Pdt. Jonson W Laulaka, S.Th Kekuatan Doa Hancurkan Kuasa Gelap
Tahun 1989 adalah tahun paling istimewa buat Pdt. Jonson W Laulaka, S.Th., di mana rahmat Tuhan datang mengetuk dan menjamah dirinya. Di tengah sibuknya Jon—begitu ia disapa—mengikuti perkuliahan di Universitas Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), ketukan Tuhan itu terdengar melalui ajakan seorang teman agar dirinya
masuk anggota “Papelma”, sebuah persekutuan doa mahasiswa. Dalam persekutuan doa inilah dia mengalami pertobatan radikal, menerima kehendak Yesus terjadi atasnya. Di sini pulalah dia benar-benar mengalami pembaharuan hidup baru dalam Roh Tuhan.
September tahun itu, pria kelahiran 9 Januari 1969 ini, ia mengalami mukjizat, yaitu malaikat Allah menjamah dan menumpangkan tangan di kepalanya, serta memberi visi kepadanya dalam Wahyu 12 dan Hosea 2 mengenai syafaat dan peperangan rohani. Menanggapi panggilan Tuhan itu, tahun 1990 ia meninggalkan studi, dan pergi berdoa untuk kota-kota dan pulau-pulau di NTT dan Timor Timur (Timtim). Semangat doanya makin membara dengan berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. “Saya mau berdoa bagi daerah atau kota ini.” Begitu dia selalu mengatakan kepada hamba Tuhan yang menerima kedatangannya di daerah atau kota.
Intensi doa yang diucapkan suami Deborah Ello ini berdasarkan visi Allah. Setidaknya ada empat intensi doa yang sering dilantunkannya pada Tuhan: Pertama, Tuhan memintanya mendoakan pertobatan sebagai anak Tuhan. Kedua, pemulihan keyakinan dari perilaku atau kebiasaan penyembahan berhala, yang masih banyak ditemukan pada masyarakat daerah hingga kini. Ketiga, penunggu atau penguasa yang diyakini tinggal di tempat-tempat angker dihancurkan. Misalnya, ada sekelomok masyarakat yang punya keyakinan bahwa sumber mata air ada penunggunya, dan ketika airnya kering orang lalu membawa persembahan memohon kepada penunggu air itu agar kembali memunculkan mata air. “Adanya kekuatan dan keyakinan seperti ini harus dilenyapkan,” katanya. Keempat, pulau-pulau harus dibebaskan dari penderitaan, kelaparan, banjir, atau musibah apa pun.
Tahun 1994, ayah tiga anak ini terdorong mengikuti training di YWAM, sekolah Alkitab terbesar dan termahal di Amerika yang ada di Dili, ibu kota Timtim, yang kini negara Timor Lorosae. Di sana pun, selain konsen pada training, dia tak lupa berdoa pada Tuhan bagi Timtim. Usai training, dia kembali sepenuhnya tenggelam dalam doa. Selama enam tahun berdoa bagi NTT dan Timtim, sungguh-sungguh dirasakannya penyertaan Roh Kudus. Selain itu, dia mengadakan pelatihan dan sekolah doa di pelbagai tempat, seperti NTT, Timtim, Kendari, Tangerang, Medan, Pematang Siantar, Tarutung, Parapat, Balige, dan Samosir.
Tepat Juni 1996, Jon yang melanjutkan studi penginjil selama setahun di Sekolah Seminari Bethel, Jakarta ini kembali mendapat visi dari Allah untuk berdoa bagi pemerintah, pemilu, dan gereja di Indonesia. Dalam pelayanannya, Tuhan membawanya untuk mengadakan doa pemulihan, pelepasan, kesembuhan bagi pribadi, keluarga, rumah, gereja, dan perusahaan.
Sudah banyak pengalaman yang jadi nyata akan kebesaran mukjizat Tuhan melalui Pendeta Jon. Berbagai penyakit disembuhkannya melalui doa, bahkan penderita sakit yang sudah ditolak dokter. “Dalam nama Tuhan Yesus doa kita menjadikannya sembuh dan sehat kembali,” katanya. Beberapa contoh, seorang ibu sudah menikah namun belum punya anak, kanker, malaria, tuli, ayan, kejiwaan, kerasukan, dan sakit karena disantet.
Selain itu, rumah atau perusahaan yang diyakini ada penunggunya (roh jahat), Pendeta Jon dapat mengusirnya. Sebuah perusahaan tekstil ternama di Tangerang, menjadi saksi kedahsyatan karya Tuhan melalui Pendeta Jon. “Masih banyak perusahaan milik orang Kristen lain yang sudah memohon doa kita untuk melepaskan diri dari cengkeraman setan atau dukun yang dikirim orang menghancurkan perusahaan itu,” ujarnya.
Pendeta yang merintis Gereja Bethel di Ruko Taman Elang, Tangerang, mengakui bahwa menjadi pelayan Tuhan tak mengenal waktu. “Entah malam hari kita dibutuhkan jemaat yang sakit misalnya, maka langsung meluncur,” jelasnya. Sebut misalnya, beberapa bulan lalu, berkat doanya, seorang wanita jemaat sebuah gereja, terbebas dari cengkeraman Nyai Roro Kidul, yang disebut-sebut sebagai penguasa Ratu Pantai Selatan. Sebelumnya hidup wanita itu tidak merasa tenang karena selalu diserang Nyai Roro. Kini, wanita itu sudah kembali hidup tenang dan sehat.
Semoga pak jhonson selalu diberkati untuk jadi berkat luar biasa buat sesama. Senang pernah mendapingi beliau..
BalasHapus