen Di Dalam Alkitab
Apakah anda yakin dengan jawaban bahwa ada dua level kekristenan? Yang satu adalah orang Kristen kelas rendah yang biasa, orang Kristen yang berkeliling dengan kelas Ekonomi. Anda tetap dapat sampai ke tempat tujuan tetapi anda duduk di kelas Ekonomi. Sedikit tidak nyaman tetapi pada akhirnya anda akan tetap sampai disana. Orang percaya yang biasa-biasa berada dalam kelas Ekonomi ini. Yang satu lagi adalah orang Kristen yang memilih untuk dimuridkan dan memilih kursi empuk. Apakah hal ini menyelesaikan masalah kita? Tentu saja tidak. Tidak ada dua kelas orang Kristen yang berbeda di dalam Alkitab. Saya tidak pernah menemukannya. Jika anda menemukan dua kelas orang Kristen yang berbeda, tolong tunjukkan kepada saya dimana. Saya pasti kehilangan sesuatu dari Alkitab. Ada orang-orang Kristen yang lemah dan yang duniawi, tetapi mereka tidak pernah dibenarkan: mereka dimarahi.
Sebagaimana telah saya tunjukkan, Paulus selalu menggambarkan orang percaya yang benar sebagai orang kudus. Dia tidak mengenal orang Kristen kelas dua. Saya kuatir bahwa kita mereka-reka sendiri orang Kristen yang semacam itu. Jika anda menanyakan kepada gereja, mereka akan berkata bahwa terdapat orang Kristen yang kelas lebih tinggi. Tetapi izinkan saya bertanya kepada anda pertanyaan yang semula: "Jika saya dapat sampai ke Beijing dari Hong Kong dengan memakai kelas Ekonomi, mengapa saya harus merepotkan diri dengan kelas yang lebih tinggi? Apakah karena lebih nyaman?" Jika analogi (kiasan) itu digunakan, hal ini memang tidak masuk akal menurut Perjanjian Baru, karena setiap orang tahu bahwa Perjanjian Baru menunjukkan bahwa orang-orang Kristen "kelas pemuridan" memikul kehidupan yang lebih keras. Tentu saja hanya orang Kristen macam itulah yang dikenal dalam Perjanjian Baru. Kalau kita memutar-balikkan analogi (kiasan) itu dan berkata bahwa anda dapat sampai di Beijing dengan dua kelas, satu adalah kelas Ekonomi (pemuridan), dan yang lain adalah kelas mewah (orang percaya yang mudah), kalau demikian siapa yang ingin pergi dengan kelas Ekonomi dan membayar lebih? Anda pasti gila jika anda memilih kelas ini.
2. "I Have Nothing" - Aku Tidak Punya Apa-Apa
Murid yang sejati tidak mempunyai apa-apa. Murid yang palsu memiliki segala sesuatu yang dia inginkan. Mari kita melihat pada 2 Korintus 6;10, "sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu." Hal ini merupakan satu paradoks dengan kebenaran dwikutub yang penting. Jika anda memiliki segala sesuatu secara rohani, maka anda dapat berkata bahwa anda benar-benar kaya. Tetapi anda tidak memiliki segala sesuatu kecuali anda juga tidak memiliki apa-apa. Mengertikah anda hal itu? Paulus berkata secara harfiah dia miskin dan meskipun demikian dia selalu membuat orang lain kaya. Bagaimana anda dapat menjadi miskin namun memperkaya banyak orang? Itu adalah kekayaan rohani yang anda berikan. Orang yang kaya adalah sangat-sangat miskin secara rohani. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Tetapi, bagi murid yang benar, apakah yang telah dia lakukan? Dia melihat dirinya sendiri tidak memiliki apa-apa. Dia semata-mata seorang pengurus kepada semua yang ada padanya. Dia tidak melihat dirinya sendiri memiliki apa-apa. Seperti murid-murid dalam Kisah Para Rasul, mereka tidak menganggap milik mereka sendiri sebagai milik mereka. Mereka hanyalah pengurus dari apa yang mereka punya. Hanya orang-orang yang memiliki mental seperti ini adalah murid-murid yang sejati. Orang-orang seperti itulah yang kaya secara rohani.
Kita melihat dalam Alkitab sisi negatif dan positif dari tidak memiliki apa-apa. Ada sisi negative di Wahyu 3:17 yang mana sangat cocok sebagai gambaran kondisi rohani zaman ini. "Karena engkau berkata "Aku kaya dan telah memperkaya diriku, dan tidak kekurangan apa-apa", dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat dan malang, buta dan telanjang." Mereka menyangka mereka tidak membutuhkan apa-apa. Pada kenyataannya, mereka tidak memiliki apa-apa. Itu merupakan satu situasi yang tragis. Banyak orang Kristen yang tidak memiliki apa-apa secara rohani. Ada juga orang Kristen yang memiliki segala sesuatu. Hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk menemukan orang Kristen macam apakah yang sedang berbicara dengan anda. Anda berbicara kepada satu macam orang Kristen dan anda melihat kekayaan dalam hidup mereka, dinamika kehidupan mereka. Anda tahu kehidupan mereka penuh. Mereka mungkin tidak memiliki banyak uang dalam dompet mereka. Bukan karena mereka tidak dapat memilikinya. Tetapi karena mereka telah berpaling dari hal-hal itu. Bukan karena mereka tidak bisa memilikinya tetapi mereka melihat diri mereka hanya sebagai pengurus kepada apa saja yang mereka miliki. Semuanya itu ada pada pengendalian Tuhan. Apabila Tuhan berkata untuk menggunakannya untuk tujuan tertentu, dengan senang hati diberikan. Dan meskipun mereka tidak memiliki apa-apa, mereka memiliki kekayaan-kekayaan rohani yang membuat orang lain kaya.
Apakah kehidupan anda memperkaya siapa saja ataukah membuat orang lain miskin? Apabila anda tinggal satu rumah dengan orang lain, apakah kehadiran anda membuat orang lain miskin, membuat orang-orang lain capek, mengambil sukacita dari orang lain, menjengkelkan mereka, dan melelahkan orang lain, atau kehadiran anda di dalam rumah tangga itu memperkaya orang lain? Anda tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Dari itu, anda tahu apakah tema kamp ini mempunyai arti bagi anda atau tidak. Bagi seseorang yang hidup dengan sedemikian sehingga Kristus menjadi hidupnya, orang itu selalu akan memperkaya orang lain. Setelah bersama dengan orang seperti itu, anda pergi dengan perasaan yang diperkaya. Anda merasakan sudah menerima banyak. Tetapi ada orang lain yang kalau anda bersama dengan mereka sebentar saja, anda merasa capek sekali. Mereka mengeringkan anda. Seringkali saya melihat bahwa pemimpin-pemimpin gereja terlalu capek dan lelah. Pasti ada banyak orang-orang miskin secara rohani di dalam gereja yang sudah mengeringkan mereka itu. Dimanakah orang-orang yang baginya "hidup adalah Kristus?" Anda tahu sendiri. Apakah anda macam orang yang memperkaya orang-orang lain atau anda membuat mereka kecapekan?
3. "I Do Nothing" - Aku Tidak Berbuat Apa-Apa
Ya, aku tidak berbuat apa-apa. Apakah artinya ini? Untuk mengerti hal itu, kita dapat membuka dalam Yohanes 8:28, "Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku." Aku tidak berbuat apa-apa, tentu saja tidak dari diriku sendiri. Itu sangatlah penting. Itu merupakan prinsip dasar yang mengendalikan seseorang yang hidupnya adalah Kristus.
Jadi siapakah yang memegang peranan penting dalam mengendalikan hidup kita? Siapakah yang menjadi peran utama yang mengendalikan kehidupan Yesus? Bapa, "Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri." Dorongan yang mengontrol hidup kita adalah Kristus. Itulah yang dimaksudkan. "Bagiku hidup adalah Kristus" berarti Kristuslah yang mengarahkan seluruh segi hidup anda sampai ke hal-hal yang terkecil. Itu tidak berarti anda menjadi robot. Anda tidak dapat menjadi robot karena anda dengan sadar, menurut pilihan anda sendiri, meminta Dia mengarahkan anda. Dengan kata lain, mencari pimpinan merupakan suatu tindakan menurut kehendak anda sendiri. Tidak pernah secara otomatis. Apakah anda melakukannya? Apakah anda bertanya kepada Tuhan apa yang harus anda lakukan, atau apakah anda semata-mata melakukan apa yang anda inginkan dan membuat keputusan-keputusan anda sendiri?
Menjadi orang Kristen pada tingkatan ini dalam Perjanjian Baru merupakan kekristenan dasar. Yaitu menjalani suatu kehidupan yang diarahkan oleh Tuhan sendiri. Itulah yang memerdekakan anda. Itu merupakan sumber kuasa anda. Dia adalah hidup anda karena Dia mengarahkan cara berpikir anda, cara anda melakukan sesuatu, dan apa yang harus anda lakukan. Dapatkah anda berkata dengan jujur bahwa: Aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri?
Mungkin anda berkata bahwa "aku tidak melakukan apa-apa dengan betul". Di dalam rumah tangga, anda menyinggung perasaan setiap orang, dan anda membuat malu setiap orang dalam rumah itu. Memang anda tidak dapat melakukan sesuatu pun dengan betul. Ada orang Kristen yang tidak melakukan apa-apa sama sekali karena, jika mereka melakukan sesuatu, mereka melakukan hal-hal yang salah. Mereka benar-benar membuat orang lain gusar karena mereka tetap melakukan hal yang salah. Anda mau berkata, "Tolonglah, aku memohon agar kamu jangan melakukan apa-apa. Dengan cara ini, paling sedikit, kamu tidak akan menjengkelkan orang lain. Kamu tidak akan menghanguskan nasi, atau merusakkan perabotan. Kamu tidak akan menjatuhkan piring. Tolong jangan melakukan apa-apa. Paling sedikit dengan cara ini, anda tidak berbuat dosa." Setidak-tidaknya, pada tingkatan ini, kita dapat belajar untuk tidak berbuat apa-apa.
Tentu saja menjadi seorang murid berarti lebih daripada tidak melakukan apa-apa dalam pengertian itu. Saya secara pribadi akan sangat puas jika beberapa orang Kristen tertentu mau untuk tidak melakukan apa-apa. Jauh lebih damai jika mereka tidak berbuat apa-apa. Setiap kali mereka membuka mulut mereka, mereka menyatakan hal yang salah. Sangat luarbiasa. Mungkin kita sendiri telah melakukan hal yang sama. Bayangkan betapa damainya dalam suatu pernikahan jika kedua pihak mau menutup mulut. Setidak-tidaknya anda tidak dapat bertengkar jika anda berdua tutup mulut. Setiap kali mereka membuka mulut, mereka bertengkar. Kadang-kadang merupakan berkat untuk menjadi bisu. Anda tidak mendengar dua orang bisu bertengkar. Betapa indahnya.
Coba bayangkan kehidupan orang Kristen yang hidup diatas prinsip tidak melakukan apa-apa dari dirinya sendiri. Tuhan mau kita mengambil satu langkah ke depan dan disitulah masalah kita dimulai. "Aku tidak melakukan apa-apa kecuali apa yang dikatakan Bapa untuk Aku lakukan." Itu tingkat yang terlalu tinggi, bukan? Namun itulah kehidupan kekristenan yang dasar. Itulah yang dimaksudkan dengan percaya kepada Yesus, mempercayai bahwa Dia dapat mengarahkan anda. Untuk mengatakan bahwa saya percaya Yesus yang telah mati untuk saya adalah sama dengan berkata bahwa saya percaya suatu kejadian yang terjadi pada 2000 tahun yang lalu. Apakah Dia masih melakukan sesuatu hari ini? Ya, Dia masih. Dia mengarahkan hidup saya setiap saat dari setiap hari. Beranikah anda menyatakan hal itu? Mari saya katakan pada anda bahwa Yesus anda benar-benar hidup. Beberapa orang percaya pada Yesus yang mati yang telah meninggal 2000 tahun yang lalu. Ia seharusnya telah bangkit dan naik ke surga namun sejak itu tidak melakukan apa-apa.
Kalau kita tidak melakukan apa-apa dari diri sendiri, maka Dialah yang melakukan segala sesuatu. Kalau Dia melakukan segala sesuatu, maka Dia adalah hidup saya. Itulah yang dimaksud dalam Filipi 1:21. Saya berharap setelah khotbah ini, tidak ada yang akan berkata saya belum menjelaskan ayat ini dengan rinci. Jika anda tidak dapat menghidupinya, jangan salahkan saya.
"Aku tidak melakukan apa-apa". Dalam Yohanes 5:30, Yesus berkata, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri." Itu lagi. Itu tidak berarti bahwa Dia tidak mampu melakukannya. Dia telah memilih untuk tidak melakukannya. "Tidak dapat berbuat apa-apa" itu adalah atas kehendak-Nya, atas pilihan-Nya sendiri. "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku." "Tidak dapat berbuat apa-apa" disini justru diartikan sebagai tidak melakukan apa-apa menurut kehendak pribadi kita. Sangat jelas sekali, kehendak Bapalah yang Dia lakukan. Jadi kita terus memakai cara ini di dalam Yohanes 5:19, "Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." Apa yang dikerjakan Bapa, Anak juga mengerjakannya. Itulah yang dimaksudkan dengan "Hidup adalah Allah." Tuhan adalah hidup saya dan Dia mendefinisikan hidup saya. Saya tidak mau melakukan apa-apa selain dari kehendak-Nya. Dapatkah anda menyatakannya dengan jujur? Seperti itukah kehidupan Kristen yang anda hidupi, atau apakah anda berharap untuk diselamatkan oleh semacam pengakuan yang dangkal tentang kepercayaan bahwa Yesus mati untuk anda? Kekristenan semacam ini tidak ada dalam Perjanjian Baru.
Apakah ini terlalu radikal untuk anda? Jika Yesus adalah hidup saya, maka itulah caranya saya harus hidup. Kalau tidak demikian, Yesus bukan hidup saya. Dan kalau Dia bukan hidup saya, maka beritahukan pada saya bagaimana saya dapat diselamatkan! Kita sedang berbicara tentang kehidupan. Hidup adalah keselamatan dan keselamatan adalah hidup. Hanya ini satu-satunya macam keselamatan, satu-satunya macam kehidupan, yang dapat saya lihat dalam Perjanjian Baru.
4. "I Know Nothing" - Aku Tidak Mengetahui Apa-Apa
"Aku tidak mengetahui apa-apa!" - kita bergerak dari satu "nothingness" ke satu "nothingness" yang lain! Kehidupan Kristen adalah tidak mengetahui apa-apa. Sungguh indah, bukan? 1 Korintus 2:2 adalah prinsip yang menuntun kehidupan rasul Paulus, rahasia bagaimana dia hidup. Apa yang ia tahu? Izinkan ia menjawab pertanyaan itu sendiri dari 2 Korintus 2:2, "Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (1 Korintus 2:2).
Paulus selanjutnya mengatakan bahwa dia telah mempelajari filsafat dunia ini. Paulus adalah orang yang terpelajar, begitu terpelajar sehingga ketika dia diadili, hakim itu berkata kepadanya: "Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila. Engkau mengetahui terlalu banyak. Engkau terlalu banyak belajar dan kepandaianmu sudah membuat engkau gila!" (Kisah Para Rasul 26:24). Paulus berkata bahwa ia tidak gila (ayat 25). Ia tahu dengan jelas apa yang dia bicarakan. Mengapa mereka mengira dia gila? Lihatlah ini. Baginya, sejak ia datang kepada Tuhan, satu-satunya hal yang berarti baginya adalah Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Bagian yang menyangkut "Yesus Kristus" kita masih dapat mengerti, tetapi "Dia yang disalibkan", seorang yang mati? Apakah ini? Mungkin ia benar-benar sudah gila. Paulus selanjutnya berkata bahwa Kristus yang disalibkan itu adalah kuasa Allah yang menyelamatkan! Apa? Kristus yang disalibkan? Apa yang sedang ia bicarakan?
Saya tidak akan menjabarkan hal itu sekarang. Cukuplah dengan menyatakan bahwa orang yang hidup menurut prinsip "hidup adalah Kristus" juga memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa. Hal itu tidak berarti bahwa anda akan meninggalkan pengetahuan sekular anda, seperti halnya jika anda dilatih dalam bidang computer, anda tidak akan dengan tiba-tiba tidak mengerti computer sama sekali. Maksudnya adalah pengetahuan semacam itu tidak lagi menentukan cara hidup anda. Sebelumnya itu merupakan segalanya. Anda bangga karena kepandaian dan pengetahuan anda. Anda menganggap diri anda itu sesuatu. Sekarang prinsip yang menuntun kehidupan anda bukan hal-hal itu lagi. Bagi anda, prinsip yang beroperasi dalam hidup anda (yang menentukan pengetahuan anda dan segala sesuatu yang lain) adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus yang ini tidak dipandang terutamanya sebagai Raja dari alam semesta ini. Ia memang seorang Raja tetapi bukan itu yang ditekankan di Perjanjian Baru. Yang ditekankan ialah Yesus Kristus yang rendah hati dan lemah lembut. Itulah yang dimaksudkan dengan "Yesus, yang disalibkan". Bagaimana rendah diri-Nya dan bagaimana lemah lembut-Nya? Ingat kita sedang membicarakan Filipi 1:21. Filipi 2 menyatakan bahwa Ia sama dengan Allah, Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Apa yang telah Ia lakukan? Ia merendahkan diri-Nya untuk turun ke dalam dunia ini. Ia dilahirkan dalam palungan. Itu bukan yang paling rendah. Ia turun jauh lebih rendah lagi dari pada itu. Ia mati dengan kematian sebagai seorang penjahat di atas kayu salib. Begitulah rendahnya Ia merendahkan diri-Nya. Yesus yang inilah, bukan Raja di atas segala raja dengan suatu mahkota di atas kepala, yang kita sedang bicarakan.
Yesus sebagai Raja, secara mengherankan, tidak menjadi pusat dari pengetahuan Paulus. Apa yang menjadi pusat? Yesus yang tidak memakai mahkota di kepala-Nya kecuali mahkota duri. Dapatkah anda mengerti hal ini? Hal ini membawa kita masuk kepada hal-hal yang dalam. Adalah mudah untuk memuliakan Tuhan yang bertakhta di atas alam semesta ini. Itu bukanlah Tuhan yang dimuliakan Paulus. Ia memuliakan Allah yang merendahkan diri-Nya sampai menjadi seorang hamba. Bayangkan apa yang akan terjadi jikalau pikiran seperti ini menguasai pikiran anda. Anda akan menjadi seorang Kristen dengan kualitas yang berbeda, bukanlah semacam orang Kristen yang disebut "power Christian", atau "glory Christian" yang membanggakan Allah sebagai Raja di atas segala raja (meskipun Ia memang demikian), tetapi semacam orang Kristen yang membanggakan Allah yang telah merendahkan diri-Nya lebih rendah dari seorang hamba.
Mentalitas semacam ini menentukan seluruh proses cara berpikir Paulus. Ini adalah semacam kualitas, semacam kerendahan hati, semacam keramahan, semacam kelemah-lembutan di dalam kehidupan seseorang yang tidak dapat dilukiskan. Saya masih mencoba untuk belajar hal ini.
Setiap hari saya merenungkan salib Kristus. Saya tidak merenungkan pada Yesus sebagai Raja di atas segala raja karena hal itu mudah untuk dimengerti. Hal yang membuat saya sulit untuk mengerti adalah Yesus sebagai seorang yang lebih rendah dari seorang hamba, yang membasuh kaki murid-murid-Nya, dan mau mati untuk semua murid-murid-Nya dan untuk kita semua yang telah menjadi murid-murid-Nya, dan yang untuk selamanya berada di surga dengan bekas paku pada tangan-Nya, bekas-bekas luka pada kening-Nya, dan luka tikaman pada hati-Nya. Yesus seperti inilah yang saya berusaha untuk mengerti. Sangat lambat sekali untuk saya mengerti namun saya masih berusaha. Dan Paulus berkata bahwa Yesus seperti inilah yang ia ingin kenal. Mengenal Dia adalah mengerti seluruh rahasia yang ada, dan ia tidak ingin mengetahui yang lainnya lagi.
5. "I Fear Nothing" - Aku Tidak Takut Apa-Apa
Poin yang kelima: aku tidak takut apa-apa. "I fear nothing." Sekarang kekuatan dari manusia rohani mulai muncul. Aku tidak takut apa-apa. Ini adalah hal yang menarik. Di sini sekali lagi, saya mempunyai begitu banyak ayat. Terdapat banyak ayat tentang "jangan takut". Filipi 1:28 "dan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu." Seorang yang memiliki sifat seperti ini adalah orang yang tidak mempunyai rasa takut. Di masa remaja saya, tahukah anda nama apa yang saya pilih untuk tim bola saya? Namanya ialah "Dreadnought". Saya sangat tertarik dengan pengetahuan kemiliteran dan ada sebuah kapal perang yang sangat terkenal namanya "Dreadnought" (artinya "Tidak Gentar") yang dikatakan tidak dapat tenggelam. Jadi dalam bahasa Cina tim kami bernama "Da Wu Wei".
Orang Kristen yang benar tidak takut apa-apa untuk suatu alasan yang sangat sederhana, karena satu-satunya pribadi yang dia takuti adalah Allah. Di Lukas 8:24, ketika Tuhan Yesus berada ditengah-tengah badai dan kapalnya sedang tenggelam, apakah anda melihat sedikit ketakutan pada diri-Nya? Ia sedang tidur dengan nyenyak, tanpa ketakutan. Di sini anda melihat kualitas tidak takut apa-apa. John Wesley begitu terkesan dengan sekelompok orang Kristen yang naik kapal berlayar ke Amerika Utara. Pada waktu itu, seperti begitu banyak dari kita, ia masih belum lahir baru, dan ia melihat orang-orang Kristen ini (yang dikenal sebagai 'pietists' oleh orang-orang Jerman) yang memiliki keyakinan yang demikian rupa di dalam Yesus Kristus sehingga mereka tidak memiliki rasa takut. Kepercayaan mereka menghapuskan rasa takut. Seperti inikah percaya anda kepada Yesus? Apakah ujian sekolah membuat anda cemas? Atau, kesehatan anda membuat anda cemas? Atau, pernikahan anda membuat anda cemas? Segala sesuatu membuat anda cemas. Anda adalah orang Kristen yang takut dan cemas. Kalau anda hidup seperti itu, anda tidak tahu apa artinya menjadi orang Kristen. "Hidup adalah Kristus" berarti anda tidak memiliki rasa takut karena Ia hidup di dalam anda. Tanggung jawab ada pada-Nya.
Saya dapat berbicara tentang hal ini dari pengalaman saya sendiri. Saya hidup hampir tiga tahun di Cina dalam keadaan kemiskinan hina papa. Saya kehilangan segalanya semenjak kedatangan kaum komunis. Tidak satu senpun yang tinggal. Setiap hari, saya harus mempercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya akan bangun setiap pagi tanpa mengetahui sama sekali dari mana saya akan mendapat makanan selanjutnya. Bayangkan hal itu. Saya tidak memiliki uang sama sekali dan hampir tiga tahun hidup seperti itu.
Jika anda bangun pagi tanpa satu sen dalam saku anda, tanpa makan siang apalagi makan malam di hadapan anda untuk minggu-minggu dan bulan-bulan yang akan datang, bagaimanakah kondisi anda? Dapatkah anda rileks dan penuh dengan damai dan sukacita? Hanya kalau Kristus adalah hidup anda. Saya akan bangun pagi dan berkata "Tuhan, inilah anak-Mu. Aku lapar dan tidak ada apa-apa untuk dimakan dan aku juga tidak memiliki uang untuk membeli makan siang. Aku tidak takut. Aku tahu bahwa bagaimanapun Engkau akan mencukupi kebutuhanku hari ini." Pernahkah Ia gagal? Tidak pernah. Mengapa saya memberitakan Injil dengan keyakinan? Karena saya tahu bahwa Allah yang memberi makan dua juta orang di padang gurun dengan manna dari surga, adalah Allah yang sama, yang memberi saya makan setiap hari dan mengatur supaya saya tidak mati kelaparan. Begitulah praktisnya Tuhan saya itu. Kalau seseorang bertanya kepada saya, "Apakah Allah memberi kamu makan ketika kamu lapar?" Jawaban saya ialah: tentu saja. Apakah mungkin Allah yang menciptakan surga dan bumi tidak dapat membuat cukup makanan untuk memberi makan anda? Tidak takut. Saya dapat menjelaskan hal ini dalam waktu yang panjang tapi waktu saya terlalu cepat berlalu.
6. "I Lack Nothing" - Aku Tidak Kekurangan Apa-Apa
Aku tidak kekurangan apa-apa. Apakah secara jasmani atau rohani, orang yang hidup di dalam Kristus memiliki segalanya. Tidak memiliki apa-apa meskipun memiliki segalanya. Ia tidak kekurangan apa-apa. 1 Tesalonika 4:12 "bahwa kamu tidak kekurangan sesuatu apapun." Hiduplah sedemikian sehingga anda tidak kekurangan suatu apapun. Tidak kekurangan apa-apa ini bisa saja karena pemeliharan Tuhan secara langsung, atau apabila situasi mengizinkan, anda juga dapat bekerja dengan tangan anda sendiri (seperti yang dilakukan oleh rasul Paulus) dan mencukupi kebutuhan anda sendiri. Perhatikan bahwa Allah mencukupi kebutuhan saya di China karena tidak ada jalan lain bagi saya untuk memperoleh pendapatan. Tetapi di kemudian hari ketika ada kesempatan bagi saya untuk memperoleh pendapatan saya sendiri, saya tidak begitu manja dan bergantung kepada Tuhan dan berkata, "Engkau dapat mencukupi aku dengan makanan, jadi aku tidak perlu bekerja lagi." Tidak, saya keluar untuk bekerja. Ketika pertama kali saya menjadi gembala sidang di Liverpool, gereja terlalu kecil sehingga mereka tidak dapat membantu saya. Saya katakan kepada mereka bahwa hal itu tidak menjadi masalah buat saya, saya akan mencari pekerjaan. Maka saya keluar untuk mengajar. Saya mengajar dari Senin sampai Jumat dan saya bekerja di gereja hari Sabtu dan Minggu. Sangat tidak Alkitabiah! Saya bekerja tujuh hari dalam seminggu tanpa satu hari pun untuk beristirahat. Setelah enam bulan, Allah di dalam kebaikan-Nya membuat gereja itu bertumbuh dalam jumlah yang cukup besar sehingga mereka mampu memberi saya jumlah yang sama dengan yang saya terima melalui mengajar.
Apakah Allah mencukupi secara langsung atau melalui pekerjaan kita sendiri, yang lebih penting, kita tidak kekurangan sesuatu pun di tingkat rohani. Bagaimana kondisi rohani anda? Apakah anda merasa ada kekosongan dalam batin anda? Apakah anda merasa bahwa setiap hari anda kekurangan sesuatu dalam hidup anda tetapi anda tidak tahu apa kekurangannya? Jawabannya sangat sederhana. Apa yang anda kurang justru adalah tema Kamp ini. Anda belum menerapkan kebenaran rohani ini bahwa Kristus adalah hidup anda. Selama Kristus tidak menjadi hidup anda, percayalah pada saya, anda dapat mencoba semampu anda untuk memenuhi kekosongan dalam hidup anda, itu tidak akan berhasil. Anda akan selalu dihantui oleh kekosongan yang menggangu itu. Tetapi setelah menerima pesan hari ini, jangan pernah berkata anda tidak mengetahui bagaimana mengisi kekosongan itu. Saya telah mengatakan kepada anda apa yang Alkitab ajarkan. Tidak ada cara mudah. Tidak ada cara murah. Tetapi ada cara yang ajaib. Kristus akan memenuhi hidup anda sampai melimpah dan anda tidak akan kekurangan apapun sama sekali.
7. "I Withhold Nothing" - Aku Tidak Menahan Apa-Apa
Karena anda tidak kekurangan apa-apa, anda juga seharusnya tidak menahan apa-apa. Anda memiliki begitu banyak untuk diberikan sehingga anda tidak perlu menahan suatu apapun. Pernahkah anda bertemu orang Kristen yang kelihatannya memiliki sumber-sumber yang tidak ada batasnya? Mereka selalu mempunyai sesuatu untuk diberikan. Mereka begitu kaya sehingga mereka tidak harus menahan apapun. Mereka tidak perlu menjadi kikir.
Kisah Para Rasul 20:20, "dan sekarang aku tidak pernah melalaikan (atau, menahan) apa yang berguna bagi kamu, baik dimuka umum maupun dalam perkumpulan perkumpulan di rumah kamu." Pernahkah anda menahan sesuatu dari Tuhan? Apakah anda mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada Tuhan atau kepada sesama? Apakah kehidupan anda sebuah kehidupan yang kaya? Apakah kehidupan anda kehidupan yang berkuasa? Ketika rasul Paulus berkata kepada jemaat di Efesus di Kisah Para Rasul 20 bahwa dia tidak menahan apa-apa, kualitas apakah yang ada pada orang ini sehingga Tuhan menggoncangkan dunia melaluinya? Kehidupan Kekristenan yang bagaimana yang ingin anda jalani?
Kesimpulan
Sebagai penutup, saya ingin bertanya kepada anda: Kehidupan Kekristenan yang bagaimana yang ingin anda hidupi? Apakah anda ingin menjadi yang biasa, Kristen yang rata-rata, yang tidak begitu baik tapi juga tidak begitu jelek? Atau anda ingin membuat hidup anda dihitung dalam generasi ini, sebagai seseorang yang melaluinya Tuhan dapat mengoncang bukan saja Singapura tetapi seluruh dunia? Allah sedang mencari orang yang seperti ini. Saya kuatir berapa banyak orang Kristen yang hidup menurut pelajaran yang telah kita dapatkan di sini: "bagiku hidup adalah Kristus".
Paulus begitu berkelimpahan sehingga ia berkata adalah suatu sukacita baginya untuk menjadi korban bagi orang lain. Itulah mentalitasnya saat dia menulis 2 Korintus 12:15, "Aku suka mengorbankan segala milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu." Di Roma 9:3, Paulus begitu rela tidak mempertahankan apa-apa, bahkan sampai pada keselamatannya sendiri. Beberapa orang mungkin mau untuk memberikan segala sesuatu kepada anda - kecuali keselamatan mereka. Paulus berkata bahkan keselamatannya sendiri tidak berharga baginya, jika, melalui kebinasaannya, orang lain dapat diselamatkan. Roma 9:3 membuat saya meneteskan air mata: di mana Paulus berkata bahwa jika, melalui kebinasaannya, kaum sebangsanya dapat diselamatkan, ia dengan senang hati akan menyerahkan keselamatannya bagi kesejahteraan kekal mereka. Apa sebenarnya yang sedang dikatakan Paulus? Paulus sedang berkata bahwa ia mau pergi ke neraka kalau bangsa Yahudi dapat pergi ke surga. Berapa banyak dari anda yang berani berkata di sini bahwa anda mau pergi ke neraka kalau orang-orang di Singapore dapat pergi ke surga? Berapa banyak dari kita yang berani berkata kami mau ke neraka kalau orang-orang Indonesia dapat mendengar Injil dan diselamatkan? Dimanakah Allah dapat menemukan orang seperti ini?
Semuanya itu merupakan bagian dari "hidup adalah Kristus". Ini bukanlah semacam kekristenan yang super. Itu hanyalah sebagian dari definisi dari artinya "hidup adalah Kristus".
Langganan:
Komentar (Atom)